Dilema Pers Antara Dunia Dan Akhirat

Share:

Oleh : Mori Guspian (Pimpinan Redaksi)

Jika kita rajin mengamati pemberitaan di tanah air belakangan ini, mungkin pertanyaan diatas akan mudah kita temukan jawabannya, yakni persBaca » Pers di Politik, Indenpenden Tapi Tidak Munafik. Indonesia memang tidak sehat, bahkan ekstrimnya bisa dibilang sekarat. Nilai-nilai murni jurnalistik terancam punah. Menjunjung tinggi idealisme jurnalistik saat ini bisa dianggap “sakit jiwa”.

Kenapa demikian, karena “sang pejuang” idealisme jurnalistik itu akan berjuang sendiri, bahkan dia terancam dibuang karena tidak sejalan dengan yang lainnya. Atau, bahkan mungkin dia akan kelelahan karena bak “berteriak di tengah lautan”, tak ada yang mendengarkan dan tak ada yang peduli, kecuali sang pemilik lautan. Akhirnya, “sang pejuang” mundur dari dunia jurnalistik yang dinilainya tak lagi sehat ini. Namun, dibalik itu semua penulis berkeyakinan penuh, pasti di luar sana masih ada insan-insan pers sejati.

Terlintas pikiran (lagi), seandainya di dunia khususnya saat ini tak ada ada insan-insan pers, bagaimana rasanya ya? Yap, harus diakui peran pers sangat luar biasa penting, namun menjadikan insan pers dan perusahaan pers yang sehat jauh lebih penting. Melalui peran insan pers atau media massa, seseorang yang tadinya biasa-biasa saja menjadi sangat luar biasa di mata masyarakat karena begitu piawainya media massa mengemas dan menyajikan seseorang itu ke masyarakat. Akhirnya, ia pun menjadi idola. Begitu juga sebaliknya, seseorang yang sebenarnya tidak memiliki kesalahan fatal bisa terjungkal oleh karena media massa yang nakal. Begitulah dahsyatnya peran media massa.

Pers yang sehat adalah pers yang memiliki orientasi akhirat dan berjuang hebat demi kemaslahatan umat manusia. Ia menyadari betapa penting perannya dalam menyampaikan kebenaran. Disamping itu, ia memahami apa dan untuk apa ia berjuang menyampaikan kebenaran itu. Tentu, selain berharap kenikmatan duniawi dari tetes keringat bahkan darah yang ia keluarkan akan dibalas dengan pahala setimpal yang akan ia nikmati di kehidupan akhirat kelak.

Di samping itu, pers yang tidak sehat adalah pers yang hanya mengutamakan syahwat keduniawian saja, tanpa orientasi akhirat. Yang ia tahu, melalui pers akan banyak keuntungan dan kesenangan duniawi yang bakal ia raih. Ia tak akan ambil peduli tentang dampak pemberitaan semu bahkan negatif yang ia buat karena terbuai oleh kenikmatan dunia yang sesaat.

Seorang teman pernah berujar,” pers yang sehat itu kaki kanannya sudah menginjak surga”. Kenapa demikian, karena ia memahami makna pentingnya peranan pers. Ia senantiasa menyuarakan kebenaran untuk kemaslahatan umat manusia melalui media massa. Selain itu, pers yang sehat juga mewarisi sifat nabi, yakni siddiq, amanah, tabligh dan fathanah.

Siddiq artinya jujur dan akurat. Pers (media massa) yang sehat akan senantiasa jujur. Memberitakan tentang fakta yang benar-benar terjadi, bukan suatu kebohongan, apalagi fitnah. Fakta ditulis dengan sebenar-benarnya dengan jiwa dan raga. Jika ia memahami apa dan karena apa ia memberitakan kebenaran, pintu surga akan terbuka untuknya.

Amanah artinya benar-benar bisa dipercaya. Pers yang sehat itu amanah, menjunjung tinggi nilai-nilai kebenaran dan mengedepankan kemaslahatan umat manusia. Bayangkan saja, jika kita membaca berita atau tulisan dari sebuah media massa yang amanah dan benar-benar terpercaya. Dahsyat sekali bukan? Pers yang sehat dan amanah itu menghindari pemelintiran fakta atau hasil wawancara sehingga berubah makna.

Fathanah, artinya cerdas. Di samping jujur, terpercaya dalam menyampaikan, pers juga dituntut untuk cerdas dalam menyajikan sebuah informasi atau pemberitaan. Pers yang sehat akan cerdas dalam hal memilih dan memilah mana informasi yang layak dikonsumsi oleh publik dan mana yang tidak semestinya ditonjolkan dan dikonsumsi publik.

Tabligh, berarti menyampaikan. Sifat tabligh atau menyampaikan inilah yang juga harus diemban oleh insan pers. Sebagaimana fungsinya, pers sebagai media penyampai informasi, pendidikan, hiburan, dan kontrol sosial. Pers (media massa) dituntut menyampaikan pesan-pesan yang benar dan bertanggung jawab. Bukan sebaliknya.

Pertanyaannya, adakah dari keempat sifat mulia tersebut yang dimiliki oleh insan pers saat ini? Mungkin saja ada, namun jumlahnya tak sebanyak yang diharapkan sehingga para insan pers resah dan mengambil tema HPNBaca » Sani Rencanakan Peresmian Monumen Tulisan Melayu Saat HPN Nanti. di Provinsi KepriBaca » KPK Terima 766 Aduan dari Kepri. pada tahun 2015 lalu berbunyi “Pers Sehat, Bangsa Hebat”.

Terakhir, (jika) pers sehat, tentu saja tidak hanya bangsa yang hebat. Namun, jauh di balik itu semua, umat manusia pun selamat karena insan pers selalu menebar manfaat bukan turut serta menciptakan penghianat ataupun kemudharatan hingga akhirnya peradaban tamat.

Dilema Pers Antara Dunia Dan Akhirat | redaksi

Komentar Pembaca


Berita Lainnya

Baca jugaclose