banner 728x250

Rela Naik Bukit di Musim Hujan Untuk Belajar Daring

  • Share

Lingga, SuaraKepri.com – Pagi itu, Senin, 30 Agustus 2021, Dila Novriyanti (13 tahun),  Pelajar SMPN l Senayang, bersama teman-teman lainnya harus berjalan kaki dan naik perbukitan di Desa Persiapan Kentar, Kecamatan Senayang, Kabupaten Lingga.

Berjuangnya mereka untuk melintasi perbukitan bukan untuk melihat pemandangan di atas bukit, tetapi mengikuti belajar Daring atau online. Meski musim hujan sering melanda, tak menghalangi semangat mereka.

banner 336x280

Tidak adanya jaringan internet di desanya, Dila dan temannya yang lain sering kesulitan untuk belajar daring kebijakan pemerintah selama Pandemi Covid-19 terjadi.

Akibat pandemi covid-19 sekolah serta kelas jauh dihentikan oleh pemerintah daerah, hanya bagi sekolah yang berada digaris zona hijau dan kuning yang diperbolehkan pelajaran tatap muka (PTM), namun untuk zona merah seperti Kecamatan Senayang, harus tetap menggunakan daring.

Pelajar Desa Persiapan Kentar, setiap hari harus melewati beberapa bukit untuk sampai ke pusat jaringan internet, itu pun jelas Dila
signal tersebut tidak sekuat di Kecamatan Senayang.

Bahkan dengan medan yang ekstreme, para siswa dan siswi harus tetap melewati jalan tersebut karna  disana, merupakan akses satu satunya jaringan, gubuk dengan diameter 3 meter X 2 meter itu menjadi tempat satu-satunya untuk belajar, terkadang tak jarang harus menghadapi hujan namun proses belajar harus tetap dilanjutkan.

“Kami lagi belajar daring disini, semenjak covid-19 sekolah kami tutup, baru 30 menit kami di sini, tapi hujan sekarang, jadi jaringannya sedikit terganggu biasanya H+,” kata Dela salah satu pelajar.

Ia menceritakan selain faktor cuaca, kontruksi tanah yang dilewati juga licin sebab berbentuk tanah liat dan batu bauksit, tentu tantangan itu menambah kesan mengerikan untuk sampaj di gubuk signal itu.

“Pernah kami tidak bisa mengikuti pelajaran di sekolah karna hujan lebat, kami hanya bisa berdoa mudah-mudahan pemerintah bisa memperhatikan kami yang berada di pelosok,” minta Dela sambil menangis.

Sementara itu, saat dikonfirmasih Kepala Dinas Pendidikan atau Kadisidik Lingga, Junaidi Adjam mengungkapkan jika belajar tatap muka di Kabupaten Lingga sudah bisa dilakukan sejak 23 Agustus 2021 lalu.

Hal itu kata dia, mengacu pada Peraturan Menteri Dalam Negeri atau Permendagri nomor 32 tahun 2021 tentang PPKM yang dilandasi SKB 4 menteri.

“Lingga khususnya Zona Kuning dan Hijau sudah melakukan PTM (Pembelajaran Tatap Muka) terbatas, jadi tidak lagi menggunakan BDR/Daring, tidak perlu lagi daring karena sudah jelas PTM Terbatas,” tegas Junaidi Adjam melalui pesan WhatsApp, Jumat (27/08/21).

Namun didapati fakta jika saat ini, menurut Guru SMP Negeri 1 Senayang Edi, sesuai dengan keadaan Zona Merah Covid-19 di Kelurahan Senayang, kegiatan belajar, mengajar masih di laksanakan secara daring.

“Masih daring Pak, sesuai dengan keadaan zona merah kelurahan Senayang, sesuai dengan instruksi dari Ketua Satgas Covid-19 Kecamatan Senayang, sekolah di Senayang masih daring atau belajar secara online, bagi kami ini membuat kesulitan apalagi bagi pelajar-pelajar pelosok untuk mendapatkan pembelajaran yang layak,” ungkap Edi

Bahkan lagi, pelajar dari pelosok perbatasan Kabupaten Lingga tersebut, hampir selama satu bulan ini melaksanakan sekolah daring atau Belajar Dari Rumah (BDR), karena status wilayah Kecamatan yang masih zona merah kasus Covid-19.

Namun akibat kurangnya akses internet di desa mereka, para pelajar baik SMP maupun SMA ini rela menempuh perjalanan melewati hutan untuk naik ke bukit, demi mendapatkan akses internet.

Cerita perjuangan pelajar Desa Kentar ini pernah dibagikan di sosial media Facebook oleh Wulandari yang merupakan salah seorang warga yang menemani proses belajar pelajar tersebut.

Ia menyebutkan dengan memikul tas di pundak, dengan melewati hutan, perjalanan ke bukit itu pun ditempuh selama lebih kurang 15 menit dengan jalan kaki.

“Jadi di tempat tinggal kami sekarang ini untuk sinyal sendiri sangat susah. Di kampung kampung kami yang ada sinyal hanya ada di bukit itulah, jadi adik-adik ini terpaksa harus bolak balik naik bukit setiap hari untuk mengikuti pelajaran online,” ungkap Wulan 

Ditempat berbeda, Pejabat Kepala Desa (Pj Kades) Wendi membenarkan bukit signal yang sering digunakan pelajar untuk belajar online, ia mengatakan terdapat beberapa titik lokasi signal di desanya, namun itu sangat jauh dari pusat desa.

“Ada dua titik untuk dapatkan sinyal internet, satu di bukit dalam kampung dan satu lagi di bukit PT bekas bauksit kalau untuk kawasan Langgu. Kalau untuk kawasan repat mereka naik ke bukit Jepun,” kata Wendi.

Wendi menjelaskan sering mendapatkan keluhan dari pada orang tua pelajar, sebab lokasi yang jauh dari pantauan orang tua, namun efektivitas anak saat belajar daring harus tetap dilakukan.

“Orang tua pun turut prihatin, atas anak-anak yang terpaksa harus turun dan naik bukit untuk mendapatkan akses internet, saya berharap benar pandemi ini cepat berlalu, sehingga anak-anak dapat belajar seperti biasa, agar dapat meningkatkan mutu pendidikan daerah kami,” harapannya.

Setidaknya, Wendi berharap kepada Pemerintah Kabupaten Lingga untuk membangun tower di desa itu, sebagai penunjang belajar siswa-siswi di Desa Persiapan Kentar.

“Itulah harapan kami. Kalau dari pihak desa persiapan pun tidak bisa mau bantu banyak, karena kami belum definitif,” pungkasnya.

Penulis : Febrian S.r

banner 336x280
banner 120x600
  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *