Warga PKDP-Gempar Tanjungpinang Adakan Tradisi Badikia Pariaman

Share:
Mawardi Cagau

Mawardi Cagau

TANJUNGPINANG, SuaraKepri.com – Seni badikia, tradisi di waktu peringatan Maulud Nabi Muhammad SAW, masih dipertahankan di banyak surau dan masjid di Padang Pariaman, termasuk di daerah perantauan. Menunjukkan tradisi masyarakat itu tetap kuat dan masih hidup dengan baik dan terpelihara dari generasi ke generasi.

Hal itu terlihat dalam pelaksanaan Maulud di Surau Muhajirin, Kampung Tarandam, Jalan MT Haryono pada hari Senin (17/2) malam. Dilaksanakan dari pkl. 20.00 wib, diselenggarakan acara badikia ini sampai masuknya waktu subuh.

Ratusan masyarakat Pariaman perantauan dan masyarakat sekitarnya, memadati surau sejak waktu sore dan terus berdatangan sampai malam. Di halaman surau terpasang sebuah tenda besar. Acara peringatan maulud di laksanakan Persatuan Keluarga Daerah Pariaman (PKDP) dan Generasi Muda Pariaman (Gempar) Kota Tanjungpinang ini terasa meriah dan semarak.

Selain acara utama mengadakan badikia, yang dihadiri lengkap para pemuka agama, ninik mamak, perangkat nagari, urang sumando, juga pihak masyarakat mengantarkan jamba, berupa makanan, buah-buahan dan minuman yang luar biasa banyaknya. Semua hantaran para masyarakat itu disusun dengan rapi memenuhi ruangan surau, diantara tukang dikia dan para alim ulama, cadiak pandai nagari setempat.

Badikia memiliki daya tarik tersendiri dalam tradisi masyarakat Pariaman. Masing-masing tukang dikia piawai dalam memainkan suara yang khas. Mereka akan menempati sekeliling bahagian depan surau, duduk bersila di atas kasur, kemudian secara bergantian menyampaikan pesan-pesan agama dengan bersahut-sahutan. Suasana religi mereka amat terbangun dengan baik. Terlihat tukang dikia sudah beralih generasi pada yang muda, tak semata hanya kalangan tua.

Bagindo Mawardi Cagau, tokoh masyarakat Pariaman Kota Tanjungpinang menceritakan tradisi Badikia sudah sulit dipisahkan dalam tradisi peringatan maulud. “Alhamdulillah generasi mereka terbangun dengan baik, sehingga kecemasan budaya tersebut akan punah dapat melegakan dengan tetap ada dan dilaksanakan hingga di daerah perantauan,” ujarnya.

Lanjut Bustanul, walaupun zaman sudah berubah, ia percaya yang meninggalkan tradisinya pasti, tetapi yang mempertahankan juga tetap banyak.

Menurut Cagau sapaan akrabnya, badikia sampai subuh, dan dilanjutkan dengan acara basyarakal sampai waktu sholat ashar besok (hari ini). Kemudian ditutup dengan makan maulud yakni makan bersama orang senagari di surau. Makanan diantar dari setiap rumah urang Pariaman yang dinamakan jamba.

“Jadi dengan tradisi Maulud ini, selain memperingati Nabi, meningkatkan nilai-nilai keagamaan dan juga meningkatkan rasa persaudaraan di dalam masyarakat,” ungkapnya.

Warga PKDP-Gempar Tanjungpinang Adakan Tradisi Badikia Pariaman | Redaksi

Komentar Pembaca


Berita Lainnya

Baca jugaclose