banner 728x250

Oh Nikita Mirzani, Sepenting Apakah Dirimu?

  • Share

Ketika Nikita Mirzani berucap lebih memilih untuk masuk neraka, kehebohan kembali terjadi baik secara nyata maupun maya.

Bahkan berbagai ucapan, sindiran, kritik hingga cacian pun bermunculan. Pro kontra pun tak terelakan.

banner 336x280

Sosok Nikita Mirzani padahal belum juga habis seusai ia menyebut Habib Rizieq Shihab tak ubahnya seorang penjual obat.

Bahkan Habib Rizieq Shihab pun murka, balik menyerang Nikita Mirzani dengan ‘mengumpat’ sosok artis phenomenal itu sebagai pelacur (Lnt/kita sensor biar lebih memiliki Intitute) murahan.

Entah apa alasan Nikita Mirzani lebih memilih masuk neraka. Statemen ini seakan gempar mengalahkan isu penyebaran COVID-19 yang tidak pernah habisnya.

Bahkan isu lainnya, yang sangat berpengaruh hajat hidup ramai, seakan hilang ditelan bumi.

Segitu berartinya atau pentingkah omongan Nikita Mirzani?. Mungkin sindiran tak pantas sebelumnya menyebut Habib Rizieq Syihab tak ubahnya ‘seorang penjual obat’, bisa masuk akal sebagian besar orang/netizen, khususnya pendukung Habib Rizieq Syihab gerah serta murka.

Tetapi banyak juga yang mengedepankan akal sehatnya, karena omongan Nikita Mirzani yang lebih sering mengumbar auratnya memilih masuk neraka, itu sebagai pilihan pribadinya.

Karena saat akhirat nanti, setiap umat manusia akan mempertanggungjawabkan dosanya masing-masing.

Dan perlu kita ingat, ada enam kelompok manusia yang akan masuk neraka tanpa melalui proses penghitungan amal ibadah (hisab).

Mereka adalah orang-orang yang berbuat kezaliman di dunia dan selalu merugikan banyak orang.

Mereka bukan tidak mengerjakan amal ibadah yang diwajibkan dan amalan-amalan sunnah yang lain. Namun, amal ibadah yang mereka kerjakan sulit untuk mengalahkan dosa-dosa yang telah mereka perbuat.

Menurut Imam al-Ghazali dalam kitab Minhaj al-Abidin, keenam kelompok orang itu (seperti dalam hadis yang diriwayatkan ad-Dulaimi) adalah :

Pertama, pemimpin yang dzalim. Mereka adalah pemimpin yang tidak amanah di saat memegang jabatan. Jabatan yang dimiliki digunakan hanya untuk kepentingan pribadi dan kelompoknya bukan untuk kepentingan umat. 

Padahal, dalam pandangan Islam, jabatan merupakan sebuah amanah yang besar.  Pertanggungjawabannya bukan hanya kepada manusia melainkan juga kepada Allah SWT. Itulah mengapa para sahabat enggan untuk memegang jabatan sebagai pemimpin untuk menggantikan posisi Rasulullah SAW. 

Dalam sebuah riwayat diceritakan bahwa jenazah Rasulullah baru dimakamkan tiga hari setelah beliau wafat. Ini disebabkan para sahabat menunggu siapa pemimpin sesudah Rasulullah. 

Kedua, pengusaha yang khianat. Segala bentuk usaha yang dilakukan bertentangan dengan apa yang sudah ditentukan dalam Islam. Usahanya menggunakan cara-cara tidak terpuji seperti menipu.

Kalau ia seorang pedagang buah, di atas keranjang buah selalu ditempatkan buah-buah yang masih baru dan segar tetapi di bagian bawah, buahnya dalam keadaan jelek bahkan ada yang busuk. Islam pun melarang setiap pedagang untuk mengurangi timbangan karena dengan berbuat itu akan merugikan konsumen. 

Kegiatan menimbun barang juga merupakan perbuatan yang ditentang dalam ajaran Islam. Alasannya, kegiatan itu biasanya digunakan untuk meresahkan masyarakat aibat mahalnya harga barang. Tindakan itu merugikan masyarakat.

Ketiga, penguasa kecil yang mempunyai kesombongan besar. Terkadang kita jumpai di masyarakat bahwa pemimpin-pemimpin daerah justru ingin diperlakukan dengan istimewa bahkan terkadang melebihi pemimpin yang memiliki kekuasaan yang lebih besar. Mereka sombong dengan jabatan yang dikuasai. Padahal yang berhak sombong tidak lain adalah Allah SWT.

Keempat, fanatisme golongan. Mereka memiliki rasa fanatisme yang berlebihan terhadap sebuah kelompok atau golongan. Apa pun akan mereka lakukan asalkan demi golongannya. Mereka berjuang bukan untuk mencari ridha Allah SWT melainkan untuk kepentingan golongan. Ketika umat Islam dizalimi mereka tidak beraksi tapi kalau kelompok mereka diganggu dan dianiaya mereka berjuang habis-habisan untuk membela kelompoknya.

Kelima, orang awam karena kebodohannya. Mereka hanya ikut-ikutan dengan sekolompok orang yang mereka anggap benar. Akibatnya, mereka tidak mengerti apa yang mereka lakukan. Di dalam Alquran, Allah SWT menjelaskan, akan meninggikan derajat orang yang berilmu. Karena itu, mencari ilmu dalam Islam juga merupakan kewajiban bagi setiap Muslim.

Keenam, ulama yang mempunyai hati dengki. Ulama menurut arti bahasa adalah orang yang berilmu. Setiap ilmu yang dimiliki harus digunakan untuk kepentingan umat, bukan untuk kepentingan individu ataupun kelompok. 

Dan, pastinya ilmu yang dimiliki akan dimintai pertanggungjawabannya oleh Allah SWT. Apa yang dikatakan Rasulullah SAW itu sangat relevan dengan kehidupan kita sehari-hari. Saat ini keenam kelompok itu bermunculan di negeri ini. 

Oleh : Mori Guspian, Pimpinan Redaksi/Penanggung Jawab
banner 336x280
banner 120x600
  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *