Connect with us

Alias Wello Kecewa Dengan Kadis DKP Kepri

Lingga

Alias Wello Kecewa Dengan Kadis DKP Kepri

Lingga – Bupati Lingga, Alias Wello begitu kecewa dengan Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi Kepr, Raja Ariza karena enggan melepaskan lahan tambak ikan yang terbengkalai di Desa Kerandin, Kecamatan Lingga.

“Kita ingin mengelola tambak terbengkalai tersebut, tetapi sampai sekarang tidak ada juga jawaban dari pihak DKP Kepri. Daripada terbengkalai dan tidak dikelola dengan baik, kenapa tidak mereka serahkan saja kepada Pemkab Lingga untuk kelola,” geramnya pada hari Rabu (16/3).

Saat ini, pria yg akrab disapa Awe itu melihat bahwa masyarakat Lingga sangat membutuhkan suatu usaha untuk membantu perekonomian mereka. “Nah, tambak yang terbengkalai tersebut bisa dimanfaatkan mereka sebaik mungkin untuk membantu perekonomian mereka. Dan disini kami akan melakukan pembinaan dan pengawasan secara langsung,” tegas Awe.

“Saya selaku Bupati sudah menghubungi pihak DKP Provinsi Kepri, tapi yang saya dapatkan justru kekecewaan saja. Padahal secara lisan maupun surat resmi pun telah kita layangkan” sambung Awe.

Sebelumnya, politisi dari Partai Nasdem tersebut ingin mengembangkan konsep persawahan dan tambak akan dilakukan di desa Kerandin. Namun, persoalan lahan tambak masih dikuasai oleh DKP Provinsi Kepri dan belum diserahkan kepada daerah.

“Saat kampanye di pilkada beberapa waktu lalu berjanji bersama masyarakat bekerjasama untuk mengelola lahan tambak yang terbengkalai di Desa Kerandin. Tetapi hingga saat ini kami tidak bisa menyentu lahan tersebut,” ingat Awe.

Dipilihnya Desa Kerandin sebagai proyek persawahan dan tambak, didasari karena petak tambak sudah dicetak, saat itu, juga didatangkan lima orang tim ahli dari Sulewesi Tengah (Palu) untuk mengelola tambak yang terbengkalai.

“Biaya operasional mendatangkan untuk tenaga ahli, tidak di gubris DKP Kepri yang tidak juga menyerahkan program tambak ke Pemkab Lingga. Sampai hari ini, kita masih membiayai operasional tim ahli ini,” jelasnya.

Untuk sementara, Awe pun tidak ingin program yang dicanangkannya gagal, akhirnya lokasi pencetakan sawah dan tambak dipindahkannya ke Desa Sungai Besar.

“Alhamdulilah, masyarakat Sei Besar menyambut baik rencana persawahan dan tambak ini,” aku Awe.

Dengan adanya program ini, antusias masyarakat Desa Sei Besar begitu besar dan Awe pun menginginkan desa Sei Besar mandiri. Setiap lahan menjadi aset bernilai nantinya, dia berharap desa yang akan menghasilkan kebutuhan pangan bagi masyarakat Lingga dan Kepri pada umumnya menjadi contoh bagi desa-desa lainnya di Lingga.

“Menuju masuknya investasi yang sehat kedepannya dan tidak ada lagi lahan tidur yang tak bisa kita manfaatkan. Semua lahan tidur yang ada harus bisa dimanfaatkan demi kesejateraan masarakat,” ungkapnya. (Min)

[sk]

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Lainnya di topik Lingga

To Top