Connect with us

SuaraKepri.com

BERGERAK MELAWAN

Opini

BERGERAK MELAWAN

Organisasi kepemudaan kampung Gudang Minyak merasa perlu untuk turun langsung mensterilkan lingkungan, memberikan himbauan, juga mendongkrak semangat Warga untuk tetap Efektif selama berada di Rumah, menghadapi Wabah Covid-19 yang menebar ketakutan, sangat-sangat mencemaskan, juga memberikan Informasi yang benar terkait Covid-19, Dengan bahasa yang sederhana agar mudh di mengerti.

Mengingat Presiden menekankan pentingnya Physical distancing untuk pencegahan penularan Covid-19, atau bahasa terjemahan mereka yang berarti Jaga jarak. Maka Zetra sebagai ketua organisasi pemuda, merasa tidak perlu melibatkan seluruh pengurus dan anggota dalam kegiatan ini.

Setelah memilih beberapa nama, hasil Diskusinya dengan tim Penasehat, lebih kurang jam 7.00 mereka memulai Aksi. Kenapa tidak di sebut Jam Tujuh tepat? Anak muda tau sendirilah, selalu bermasalah dengan Waktu. Membawa Tiga tabung penyemprot Disinfektan, ada juga yang menyebutnya Sprayer, Masker Untuk dibagi-bagikan, serta Sabun anti Kuman, dan Hand Sanitizer untuk di Masjid.

Mereka memulai.

“Pagi kak Yanti” sapa Desnu ramah setelah mereka tiba di rumah pertama.

“Lagi ngapain Kak?” tanya Amar pada kak Yanti yang lagi berjemur, berdiri di atas Rumput halaman rumahnya yang tidak terlalu luas, sambil bergerak kekiri, setengah berjongkok, tegak kembali, mengangkat kedua tangan melewati atas kepala, lalu kekanan, setengah berjongkok lagi, begitu seterusnya.

“Engkau tak liat aku lagi ngapain” kak Yanti, masih terus melakukan gerakan senamnya.

“Buta Mata Dia Kak” kata Desnu, menarik Tiga lembar Masker dari dalam kotak. “Ini kak, untuk Kakak, Mas Parno, sama Ara,” anak semata wayang kak Yanti.” Ingat Kak, keluar rumah pakek Masker, Pulangnya langsung Cuci tangan, kalau tak perlu jangan keluar Rumah kak” tambah Desnu.

“Mana nih yang mau di semprot Kak?” Zetra, berjalan mendekat, menyandang Sprayer di punggungnya, kak Yanti menghentikan gerakan senamnya, mengerutkan alis berfikir.

“Pintu Pagar aja Ketua sama tangga Teras” saran Usin, yang langsung menyemprot tangga teras rumah kak Yanti yang disemen kasar agar tidak licin, menggunakan Sprayer di gendongannya sendiri.

“Sekalian tuh Motor Mas Parno,” Kak Yanti menunjuk Grand Hitam Suaminya keluaran tahun Sembilan puluh Dua. “Motor_tu, Entah dari mana-mana,” katanya “semprot aja, biar tak ada Virus.” Bang Mamang Satu-satunya tim penasehat yang mendampingi, sekuat tenaga menahan tawa dengan Punggung Tangannya.

Delapan rumah berlalu, mereka tiba di rumah Pak RW, bersebelahan hanya berbatas pagar dengan rumah Amar.

“Assalamualaikum Pak RW” suara berat Bang Mamang lantang.

“Waalaikumsalam warahmatullah” Pak RW muncul dengan langkah cepat mengenakan kaos Putih, Kain sarung Hijau bermotif kotak-kotak sebagai bawahannya. Senyum bangga di wajahnya melihat Pemuda kampungnya yang Peduli dan Aktif.

“Kami mau bagikan Masker Pak” Desnu memberitahu.

“Terimakasih, saya sudah beli Masker kain, cukup untuk orang di rumah ini, berikan saja pada Warga yang lain” Perintah Pak RW. “Mang, Itu tiang Gawang Mini di lapangan semprot juga_ya, anak-anak sering main di situ, kursi Semen yang di penggir-pinggir lapangan, pangkalan Ojek juga, mumpung kosong, gak ada yang Mangkal, biar Fasilitas umum di kampung Kita Steril semua.”

“Iya Pak” Bang Mamang menganggukkan Kepala. “Nanti tempat-tempat umum kami semprot semua, Insyaallah” katanya.

“Senang Saya lihat kalian seperti ini, bergerak dengan Inisiatif tanpa menunggu.” Pak RW manghadapkan wajahnya pada Zetra.

“Siap Pak” jawab Zetra singkat.

“Kegiatan ini terus pertahankan, nanti saya akan bicara pada kenalan saya yang menjadi Wakil kita di Legislatif, supaya mereka mau membantu kebutuhan kalian. Ini perbuatan Baik, kegiatan Positf, membantu kerja Pemerintah, mengedukasi Warga, Insyaallah mereka akan senang memberikan bantuan.”

“Kami mau nyemprot Pak_” belum selesai Zetra bicara.

“_Silahkan, Pagar rumah saya aja” Pak RW memotong,

“Bendahara siapa?” tanya Pak RW

“Wanis Pak” jawab Zetra, masih terus berdiri memandang Pak RW kalau-kalau masih ada Arahan.

“Wanis diam aja dari tadi?” sahut Pak RW. Wanis menanggapi dengan tersenyum. Wanis memang dikenal kaku dan takbanyak bicara. “Tunggu sebentar saya mau kasih sedikit untuk beli minum.”

“Takperlu lah Pak, Terimakasih, kami sudah ada, sudah Saya siapkan. Akhirnya Wanis buka Mulut juga.

“Hati-hati sama Disinfektan!” Pak RW sekali lagi menatap Zetra dan Spreyer di punggungnya, “kalau ada yang minta semprot di dalam rumah, jangan lakukan.” Katanya ramah, “jelaskan pada mereka kenapa tidak boleh semprot di dalam rumah_ya.” Mereka mengangguk mengiyakan tanpa suara.

“Kalau gitu kami permisi dulu Pak, mau lanjut lagi, Assalamualaikum” Zetra pamitan. Melangkah keluar dari rumah Pak RW, Danu yang paling terakhir keluar menutup Pintu Pagar Tralis “Jangan lupa cuci Tangn Pak RW” katanya dari luar pagar.

“Ha ha” Pak RW tertawa besar “Siap siap,” katanya, mengangkat tinggi sebelah Tangan pada mereka yang beranjak pergi.

“Ok Rumah Awak lagi, ya kan” Amar percayadiri, “sini Ketua” Ia mengambil Sprayer dari Zetra lalu menyandangkannya. “Woi! Kalian mau kemana?” pekik Amar melihat teman-temannya melangkahi rumahnya.

“Istirahat dulu Bro di Pos” jawab Desnu sedikit meninggikan suaranya, serentak mereka semua tertawa.

“Telor lah” umpat Amar, berjalan menuju Pos, bergabung dengan teman-temannya.

Mereka istirahat sejenak di Pos Ronda seberang jalan rumah Amar. Rumah Amar terputus oleh persimpangan jalan dan parit besar, tidak langsung menyambung kerumah warga berikutnya, bisa dibilang rumah Amar, rumah terakhir sebelum melanjutkan kerumah berikutnya.

Warnis datang menenteng kantong Merah berisi Air Mineral dan cemilan, langsung membagikan pada temman-temannya.
Tak lama kemudian Ahar datang.

“Ha. Ini dia baru muncul, kemana aja? Kacau wakil ketua Satu nih” kata Desnu. Suaranya terdengar aneh dengan mulut penuh berisi kacang Kedelai Goreng.

“Maklum lah kalau Pagi susah Awak nak begerak,” Amar membela diri, “banyak yang membutuhkan perhatian Aku di rumah” sambil membungkuk menyingsingkan celana Training Birunya.

“Engkau jangan ketawa-ketawa. Jugul mana?” Ahar bertanya pada Usin. di WA Grub Usin janji kalau hari ini Dia akan mangajak Jugul untuk membantu.

“Heh.” Amar ngeyek, “budak-budakni mana ada yang bisa bangun Pagi Har,”Matanya menjeling Usin, “ kebanyaan begadang” katanya lagi.

Amar dan usin kaka beradik yang tidak mirip samasekali, Amar berambut kerebo sementara Usin rambutnya lurus. Muka apa lagi, udah pasti beda jauh. Usin Berusia Delapan belas tahun tapi dia menjabat wakil Ketua Dua di Organisasi pemuda, Amar Sepuluh tahun lebih tua dari Usin, posisinya Ketua seksi Kesenian.

“Aku baca di Internet, WHO melarang Disinfektan disemprotkan ke badan” Ahar menjelaskan sambil menggantungkan Ibu Jari di saku celana. “Alkohol dan Klorin tidak akan membunuh Virus yang sudah masuk kedalam tubuh Manusia” Ia menambahkan.

“Makanya kita semprot di luar rumah aja” Zetra menjelaskan, “tadi Pak RW Karnain jugak udah bilang, tenang aja Kau” katanya santai.

“Akhirnya Jugul muncul” Bang Mamang bicara seperti membaca Naskah Derama, tertawa sedikit menggelengkan kepala, “kalau Engkau apa lagi alasannya Gul?” tanyak Bang Mamang.

“Ketiduran Aku Bang” kata Jugul, terlihat dari matanya yang masih bengkak, kalau Jugul memang baru bangun Tidur. “Ngojek Aku semalam Bang, sampai jam Dua belas Malam.”

“Meledak lah” Amar berdiri bergabung ngobrol bertiga sambil menekan pinggang.

“Meledak Ape, Sepi nak mapos, makanya aku nunggu penumpang sampai jam Dua belas Malam.”

“Pas kalilah kalau gitu” kata Bang Mamang.

“Engkau sama Ahar pergi semprot Pangkalan Ojek, Lapangan bermain, Pokoknya semua Fasilitas umum di kampung ini, kalau ada Orang jangan kalian smprot pulak, suruh orang_tu pulang kerumah, nih bawak Masker, kalau ada yang tak pakek Masker kasih.”

“Zetra.” Panggil Bang Mamang, “Kita lanjut kerumah-rumah Warga lagi, setelah itu Kita ke Masjid, Terakhir gedung serba guna. sekalian kita simpan alat-alat disitu.” Bang Mamang memberikan saran.

Zetra bangkit berdiri “Ayok lah kita lanjutkan, biar cepat selesai”

“Yok” timpal Desnu yang juga bangkit dari duduk, “kita lanjut rumah Sahril lagi” dia menunjuk rumah Putih di seberang jalan rumah Amar.

“Kepala Otak engkau, rumah Awak belum lagi” kata Amar.

Desnu tertawa terbahak-bahak memegang lututnya yang baru setengah berdiri, “ambil tuh semprotannya,” menunjuk semprotan Disinfektan tersandar di dinding Pos Ronda. “Kata nak semprot sendiri rumah Engkau. Sama Usin tuh, biar kompak kalian adik-beradik” Desnu masih terus tertawa, “i_nih.” Desnu memberikan Lima lembar Masker untuk keluarga Amar.

Terakhir mereka meletakkan sabun anti Bakteri Empat botol di Masjid, Tiga di tempat Wudu, Satu di tangga masuk dengan Ember bekas Cat yang sudah di Modifikasi, menjadi tempat cuci tangan dengan Keran air di bawahnya, dan Satu Hand Sinitizer di ruang dalam Masjid.
Akhirnya selesai juga.

Mereka kembali ke gedung serbaguna menyimpan peralatan. Lalu mencuci Tangan, ditutup dengan Makan siang Nasi Bungkus bersama dengan jarak yang berjauhan, sambil ngobrol ringan dan bercanda.

“Zetra, jangan lupa Minggu depan Sabun cuci Tangan sama Masker di tambah lagi” Bang Mamang mengingatkan, telunjuk Kanannya diarahkan ke Wanis, maksudnya juga memberi tau Wanis sebagai Bendahara.

“ Siap Bang” sahut Zetra, “ingatkan Aku Desnu” Zetra bicara pada Sekretarisnya.

Setelah kegiatan Sosial tanggal 15 Maret 2020, Organisasi Pemuda kampung Gudang Minyak masih terus melakukan lagi kegiatan serupa setiap minggunya, dengan penambahan beberapa Item bantuan lagi.

Salut untuk Pemuda Gudang Minyak. Terus Kreatif dan teruslah Aktif.

Terimakasih.

Penulis : Harris/Alel Berto

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Lainnya di topik Opini

To Top