Suradji Masih Merasa Sebagai Dosen Umrah

Share:

Surat Pembelaan Suradji Kepada SuaraKepri.com

TANJUNGPINANG, SuaraKepri.com – Terkait dirinya yang telah diskorsing oleh pihak Rektorat Universitas Maritim Raja Ali Haji (UMRAHBaca » Besok, 1200 Peserta Berebut 184 Kursi Umrah.), Suardji, MSi pun mengirim surat hak jawabnya kepada SuaraKepri.com pada hari Selasa (11/3). Didalam suratnya itu mengatakan bahwa dirinya sampai kini masih merasa belum ada menerima salinan tentang skorsing yang diterbitkan oleh pihak Umrah.

Surat Suradji ini berdasarkan surat Rektor UMRAH Prof. Dr. Maswardi M Amin, MPd melalui Kabag Humas dan Protokol Rafki Rasyid telah membuat Pers Rilis pada hari Senin, 10 Maret 2013, di Kampus Umrah Dompak.

Hak jawab ini dia buat bukan karena ada niat atau keinginan untuk melakukan perlawanan, tetapi lebih kepada pembelaan atas hak-haknya selaku dosen. “Ini bukan perlawan, tetapi ini terkait dengan keadilan dan prosedur benar yang harus dilaksanakan oleh pihak Umrah,” ujarnya.

Hingga saat ini Suradji tidak pernah dimintai pendapat atau jawaban maupun klarifikasi oleh Forum Senat Universitas atas kesalahan yang dituduhkan kepadanya. “Dengan demikian maka apa yang dikatakan oleh Kabag Humas dan Protokoler Umrah sama sekali tidak benar,” tegasnya.

Yang benar menurut Suradji dirinya dipanggil oleh Dekan FISIP Umrah Drs. Son Haji pada hari Senin tanggal 3 maret 2014 di Ruang Dekan. “Dalam kesempatan tersebut saya disodorkan dua opsi yang diminta dengan saya memilih salahsatunya. Opsi pertama saya diminta mundur sebagai Dosen dan opsi kedua saya diberhentikan dengan tidak hormat,” jelasnya.

Jawaban Suradji pada saat itu, ia tidak akan mundur dengan alasan bahwa saya mendaftar sebagai dosen adalah karena kesadaran dan kerelaan.

“Sehingga naif rasanya jika pilihan sebagai dosen kemudian saya ingkari (mundur). Kalau untuk opsi kedua jelas itu tidak saya pilih karena bukan kewenanganya saya. Saya hanya menyampaikan bahwa saya akan terima putusan tersebut dan saya akan pelajari substansi putusan untuk selanjutnya saya akan ambil sikap,” katanya lagi.

Selanjutnya, karena adanya penolakan dari dirinya pada tanggal 4 Maret dilakukan Rapat Senat Umrah kedua di Hotel Comfort untuk mendengarkan penjelasan dekan Fisip dan sekaligus menjatuhkan sanksi kepada saya.

“Alhasil pada tanggal 5 Maret saya dipanggil atau diundang kembali oleh Dekan Fisip Umrah yang intinya bahwa Senat Umrah telah menjatuhkan sanksi kepada saya berupa Skorsing 2 semester tanpa gaji pokok. Padahal sanksi tersebut tidak ada dalam opsi pada saat rapat Senat Umrah pertama,” Suradji pun heran.

Suradji secara pribadi heran dengan Umrah khususnya pihak Rektorat dengan kebijakan untuk memberikan sanksi kepada seseorang (dirinya) tanpa memanggil untuk dimintai klarifikasi.

“Lembaga peradilan saja akan memutus perkara setelah menghadirkan terdakwa dan mendengarkan pembelaan?. Kenapa lembaga pendidikanBaca » Ingin Mendaftar, SMP Negeri 1 Minta Orangtua Tunggu Kepsek Masuk. tinggi negeri bisa menjatuhkan sanksi tanpa meminta klarifikasi kepada pihak yang dituduh melakukan kesalahan tersebut,” ucapnya.

Dalam suratnya ini, Suardji intinya hingga sekarang merasa masih sebagai dosen Umrah yang aktif dan bukan maksud melawan pihak Rektorat maupun Senat Umrah.

“Tetapi untuk membela hak-hak sebagai warga Negara Indonesia. Hingga kini saya masih menjalankan tugas dan fungsi saya selaku Dosen karena belum menerima salinan Surat Keputusan tentang skorsing tersebut,” tutupnya.

Suradji Masih Merasa Sebagai Dosen Umrah | redaksi

Komentar Pembaca


Berita Lainnya

Baca jugaclose