Connect with us

PEMILIH MILLENIAL DAN WAJAH DEMOKRASI INDONESIA 2019

Opini

PEMILIH MILLENIAL DAN WAJAH DEMOKRASI INDONESIA 2019

Oleh : INDAH PURMASARI,S.Pd


Tanggal 17 April 2019 kita menghadapi pesta demokrasi secara serentak di Indonesia. Masyarakat di hadapkan dengan pesta demokrasi yang sangat signifikan. Mulai dari pemilihan calon legislatif DPRD Kabupaten/Kota yang memiliki kertas suara berwarna hijau, pemilihan legislatif DPRD Provinsi yang memiliki kertas suara berwarna biru, pemilihan legislatif DPR RI dengan kertas suara berwarna kuning dan pemilihan DPD RI memiliki kertas suara berwarna merah dan pemilihan presiden dan calon presiden dengan kertas berwarna abu-abu.  

Ada 14 partai politik yang sudah ditetapkan sebagai peserta pemilu mendatang dengan nomor urutnya.1: Partai Kebangkitan Bangsa, 2: Partai Gerindra, 3: Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, 4: Partai Golkar, 5: Partai Nasdem, 6: Partai Garuda, 7: Partai Berkarya. 8: Partai Keadilan Sejahtera, 9: Partai Perindo, 10: Partai Persatuan Pembangunan, 11: Partai Solidaritas Indonesia, 12: Partai Amanat Nasional, 13: Partai Hanura, dan 14: Partai Demokrat.

Masing-masing dari calon legislatif dari ke 14 partai tersebut memiliki strategi atau cara masing-masing untuk merebut hati masyarakat.

Mulai ditetapkan masa kampanye oleh KPU pada tanggal 23 September 2018 hingga 13 April 2019. Setiap para calon legislatif dari perwakilan partai sudah mulai turun kemasyarakat dengan pola dan strategi yang dimiliki masing-masing.

Dalam hal ini yang sangat diperlukan adalah sosialisasi kemasyarakat tentang pentingnya keterlibatan dalam menghadapi pesta demokrasi 2019.

Dewasa ini sikap apatis yang dimiliki oleh masyarakat terhadap politik telah berkembang dan sulit untuk dipangkas keakarnya. Budaya politik pragmatis dan money politics yang masih terus turun temurun terjadi saat menghadapi pileg/pilpres dan pemilihan kepala daerah.

Dengan demikian, tugas kita sebagai Warga Negara yang baik wajib untuk mewarnai demokrasi ini dengan sejujur dan seidealisme mungkin dengan cara melakukan pendidikan politik yang positif ke masyarakat dan pemilih pemula (milenial). Dengan begitu, perlahan praktek money politics akan semakin berkurang.

Dalam tulisan ini, penulis lebih menitik beratkan kepada pemilih pemula (millennial) karena ukuran populasi mereka sekitaran 30-40 persen hingga 50 persen dari total penduduk di Indonesia. Generasi millennial dikelompokkan yang lahir antara tahun 1980-2000an.

Adapun kriteria rentang umur untuk pemilih millennial yaitu berkisaran 15-35 tahun. Karakteristik generasi millennial di Indonesia lebih cendrung memanfaatkan sosial media sebagai sarana informasi mengetahu persepsi tentang politik secara teoritis.

Peran generasi millennial sangat menjadi penentu untuk suksesnya pemilu tanggal 17 April 2019.

Terkadang partisipasi mereka cendrung sedikit tidak di sentuh, para elite hanya menyentuh generasi X (55 tahun ke atas) tanpa merangkul para pemilih pemula.

Padahal ada sejumlah DP4 terdapat pemilih pemula yang akan berusia 17 tahun tanggal 1 Januari 2018 sampai dengan 17 April 2019 sebanyak 5.035.887 jiwa (data : Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri)). Jika hal ini dikelola dengan baik oleh para calon legislatif, maka tujuan dari kemenangan akan tercapai.

Cost politik juga akan semakin sedikit digunakan, bahkan dengan deskripsi gagasan yang positif kepada pemilih pemula bisa menjadi salah satu dasar untuk meraih kemenangan.

Menurut Survei yang dilakukan Alvara Research Center tahun 2014 menunjukkan pemilih muda Indonesia didominasi oleh swing voters/pemilih galau, dan apathetic voters/pemilih cuek.

Bagaimana mengatasi solusi permasalahan tersebut? Banyak cara yang dapat kita berikan, salah satunya melalui pemanfaatan media sosial.

Dikarenakan saat ini media sosial tengah menjadi senjata utama pelaku politik dalam melancarkan pesan dan propaganda politiknya.

Oleh karena itu, diperlukan media yang mampu untuk menyampaikan pesan edukasi kepada pemilih millenial dengan cara-cara yang kreatif dan inovatif.

Tujuannya agar generasi millennial bijak bersosial media dan terhindar dari hoax dan ujaran kebencian.

Selain itu, langkah selanjutnya generasi millenial juga bisa berpartisipasi dengan terjun secara langsung ke masyarakat baik secara perseorangan maupun kelompok komunitas, seperti penyelenggaraan pendidikan Pemilu yang masif dan efektif maupun menjadi relawan pengawasan pada setiap momentum pemilu .

Di awal era Reformasi, Indonesia tercatat sebagai salah satu negara dengan perkembangan demokrasi paling pesat di dunia. Sistem yang terlalu sentralistik dan tertutup di era Orde Baru langsung diubah menjadi sistem desentralisasi dan terbuka yang pada akhirnya rakyat Indonesia berhak memilih wakilnya untuk menjadi pimpinan eksekutif dan legislatif baik di pusat maupun di daerah. Demokrasi di Indonesia sepintas hanya fokus kepada pemenuhan hak-hak politik saja dengan diselenggarakannya pemilihan umum baik di pusat maupun di daerah. Namun hak-hak sipil dalam beberapa kasus terabaikan.

Oleh sebab itu, ini langkah awal kita generasi muda untuk mengawal proses demokrasi yang positif di tengah masyarakat yang sangat apatis.

Harapannya dalam rangka menyambut momentum pesta demokrasi yang sebentar lagi kita lakukan partisipasi aktif dan peran penting dalam proses pemilu sangat dibutuhkan. Harapan masa depan bangsa ada di tangan kita para generasi muda khususnya generasi millennial. Sebagai generasi yang melek dengan informasi kita juga harus memiliki referensi atau rekam jejak terhadap calon legislatif baik itu pileg maupun pilpres yang akan kita pilih. Dengan demikian, harapan kita untuk merubah wajah demokrasi di Indonesia dari yang kualitasnya menurun sampai dengan demokrasi yang bersih, jujur dan adil akan tercapai. Dengan begitu sebagai upaya menyelamatkan nasib masa depan bangsa.

Hindari golput dan praktek money politic serta praktek jual beli suara jika kita tidak ingin merusak pesta demokrasi dan memilih orang yang salah untuk menjadi perpanjang tangan kita menjadi wakil rakyat.

Masih ada waktu untuk berbenah mengenai sistem demokrasi di Indonesia. Generasi millennial adalah generasi optimis dan penuh semangat juang. Generasi millennial adalah generasi smart yang tidak akan terpengaruh oleh berita hoax. Seperti yang pernah Mari kita kawal pesta demokrasi dengan aman damai bebas isu sara dan beri ujaran kebencian (hoax).

Seperti yang dikatakan oleh Soekarno, berikan aku 1000 orang tua niscaya akan ku cabut semeru dari akarnya, berikan aku 10 orang pemuda niscaya akan kuguncang dunia.

Penulis : Indah Purmasari, S.Pd
Pengurus sayap partai Repdem PDI Perjuangan, Alumni HMI Cabang Yogyakarta demisioner ketua umum BPL HMI Cabang Yogyakarta periode 2015-2016.

Continue Reading
Advertisement
Baca juga berita berikut...
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Lainnya di topik Opini

To Top