“He For She” Akhirnya Diluncurkan

Share:

Topik Terkait

Advertisement
Pemprov Kepri

Bintan – Mensukseskan kampanyeBaca » Panwaslu Masih Menemukan Pelanggaran Kampanye Melibatkan Anak Dibawah Umur. global bertajuk “He For She” di Provinsi Kepulauan Riau, Anggota DPRD Provinsi KepriBaca » KPK Terima 766 Aduan dari Kepri., Dewi KumalasariBaca » Dewi Dukung Pejantan Jadi Kawasan Konservasi. mengajak seluruh elemen masyarakat bersama pemerintah daerah ikut berpartisipasi dalam rangka mewujudkan program Kesetaraan Gender di Indonesia.

“Indonesia termasuk 10 besar negara yang menjadi Champion World Leader kampanye Internasional “He for She” yang dibentuk untuk meningkatkan peran dan mendorong keterlibatan laki-laki dalam hal penghentian kekerasan terhadap perempuan dan anak,” katanya dalam sambutan kegiatan Sosialisasi Penguatan Kualitas Perempuan dan Perlindungan Anak “He For She” Provinsi Kepulauan Riau, Senin (8/5) di Hotel Hermes Agro Resort & Convention, Kawal, Kabupaten BintanBaca » Khazalik Mintai Waspadai Adanya Paham Radikal..

Gerakan “He for She” merupakan suatu bentuk komitmen yang menjadi kepedulian para pemimpin negara, termasuk Indonesia.

Dewi meminta semua pihak memberi dukungan penuh terhadap program yang telah lama dicanangkan oleh PBB ini.

Anggota Komisi IV DPRD KepriBaca » Sespimti Polri Temui Gubernur Dan Ketua DPRD Kepri. ini menyebut meskipun di Kepri angka kekerasan terhadap perempuan dan anak tidak begitu besar seperi di kota lainnya, hal itu perlu menjadi perhatian.

Adanya program ini diharapkan peran dan dukungan kaum laki-laki dalam menyukseskan program kesetaraan gender terus meningkat.

“Kita semua khususnya bapak-bapak dan kaum laki-laki harus mampu menjadi pelindung yang memberikan rasa aman dan nyaman bagi perempuan dan anak-anak. Jika perlu di Provinsi KepriBaca » Gubernur Minta Kadin Proaktif Bantu Bidang Kelautan. ini tidak ada lagi kekerasan terhadap perempuan dan anak atau 0% (nol persen) karena laki-laki seyogyanya adalah mitra perempuan,” papar dia.

Mewujudkan hal tersebut, sambung Dewi, tidak cukup hanya sebatas kampanye saja melainkan perlu bukti konkrit dan implementasi secara baik dan nyata dalam kehidupan sehari-hari.

“Dibutuhkan komitmen dari laki-laki untuk menghapus kekerasan tidak lagi berperilaku semena-mena terhadap perempuan dan anak. Berikan hak-hak mereka, agar perempuan bisa lebih berperan dalam menggali potensi-potensi dirinya masing-masing,” jelasnya.

Menurut Bunda Peduli Perlindungan Anak Kabupaten Bintan ini, perempuan merupakan representasi dari separuh pelaku dan penerima manfaat pembangunan.

Terkait hal tersebut, maka isu tentang pengarusutamaan gender menjadi fokus utama dalam pemerintahan.

“Hal ini menunjukkan komitmen pemerintah dalam memperjuangkan hak-hak menuju perubahan positif bagi perempuan, khususnya menyangkut akses, partisipasi, kontrol dan manfaat dari pembangunan,” katanya lagi.

Ditempat yang sama, Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (P3AP2KB) Provinsi Kepri, Misni, secara tegas mengharapkan dalam kehidupan sehari-hari setiap laki-laki termasuk anak-anak memiliki komitmen dan tekad kuat untuk benar-benar menghentikan kekerasan terhadap perempuan dan anak serta dapat memenuhi hak-hak mereka. Sehingga kesetaraan gender pada 2030 mendatang dapat terealisasi sebagaimana mestinya.

“Diharapkan nantinya para peserta laki-laki untuk mengakhiri kekerasan terhadap perempuan dan anak. Stop kekerasan terhadap mereka. Kalau perlu diadakan fakta integritas karena mereka memiliki hak untuk mendapatkan rasa aman dan perlindungan,” tegasnya.

Menurut Misni, komitmen tersebut dapat terwujud salah satunya melalui pembentukan kelompok ayah dan remaja laki-laki yang peduli terhadap perlindungan perempuan dan anak untuk mendorong pentingnya penghapusan tindak kekerasan.

“Mudah-mudahan nantinya di masyarakat khususnya Provinsi Kepri tumbuh dan berkembang kelompok-kelompok lelaki peduli perempuan dan anak (Mancare) sebagai upaya mewujudkan Kepri yang bebas dari kekerasan,” katanya.

Kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak di Provinsi Kepulauan Riau terus mengalami penurunan yang cukup siqnifikan.

Tercatat terdapat penurunan sebesar 23,32% di tahun 2015 dimana tahun sebelumnya terdapat 763 kasus menjadi 585 kasus.

Tahun 2016 terjadi sebanyak 225 kasus dengan korbanBaca » Pelak Pencurian Ancam Pakai Gunting, Lalu Memperkosa Korban. 208 diantaranya terjadi pada perempuan dan untuk tahun 2017 sampai dengan bulan Mei ini terdapat 75 kasus dimana 56 orang atau 74,6% diantara korban adalah perempuan.

Meski kasus kekerasan dari tahun ke tahun terus menurun, namun kekerasan terhadap perempuan dan anak kerap saja terjadi.

Oleh karena itu Misni meminta komitmen dan dukungan semua pihak dalam memperjuangkan hak-hak perempuan dan anak.

“Setiap laki-laki harus menjadi pemimpin keluarga maupun anak. Laki-laki tidak melakukan kekerasan dan mampu mencegah terjadinya tindakan yang mengarah pada kasus kekerasan dalam keluarga maupun lingkungan sekitar,” ungkapnya.

Agar perempuan dan anak tidak selalu menjadi objek kekerasan, kata Misni sangat diperlukan sikap peduli sesama, peduli lingkungan dan peduli terhadap permasalahan yang berhubungan dengan perempuan dan anak.

“Sehingga Kepri sebagai daerah bebas dari kekerasan perempuan dan ramah anak dapat terwujud,” katanya.

“He For She” Akhirnya Diluncurkan | redaksi

Komentar Pembaca


Berita Lainnya

Baca jugaclose