Aroma Penolakan 6000 Kapal Nelayan Asal Jawa Mulai Bergaung di Natuna

0
576
Kapal Natuna yang hanya memiliki kapasitas kecil.

Natuna – Adanya keinginan Presiden RI, Jokowi untuk menyebarkan 6000 nelayan asal pesisir Pulau Jawa di Kabupaten Natuna, mulai mendapatkan aroma penolakan dari warga Natuna sendiri.

Padahal sebelumnya Bupati Natuna Hamid Rizal juga menyambut gembira wacana Presiden mendatangkan 6 ribu kapal asal pesisir Pulau Jawa ke Laut Natuna. Menurut dia, ini akan membuka lapangan pekerjaan bagi anak tempatan, dan menambah PAD Natuna.

Salah satu nelayan Natuna, Madri menegaskan bahwa adanya penyebaran nelayan dan kapalnya di Natuna, akan mematikan mata pencaharian masyarakat Natuna sendiri. “Gaung penolakan ini telah kami sampaikan kepada Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Cabang Natuna. Adanya rancangan yang tak lama lagi akan dijalankan ini, harus dipikirkan lebih mendalam lagi, dan Pemerintah Kabupaten Natuna harus bijak dan hati-hati dalam mengambil keputusan,” tegasnya, pada hari Rabu, (3/7) kepada Suara Kepri.

Hal senada, Tomi juga menolak keras hal serupa. Karena Ia menilai bahwa Pemerintah pusat, Pemprov Kepri hingga Pemkab Natuna belum begitu serius memberdayakan dan memberikan perhatian yang besar terhadap nelayan yang ada di Natuna.

“Nelayan Natuna akan tertindas dengan kehadiran 6000 kapal Nelayan asal Jawa tersebut. Karena kami, dari segi kapal dan peralatan sudah kalah dari mereka,” geram Tomi.

Tomi juga berpendapat, bahwa pendapatan asli masyarakat Natuna adalah nelayan yang mesti diingat oleh pemerintah. “Kalau berkebun cengkeh, itu hanya berapa kali setahunlah bisa panen cengkeh. Kalau penghasilan dari nelayan, masyarakat kami nanti mau makan apa,” ujarnya.

Sementara itu Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Natuna, Wahyu Nugroho mengatakan, sebenarnya sudah ada nelayan luar masuk mencari ikan di Laut Natuna.

Hanya, persoalan adalah kapal-kapal nelayan luar itu tidak meminta izin. “Belum ada laporannya yang masuk,” kata dia.

Lanjutnya, kalau ada nelayan luar yang masuk ke perairan Natuna, lebih pada membuat nelayan Natuna kecewa.

“Keinginan nelayan lokal, kalau bisa nelayan luar bisa memberdayakan mereka,” imbuhnya. (Imam)

[sk]

BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Silahkan tinggalkan komentar anda!
Please enter your name here