banner 728x250

Geopark Natuna, ‘Mutiara’ di Perbatasan NKRI

  • Share

Penulis : M. Rozali (Wartawan Media suarakepri.com)

Kabupaten Natuna merupakan salah satu kabupaten terluar NKRI yang berbatasan langsung dengan beberapa Negara ASEAN seperti Negara Malaysia, Singapore, Filipina dan Vietnam.

banner 336x280
Tugu yang terletak di Kawasan Pantai Piwang, juga menjadi ikon keindahan pantai tersebut.

Mendengar nama Natuna, mungkin masih sangat asing bagi sebagian penduduk Indonesia. Padahal kabupaten berjuluk Laut Sakti Rantau Bertuah ini menyimpan Sumber Daya Alam yang sangat melimpah.

Salah satunya adalah dari Potensi Wisata, bisa dikatakan keindahan alam tiada Tara di Kabupaten berbatasan dengan Selat Karimata ini sebagai ‘Mutiara’ yang berada diperbatasan NKRI.

Lambat laun surga tersembunyi ini mulai dikenal secara Nasional sejak di tetapkan menjadi Geopark Nasional bersama 14 Geopark lainnya yang berada diseluruh Indoneisa.

Geosite Pantai Batu Kasah

Pesona Pantai Batu Kasah.

Obyek Wisata Pantai Batu Kasah, merupakan satu dari delapan Geosite di Kabupaten Natuna yang telah ditetapkan menjadi Taman Bumi (geopark) Nasional pada Tahun 2018 yang lalu oleh Komite Nasional Geopark Indonesia.

Keunggulan dari Kawasan Situs Geosite Pantai Batu Kasah adalah memiliki Pantai yang landai, kemudian terdapat bongkahan Batu Granit Raksasa di bibir Pantai.

Selain itu, Pantai Batu Kasah memiliki keindahan alam seperti pemandangan Laut, Pulau, Gunung dan keindahan bawah lautnya.

Terletak di desa Cemaga Utara Kecamatan Bunguran Selatan, Kabupaten Natuna. Saat ini Geosite Batu Kasah menjadi primadona bagi masyarakat setempat menghabiskan libur akhir pekan. Apalagi dengan status barunya menjadi Geopark Nasional, maka obyek wisata ini semakin diminati wisatawan, baik Domestik maupun Mancanegara.

Untuk tiba di kawasan Geopark Natuna ini, wisatawan bisa menggunakan kendaraan roda 4 ataupun roda 2 dari Ibukota Kabupaten Natuna dengan waktu tempuh sekitar 30 Menit.

Sebelum tiba di lokasi, ditengah perjalanan Wisatawan akan di buat takjub dengan pemandangan alam yang super indah seperti, luasnya lautan yang di hiasi Pulau-pulau kecil yang munggil, kemudian wisatawan juga akan terpesona melihat bongkahan Batu Granit raksasa yang sudah berumur jutaan tahun teronggok di Bibir Pantai. Bagaimana bisa batu sebesar itu berada di Pantai?.

Ini menjadi pertanyaan dibenak sebelum tiba di Kawasan Situs Geosite Pantai Batu Kasah.

Perjalanan selama 30 menit pun tidak terasa oleh wisatawan setelah melihat karunia tuhan yang terletak di Kabupaten Ujung Utara ini.

Lebih kurang 500 meter dari lokasi, para wisatawan akan melihat sebuah penunjuk arah bertuliskan ‘Kawasan Situs Geosit Pantai Batu Kasah +- 500 meter’ berwarna hijau muda yang terletak di pertigaan jalan.

Penunjuk arah yang dibangun melalui Dana CSR Migas ini sangat berguna bagi pengunjung, apalagi pertama kali mengunjungi situs Geosit pantai Batu Kasah ini.

Plang nama bertuliskan ‘Obyek Wisata Pantai Batu Kasah’ berukuran besar, menjadi pemandangan awal saat tiba di Geosite. Dengan ukuran yang besar dibaluri warna yang apik sangat disayangkan jika tidak menyempatkan waktu untuk berswaphoto atau berselfi bersama rekan dan keluarga.

Untuk memasuki lokasi obyek wisata tergolong murah, wisatawan atau pengunjung cukup membayar Karcis sebesar Rp2 ribu perorang. Maka pengunjung sudah bisa menikmati keindahan alam di obyek wisata dengan luas 800 Meter persegi ini.

Pantai berpasir putih, air laut yang jernih, bongkahan batu granit raksasa, pemandangan gunung, pulau dan lautan luas menjadi obat lelah dikala tiba di kawasan situs geosite Pantai batu Kasah.

Bagi wisatawan yang hobi Snorkling dan Deving, jangan khawatir tidak bisa mengexplore keindahan laut di obyek wisata ini. Karena pengelola sudah menyiapkan peralatan Snorkling dan Difing dengan harga sewa yang tidak membuat kantong bolong. Jadi, wisatawan bisa menikmati jernihnya air laut, beragam flora dan keindahan bawah laut disitus ini tanpa repot-repot membawa peralatan sendiri. Kemudian, pengelola juga menyiapkan pelampung dari ban bekas untuk pengunjung yang ingin berenang.

Tidak sempurna rasanya jika ke pantai tanpa menikmati menu kelapa muda dan makanan lokal. Apalagi selepas berenang dan bermain di pantai, pasti kita akan merasa lapar dan haus. 

Di pantai Batu Kasah, wisatawan bisa menikmati itu semua. Segarnya kelapa muda dengan view laut lepas dan bongkahan Batu Granit Raksasa, ditambah lagi tiupan angin sepoi sepoi, pasti akan terasa damai, tenang dan membuat wisatawan tidak ingin berpaling menatap indahnya lukisan Sang Pencipta.

“Alhamdulilah, beberapa sarana pendukung sudah dibangun seperti, Mushola, Gazebo, Ruang Infromasi, Kamar Bilas dan WC,” ujar Abdillah, Pengelola Situs Geosite Pantai Batu Kasah saat di temui suarakepri.com, Minggu 16 Agustus 2020.

Dengan adanya fasilitas ini, sambung Abdillah, banyak pengunjung merasa nyaman, karena tidak perlu khawatir jika mau mandi, sholat dan sebagainya.

Setiap tempat wisata memiliki kekurangan dan kelebihan, seperti halnya di Situs Obyek Wisata Pantai Batu Kasah. Kelebihan yang dimiliki tempat ini adalah akses ke situs sangat mudah, karena berada di pinggir jalan, sehingga mobil pengunjung bisa langsung parkir di lokasi wisata, kemudian para wisatawan dapat menikmati keindahan alam yang masih alami, melihat dari dekat batu granit raksasa berumur ratusan juta tahun yang lalu, menyelam dan melihat keindahan laut dengan beragam Flora yang ada, kemudian yang pasti mendapat pengalaman baru.

Disisi lain, Situs Obyek Wisata Pantai Batu Kasah ini memiliki kekurangan yaitu belum tersedianya bak penampung air bersih yang mencukupi, maka dimusim kemarau akan kesulitan memenuhi kebutuhan air bersih untuk pengunjung.

Kemudian juga perlu penambahan Gazebo dari yang ada saat ini yaitu 10 Gazebo. Karena dengan 10 gazebo tidak cukup untuk menampung pengunjung yang berjumlah ratusan setiap akhir pekan. Tidak hanya itu, perlu juga di bangun Home Stay di dekat Kawasan geosite untuk wisatawan menginap.

Selain Geosite Pantai Batu Kasah, terdapat Geosite munggil  yang tidak jauh lokasinya dari Pantai Batu Kasah yakni, Geosite Pulau Akar. Berjarak sekitar 200 meter dari bibir pantai Desa Cemaga, Kecamatan Bunguran Selatan. Pulau Akar menjadi Geosite terkecil luasnya dari seluruh Geosite di Geopark Natuna.

Terbentuk dari tumpukan bebatuan, Pulau Akar hanya mempuyai luas lebih kurang 50 meter persegi, Pulau Akar turut menjadi magnet bagi wisatawan untuk berkunjung.

Geosite Pulau Akar

Inilah tugu Pantai Pulau Akar.

Dari Batu Kasah, cukup 5-7 menit berkendara, pengunjung sudah tiba di Pulau Akar. Deretan Pohon Kelapa dan Rumah Penduduk di kiri kanan jalan menjadi pemandangan pertama saat akan sampai ke Geosite ini.

Oleh karena Geosite Pulau Akar terpisah dari Pulau Bunguran Besar, Natuna. Pemerintah telah membangun jembatan penghubung sepanjang lebih kurang 200 meter dari bibir pantai Desa Cemaga ke Geosite Pulau Akar. Jadi pengunjung harus berjalan kaki melewati jembatan ini.

Keunikan dari Pulau Akar ini adalah terdapat tumbuhan yang akarnya naik kepermukaan tanah. Hampir setiap pengunjung tidak akan bisa melewatkan pandangan dari pohon ini. Karena tumbuhan tersebut menjadi pintu gerbang ketika memasuki kawasan Pulau Akar ini.

Alfi, salah seorang pengunjung kepada suarakepri.com menuturkan hampir setiap akhir pekan, ia dan keluarga kecilnya menghabiskan waktu di Pantai Batu Kasah dan Pulau Akar. Karena kedua Obyek wisata tersebut tergolong dekat dengan tempat tinggalnya.

“Setiap hari minggu kami sering ke sini bang, apalagi anak-anak saya sangat suka kepantai,” ujar Alfi.

Selain sebagai liburan, sambung alfi, dirinya bisa memberikan ilmu pengetahuan tambahan bagi anak-anaknya sekaligus untuk mengurangi ketergantungan gadget.

“Biasanya kalau hari minggu, anak-anak pasti rebutan HP. Jadi saya sama istri membawa mereka ke obyek wisata,” tutur ayah dua anak ini.

“Kalau kita bawa ke batu kasah dan pulau akar, mereka jadi keasikan main dipantai,” tambahnya.

Digeosite Pulau Akar saat ini sudah dibangun oleh pemerintah dua unit tempat istirahat atau Gazebo. Dengan adanya Gazebo ini bisa digunakan untuk melepas lelah setelah mengililingi Pulau Akar yang mungil ini sembari melihat pesona alam yang ada.

Keunggulan dari Geosite Pulau Akar yakni, bebatuan yang ada dikawasan Geosite, berumur ratusan juta tahun yang lalu. Sehingga situs ini wajib dijaga kelestariannya untuk bahan penelitian dimasa mendatang.

Selain dua Geosite diatas, ada enam lagi Geosite di kawasan Geopark Natuna yang tidak boleh di lewatkan untuk dikunjungi diantaranya :

Tanjung Senubing

Dari pesona bebatuan pantai Senubing ini, akan membuat betah para pengunjung untuk duduk berlama-lama disana.

Geosite Senubing masuk wilayah Kelurahan Ranai Kecamatan Bunguran Timur dengan struktur batuan granit yang telah di teliti berumur lebih kurang 125-66 juta tahun yang lalu.

Geosite Tanjung Senubing merupakan salah satu Geosite yang paling dekat dengan Ibu Kota Ranai, Kabupaten Natuna. Dari Hotel atau penginapan hanya perlu waktu 10 – 15  menit untuk mencapai geosite yang terkenal dengan pesona hamparan Batu Granit yang cantik.

Kawasan Senubing yang lebih dikenal dengan sebutan Batu Sindu oleh masyarakat sekitar memiliki Panorama alam yang indah. Bentangan laut luas, batu granit raksasa, sangat indah dilihat dari ketinggian. Dari kawasan ini, pengunjung juga bisa melihat salah satu dari 8 Geosite yang ditetapkan menjadi Geopark Nasional yakni, Pulau Senua.

Waktu yang paling tepat mengunjungi Geostie yang berada dipantai bagian timur Kota Ranai adalah di pagi hari sebelum matahari terbit. Karena, diwaktu ini lah kita bisa melihat, indahnya saat sang surya mulai menampakan pancarannya dari celah-celah batu raksasa di kawasan senubing ini.

Seduhan Kopi hangat dari atas batu raksasa, ditambah pesona dari sang surya di pagi hari menjadi pengalaman yang tiada duanya.

Di kawasan Geosite Senubing juga terdapat sebuah goa yang berada di sela-sela bebatuan. Selain itu, pepohonan di sini menjadi tempat hidup hewan endemik Natuna yakni, Kekah.

Saat berkunjung di pagi hari, maka pengujung akan melihat dan mendengar suara hewan yang memiliki wajah berciri khas seperti memakai kacamata ini.

Namun jika pengujung tidak ketemu dengan hewan yang terkenal pemalu ini, pengunjung tidak perlu sedih, karena disalah satu rumah makan di kawasan Ibu Kota Kabupaten Natuna, tepatnya dijalan Datuk Kaya Wan Mohd Benteng, memelihara hewan tersebut. Jika penasaran, pengunjung bisa kesini dan melihat secara dekat hewan imut asli Natuna.

Pulau Senua

Pulau Senua dilihat dari atas, membuat orang yang melihatnya ingin merasakan begitu segar udaranya.

Pulau Senua merupakan salah satu Geosite yang terletak di desa Sepempang Kecamatan Bunguran Timur, Natuna. Pulau Senua juga termasuk salah satu pulau terluar NKRI yang ada di Kabupaten Natuna.

Untuk menuju ke Geosite Pulau Senua,  pengunjung harus menyewa Pompong (Kapal Nelayan) di Pelabuhan Teluk Baruk Desa Sepempang dengan harga Rp 400 ribu hingga Rp 500 ribu PP (Pergi Pulang). Hanya butuh waktu 30 menit untuk menyeberang ke pulau Senua dari pelabuhan ini.

Keunggulan dari Geosite ini adalah memiliki pantai berpasir putih dan landai serta panorama alam yang indah. Selain itu, di Pulau Senua juga terdapat bebatuan yang memiliki struktur batuan sedimen laut dalam yang berumur lebih kurang 163-88,5 juta tahun yang lalu. Pulau Senoa juga menjadi tempat berkembang biak Penyu.  Waktu yang tepat untuk melihat secara langsung penyu bertelur adalah di musim angin selatan (Januari-maret).

Dari Geosite ini, pengunjung dapat melihat puncak tertinggi pulau Bunguran Besar Natuna yakni, Gunung Ranai. Kemudian, Geosite Senubing dan Obyek Wisata Tanjung Datuk juga masih tampak jelas dari kawasan Pulau Senua. Ini akan menjadi pemandangan yang luar biasa bagi setiap pengunjung.

Saat ini, Pulau Senua juga menjadi salah satu obyek wisata unggulan Provinsi Kepulauan Riau (Kepri). Setiap tahun, Dinas Pariwisata Provinsi Kepri dan Dinas Pariwisata Natuna mengadakan Festival Pulau Senua.  Festival ini diselenggarakan dalam upaya mempromosikan Potensi yang ada di Obyek Wisata Pulau Senua.

Goa Bamak

Begitu alaminya bebatuan di Goa Bamak.

Berjarak lebih kurang 45 km dari Ibu kota Kabupaten Natuna, Goa Bamak salah satu Obyek wisata yang wajib di kunjungi saat berada di Natuna.

Untuk tiba di lokasi, pengunjung bisa mengunakan kendaraan roda 2 maupun roda 4 dengan waktu tempuh lebih kurang 45 menit dari kota Ranai.

Tidak perlu terlalu memacu kendaraan untuk tiba di Geosite yang terletak di Desa Pengadah, Kecamatan Bunguran Timur Laut ini. Cukup dengan kecepatan standar saja, karena di sepanjang perjalanan, pemandangan Laut lepas menjadi penyejuk mata.

Setelah tiba di kawasan Geosite Goa Kamak, pengunjung harus memakirkan kendaraan di bahu jalan utama, kemudian berjalan kaki lebih kurang 10 menit. Karena, jalan menuju lokasi sulit dilalui kendaraan bermotor.

Keunggulan dari Geosite ini yakni, terdapat Goa di celah bebatuan. Goa yang dinamakan Goa Bamak ini juga memiliki keunikan yaitu, saat air laut pasang, bagian dasar Goa seperti sungai, karena digenangi air laut dan kembali mengering dikala air laut surut.

Tidak hanya itu, di Geosite ini juga terdapat bebatuan sedimen fluvial yang telah diteliti berumur lebih kurang 38-5,1 juta tahun yang lalu.

Selian itu, di bagian teluk Geosite ini memiliki air yang jernih, hamparan batu karang dengan beragam kehidupan bawah laut. Jadi, jika sudah tiba di Geosite Goa Bamak, jangan lewatkan untuk berenang dan Snorkeling.

Tanjung Datuk

Bebatuan karang di Tanjung Datuk.

Memiliki kesamaan dengan Geosite Goa Bamak, Batuan sedimen Fluvial di Geosite Tanjung Datuk juga diperkirakan berumur lebih kurang 38-5,1 juta tahun yang lalu.

Terletak di Desa Teluk Buton kecamatan Bunguran Utara, Tanjung Datuk kini menjadi salah satu Destinasi Wisata yang banyak dikunjungi wisatawan.

Keistimewaan dari Tanjung Datuk adalah, Tebing di kawasan ini seperti relief pahatan yang sangat menakjubkan.  Di dominasi warna kuning kecoklatan, tebing tebing yang ada menjadi lokasi berpoto oleh pengunjung.

Selain itu, Geosite terdapat hamparan batuan yang sampai ke bibir pantai. Batuan ini juga menjadi pemecah ombak alami dikala musim angin utara yang terkenal ganas. Namun, pecahan ombak angin utara yang mencapai 2 meter dari permukaan batu saat menghempas bebatuan tersebut bisa menjadi Background poto yang indah. Tapi harus hati-hati, karena bebatuan tersebut menjadi licin saat tertimpa air laut.

Jarak Geosite Tanjung Datuk dari Kota Ranai, Ibukota Kabupaten Natuna sekitar 60 km. Dengan jarak tersebut, untuk menuju lokasi harus ditempuh lebih kurang satu jam perjalanan.

Setelah tiba di kawasan geosite, pengunjung harus berjalan dan menuruni tebing batu untuk sampai ke bibir pantai. Sungguh menguras tenaga. Namun rasa lelah berjalan melewati medan yang menguras tenaga akan terbayar oleh keindahan alam Tanjung Datuk.

Gunung Ranai

Inilah keindahan pemandangan bila kita berada di puncak Gunung Ranai.

Gunung Ranai memiliki tinggi sekitar 1.035 mdpl dan merupakan gunung tertinggi di Kabupaten Natuna.

Terletak di Kecamatan Bunguran Timur, puncak Geosite Gunung Ranai terdapat Batu Granit yang cukup besar dan air terjun yang indah. Di sekeliling gunung juga di tumbuhi beraneka pepohon. Selain itu, gunung Ranai menjadi rumah bagi primata asli Natuna yakni, Kekah.

Untuk menikmati geosite gunung Ranai, pengunjung harus menembus jalan setapak dari perkampungan Ranai Darat. Medan jalan berbatu dan turun naik akan menjadi tantangan bagi pencinta hiking (mendaki gunung).

Namun, lelah perjalanan berjam-jam mendaki akan terbayar dengan panorama yang disuguhi Gunung Ranai. Udara dingin berkabut dipagi hari akan menjadi pemandangan yang menakjubkan. Dari puncak gunung ranai, pengunjung juga bisa melihat semua gugusan pulau diwilayah Kabupaten Natuna.

Pulau Setanau

Pepohonan kelapa dan pesona keindahan Pulau Setanau seakan memanggil kita untuk berkunjung kesana.

Pulau Setanau terletak di Desa Sabang Mawang Kecamatan Pulau Tiga. Geosite Pulau Setanau merupakan Geosite yang paling jauh dari Kota Ranai, Ibukota Kabupaten Natuna.

Untuk ke lokasi, dari Kota Ranai, pengunjung harus ke Pelabuhan Selat Lampa dengan waktu tempuh sekitar 1 Jam. Kemudian dilanjutkan mengunakan perahu lebih kurang15 menit.

Pulau Setanau merupakan pulau kecil berpasir putih dan landai. Selain itu, karang di laut Pulau Setanau juga terjaga kelestariannya, sehingga sangat cocok untuk aktifitas diving.

Dari Geosite Pulau Setanau, pengunjung juga bisa melihat tebing batuan kapur selat Lampa yang jaraknya lumayan jauh di sebarang. Pulau pulau di sekitar Geosite ini turut menjadi pemandangan yang cukup menawan.

Itulah beberapa keindahan yang ada di Geopark Nasional Natuna. Pemandangan alam yang indah dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya sungguh luar biasa. Maka sudah semestinya Kawasan Geopark Natuna ini di usulkan sebagai Taman Bumi (Geopark) UNESCO.

Salah satu pihak yakni Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Migas (SKK Migas) Perwakilan Sumbagut dan KKKS Wilayah Kepulauan Riau (Kepri) turut berkontribusi dalam pengembangan Geopark Natuna menuju UNESCO Global Geopark.

Melalui Dana CSR, secara berkelanjutan SKK Migas membangun sarana pendukung di geosite sebagai langkah pengembangan kawasan Geopark Natuna.

Penataan Kawasan Pantai Piwang dengan menyediakan ruang terbuka hijau, taman bermain dan sarana olahraga sebagai upaya SKK Migas membantu Pemerintah Natuna membangun infrastruktur di Kabupaten berjuluk Laut Sakti Rantau Bertuah.

Selain itu, beberapa dukungan Hulu Migas lainnya yakni pembangunan Landmark, sosialisasi Geopark, pemasangan rambu-rambu Geopark dan pengembangan fasilitas umum.

Semoga kedepannya pihak Hulu Migas tetap berkontribusi dalam mendorong pengembangan Kawasan Geopark Natuna dan menjadi contoh bagi perusahaan lainnya untuk sama sama membangun Natuna.

  • Share