Connect with us

SuaraKepri.com

Pembuktian Oknum Dari Media “Abal-abal”

Opini

Pembuktian Oknum Dari Media “Abal-abal”

Penulis : Mori Guspian (Pimpinan Redaksi/Penanggung jawab) SuaraKepri

Dengan tertangkapnya dua oknum diduga memeras menyatakan dirinya wartawan, menjadi pembuktian dari pernyataan Ketua Dewan Pers, Yosep Adi Prasetyo atau akrab dipanggil Stanley. Bahwa media-media yang menggunakan nama lembaga-lembaga resmi negara sebagai media “abal-abal”.

Bahkan perbuatan kedua oknum tersebut, mantan Ketua Dewan Pers, Bagir Manan berani menyatakan dari ciri-ciri perbuatannya sebagai oknum wartawan gadungan.

Benar saja, belum lama ini Kepolisian Resort (Polres) Tanjungpinang telah menangkap dua oknum diduga pelaku pemeras pejabat Sekretaris Dewan (Sekwan) Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Propinsi Kepri, pada tanggal 15 Januari, di Hotel CK Tanjungpinang.

Dari ekspose yang digelar Polres Tanjungpinang, ada barang bukti berupa uang sebesar Rp 20 juta, Kartu Tanda Pers Koran Pemantau Korupsi (KPK) dan KTP atas nama AL, Kartu Tanda Pers Koran Pemantau Korupsi (KPK) atas nama IR, Kartu LSM Komite Pemantau Korupsi (KPK) dan LBHK-PK atas nama IL, 3 unit handphone genggam milik tersangka dan sebuah sepeda motor milik tersangka.

Dari tanda kartu pers media KPK ini, bisa menjadi pembuktian kuat dari pernyataan Stanley sebagai media “Abal-abal”.

Pernyataan itu disampaikan saat menghadiri Talkshow Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Mandar.

Kegiatan itu diselenggarakan di Hotel Pantai Indah Mamuju, Jalan KS Tubun, Kelurahan Rimuku, Kecamatan Mamuju, Sulbar, tahun 2017 lalu.

“Jadi media yang abal-abal ini mereka muncul dengan nama yang aneh-aneh, mereka menggunakan nama institusi negara, seperti Koran Pemberita Korupsi atau disingkat (KPK) BIN, Bayangkara, Tipikor, yang tidak jelas alamat redaksinya,” begitulah kutipan pernyataan tegas dari Stanley pada saat itu.

Sementara itu Bagir Manan memberikan pencerahan bahwa wartawan Sejati mematuhi kode etik jurnalistik, medianya jelas dan berbadan hukum. Bahkan Wartawan disebut Gadungan suka memeras dan menipu.


Bagir Manan, menegaskan, seseorang yang berprofesi sebagai wartawan (jurnalis) harus mematuhi kode etik jurnalistik dalam setiap kegiatan peliputan.

Kata bijak pun keluar dari mulutnya, “Inilah yang membedakan antara wartawan sejati dengan wartawan gadungan,”.

Melihat dari permasalahan ini, pernyataan kedua tokoh besar pers itu ada benarnya. Hal itu mereka sampaikan sebagai gambaran tindakan dan oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab selama menjalankan tugas jurnalistik di lapangan.

Ada baiknya setiap individu wartawan untuk mengikuti Uji Kompetensi Wartawan (UKW) dan memiliki sertifikat kompetensi, dimana dapat dikatakan layak menjalani tugas jurnalistik serta menguasai Kode Etik Jurnalis (KEJ) secara etika.

More yang ingin serta hadir ditengah masyarakat agar tidak menggunakan nama institusi atau lembaga negara agar tidak salah gunakan oleh oknum-oknumnya yang tidak bertanggungjawab.

Bila ingin dinyatakan layak dan tidak abal-abal, media tersebut mau mengikuti terlebih dahulu verifikasi perusahaan pers yang dilakukan oleh Dewan Pers.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Lainnya di topik Opini

To Top