Connect with us

SuaraKepri.com

Bertongkat Kayu, Mustafa Berjuang Untuk Hidup

Natuna

Bertongkat Kayu, Mustafa Berjuang Untuk Hidup

Natuna, suarakepri.com – Keripik enak, renyah dan gurih dijual Mustafa (64) cukup laris. Lelaki tua ini terus berjuang untuk hidup dan mengurus kedua orang tuanya, meski penuh dengan keterbatasan secara fisik. Kaki kanannya cacat akibat kecelakaan akhir tahun 2013 lalu. Dibantu dua tongkat untuk keseimbangan tubuhnya, Mustafa menenteng keranjang yang berisi keripik kentang, makaroni dan keripik Malaysia.

Mustafa mengatakan, dengan kondisi cacat, banyak teman-temannya meminta berhenti dan suruh cari uang dengan cara berdiri di setiap simpang dan lampu merah atau pusat keramaian. Namun karena di dalam keluarga tidak diajari meminta-minta atau mencari rejeki yang tidak berkah, dia tetap yakin dengan berjualan ada keberkahan.

“Saya malu meminta-minta (mengemis). Ada kawan yang mengolok saya, suruh cari uang dengan cara mengemis. Ya saya jawab langsung, saya masih bernapas dan masih ada jalan lain cari uang yang berkah. Saya masih bisa berjalan, saya ada tongkat. Ibu dan ayah saya masih hidup, memang dua-duanya sudah tua, mereka mengajarkan jangan mengemis,” tuturnya.

Mustafa mengaku setiap hari dia berjalan kaki, dari rumahnya di Air Kolek, berkeliling di jalan poros, masuk Air Kubang, Air Lokan hingga kawasan pasar. Kadang jualannya laku sampai habis dan kadang-kadang tidak. Dia lakukan semua untuk menyambung hidup, membantu ibunya yang sudah tua tidak bisa berjualan lagi. “Ya, beginilah kondisinya. Hampir setiap hari jualan, pagi, siang dan sore. Pembeli banyak dari pengendara yang lewat. Kalau dihitung bisa 15 kilo per hari jalan kaki, pagi hingga sore,” ujar Mustafa.

Lanjut Mustafa, kebetulan keripik itu buatan ibunya sendiri, awalnya dititipkan di warung dan rumah makan, sering tersisa banyak. Akhirnya dia mengambilalih dengan menjual sendiri keripik tersebut, jalan kaki sekitar ranai kota dan bahkan masuk pasar. Semuanya itu dilakukan untuk bertahan hidup, rata-rata per hari Mustafa bisa dapat uang antara Rp 50 ribu hingga Rp 100 ribu.

“Harga per bungkusnya Rp 2 ribu. Ada juga yang mau beli 1 kilogram harganya Rp 100 ribu. Berapaun itu, alhamdulillah saya bisa syukuri,” jelasnya.

Mustafa mengaku sangat mengimpikan sebuah sepeda duduk yang bisa sandarkan kaki. Namun belum memiliki uang untuk membelinya. Sedangkan bantuan pemerintah diakui Mustafa, dia mendapatkan BLT Covid-19. Tapi cukup memenuhi kebutuhan dan menambahkan kekurangan dari penghasilan.

“Pernah saya dijanjikan seseorang, mau membeli sepeda untuk orang cacat kaki seperti saya. Hingga sekarang ngak datang-datang, ya sudah belum rejeki,” imbuhnya. (Momo)

Continue Reading
Baca juga berita berikut...
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Lainnya di topik Natuna

To Top