Jejak Sungai Carang Sebagai Sejarah Kebesaran Melayu

Share:

SEJARAWAN Kepri, Aswandi Syahri, terus menelusuri jejak sejarah Sungai Carang. Ia menemukan banyak fakta sejarah yang menggambarkan kebesaran Melayu masa silam. Sungai Carang, Tanjungpinang dan Penyengat, konon dulu mampu menyaingi ramainya bandar Melaka. Berikut beberapa catatan terkait jejak sejarah Sungai Carang.

Sejak tiga ratus empat puluh satu tahun yang silam, Sungai Carang dan kawasan sekitarnya di Hulu Riau, Tanjungpinang, adalah tempat ‘jantung’sejarah berdenyut. Tidak hanya berperan sebagai pusat emporium dagang, tapi juga menjadi tempat istana-istana megah berdiri pada zaman.

Fakta sejarah itu memang berbanding terbalik dengan realitasnya pada masa kini. Namun demikian jejak arkeologis dan catatan historis yang sampai kepada kita pada masa kini, adalah bukti-bukti yang tak terbantahkan.

Setelah Sultan Sulaiman Badrul Alamsyah, Sultan Johor-Pahang-dan Riau pertama mangkat pada 20 Agustus 1760, Daeng Kemboja yang telah sekian lama menyingkir ke Linggi kembali ke Riau di Pulau Bintan untuk menempati pos-nya sebagai Yang Dipertuan Muda Riau III: menggantikan posisi Daeng Celak Yang Dipetuan Muda Riau II.

Pada masa Daeng Kemboja inilah kerajaan Johor yang berpusat kawasan yang kemudian dikenal sebagai Riau-Lama itu menemukan kembali kemakmuran masa-masa gemilangnya yang sempat hilang.

Raja Ali Haji dalam Tuhfat al-Nafis (1865), menggambarkan ramainya Sungai Carang di Hulu Riau dan kawasan di sekitarnya yang penuh sesak dengan perahu dagang dari belahan Timur dan Barat, bertemu dengan wangkang-wangkang Cina yang berjejer rapat seperti ikan yang disusun tindih-bertindih.

Itulah sebuah fase ketika Bandr Riau, di Sungai Carang menjadi emporium dagang. Ketika jejeran wangkang dan keci-keci dagang berbaris rapat sejak dari kualanya hingga ke Kampung Cina. Riuhnya kawasan Sungai Carang di Hulu Riau dan sekitarnya pada abad ke-18, dicatat oleh Raja Ali Haji dalam Tuhfat al-Nafis sebagai berikut:

“Maka negeri Riau pun ramailah dan segala peahu-perahu dagang pun datanglah dari pihak Barat dan Timur. Dan wangkang-wangkang pun masuklah berniaga berlawanan dengan dagang-dagangan dari sebelah Timur itu. Maka perahu teluk rantau pun datanglah membawa dagangan teluk rantau. Penuh sesaklah bercocok ikan, daripada kuala hingga ke kampung Cina.”

Dalam catatan sejarah, inilah salah satu fase gemilang secara politik dan ekonomi dalam sejarah kerajaan Johor-Riau-Pahang yang ketika itu berpusat di sikitar Sungai Carang. Fakta sejarah ini, ditegaskan oleh Raja Ali Haji sebagai berikut: “Maka amanlah Riau pada masa itu, serta banyaklah mendapat hasil-hasil negeri adanya.” (Aswandi Syahri)

Jejak Sungai Carang Sebagai Sejarah Kebesaran Melayu | redaksi

Komentar Pembaca


Berita Lainnya