Sengketa Lahan, Warga Tanjung Uma Bentrok

Share:

Warga tak terima lahanBaca » Bantah Dugaan Menyerobot, PT. GWS Tegaskan Bangun di Lahan Sendiri Sesuai Izin. di kampung mereka diklaim dimiliki perusahaan.

BATAM, SuaraKepri.com – Ribuan warga Tanjung UmaBaca » Tim Buser Lubuk Baja Bekuk Pelaku Pembunuhan Warga Tanjunguma. bentrok dengan suatu organisasi massa (ormasBaca » Polda Kepri: Ormas Dilarang Gelar Sweeping.) di Batam, Kepulauan Riau, Minggu siang 20 Oktober 2013. Keributan dipicu perebutan lahan antara warga dan PT Cahaya Dinamika Harun Abadi (CDHA). Akibatnya situasi di perkampungan tua Tanjung Uma hingga kini masih panas.

Keributan bermula ketika PT CDHA mengklaim memiliki surat lahan dalam koordinat kampung tua Tanjung Uma yang sudah ditetapkan melalui Surat Keputusan Wali Kota Batam tahun 2004. Ratusan massa dari salah satu ormas yang diduga membekingi PT CHDA kemudian mendatangi warga yang hendak mematok lahan sengketa. Keributan pun tak terhindarkan.

Menurut warga, kampung tua Tanjung Uma ditetapkan pada tahun 2004 melalui SK Wali Kota Batam, sementara batas koordinatnya ditetapkan pada tahun 2012. Batas koordinat itu ada sekitar 180 hektar. Namun PT CDHA mengklaim memiliki lahan di dalam koordinat kampung tua Tanjung Uma itu.

Ribuan warga Tanjung Uma lalu mendatangi ratusan pemuda dari ormas yang menjaga lahan tersebut. Bentrokan pun semakin tak terhindarkan. Dua unit kendaraan milik ormas tersebut dirusak warga. AparatBaca » Kades Dan Aparat Setempat Hentikan Loading Pasir di Desa Limbung. kepolisianBaca » Mayat Seorang Pria Ditemukan di Drainase Bandara Hang Nadim. dari Polresta Barelang dan Polda Kepulauan Riau terjun ke lapangan untuk mencegah bentrokan meluas.

Wakil Gubernur Kepri HM Soeryo Respationo ikut turun ke lokasi kejadian untuk meredam dua massa agar tak lagi melakukan aksi saling serang. Hingga berita ini diturunkan, aparat keamanan masih terus berjaga untuk mengupayakan keadaan kembali kondusif.

Sengketa Lahan, Warga Tanjung Uma Bentrok | redaksi

Komentar Pembaca


Berita Lainnya

Baca jugaclose