Perusahaan Media Dibawah Standart Dewan Pers Sering Digunakan Untuk Ngerjain Orang

Share:

BATAM, SuaraKepri.com –Membangun bisnis pers yang bermartabat dan membuat standar perusahaan pers menjadi agenda penting Serikat Perusahaan Pers dalam kongres XXIV SPS.
Dua topik hangat tersebut akan dibahas habis-habisan di hari puncak The 1st ASEAN Summit for state-owned enterprises and media (ASSOEM) yang digelar oleh SPS mulai Rabu (4/2) sampai Senin (9/2/2015) mendatang.

Ketua Harian SPS Pusat, M Ridlo Eisy mengatakan saat ini masih banyak perusahaan pers yang bekerja dengan standar di bawah Dewan Pers, tak terkecuali yang sudah menjadi anggota SPS maupun yang belum.

“Masih banyak perusahaan pers yang masih berbadan hukum CV, bahkan kadang tanpa badan hukum apapun,” ujar Ridlo.

Ketika di Bali, SPS sempat membuka diri untuk menerima media online, namun sayangnya hingga kini belum ada perusahaan media online yang dianggap sesuai peraturan, kecuali online yang terintegrasi dengan grup-grup besar.

“Paling yang sesuai itu viva, detik, dan beberapa lainnya yang bergabung dengan perusahaan-perusahaan besar. Tapi online nggak bergabung dengan grup besar ini juga banyak sekali, seperti model trio macan,” kata dia.

Menurutnya kebebasan dan kemudahan membuat sebuah media menjadi kebablasan. Tak jarang ada pihak yang sengaja membuat media untuk mengerjai orang lain.

“Itu bukan media yang dibenarkan sesuai kode etik jurnalistik. Sikap kita terhadap yang model begini yang perlu ditekankan. Kalau pun ada yang benar dan sesuai kode etik, ketika dia berbuat kesalahan karena tidak ada penanggungjawab bisa berhubungan dengan UU ITE,” ucapnya. (TB)

Perusahaan Media Dibawah Standart Dewan Pers Sering Digunakan Untuk Ngerjain Orang | Redaksi

Komentar Pembaca


Berita Lainnya