Anambas, SuaraKepri.com – Keputusan mengejutkan datang dari Bupati Kepulauan Anambas, Aneng. Belakangan ini, ia menjadi sorotan publik setelah dengan tegas menolak anggaran sebesar Rp1,5 miliar untuk pengadaan mobil dinas baru. Dirinya justru memilih bertugas menggunakan kendaraan yang sudah ada, bahkan jika harus rela ‘naik gunung’ dengan sepeda motor pada suatu kondisi. Bagi pria asli anak nelayan itu, keputusan ini bukanlah sebuah pencitraan, melainkan panggilan hati dari seorang pemimpin yang paham betul arti amanah.
Menurut Sekretaris Daerah Pemkab Anambas Sahtiar, rencana pengadaan mobil dinas baru untuk bupati sempat digaungkan karena kendaraan yang ada saat ini merupakan peninggalan bupati sebelumnya, Tengku Mukhtaruddin, yang sudah berusia lebih dari 10 tahun dan kondisinya tidak layak lagi untuk digunakan. Namun, bagi Aneng, ada prioritas yang jauh lebih mendesak daripada kenyamanan pribadi.
Di tengah kondisi fiskal daerah yang masih membutuhkan perhatian ekstra, ia merasakan bahwa ada banyak jalan-jalan yang masih perlu diperbaiki, fasilitas umum yang harus dibangun, serta layanan kesehatan dan pendidikan yang perlu ditingkatkan. Keputusannya ini merupakan langkah nyata penghematan anggaran yang juga merupakan respons atas berbagai masukan kritis dari Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Anambas. Aneng berkomitmen untuk meninjau ulang berbagai pengadaan yang tidak urgen, sekaligus memastikan agar setiap rupiah yang berasal dari uang rakyat benar-benar fokus pada program-program pro-rakyat.
“Saya lahir dan tumbuh dari kehidupan yang sederhana,” ujar Aneng. Baginya, jabatan bukan tentang kemewahan atau gengsi, melainkan tanggung jawab untuk menyejahterakan masyarakat. “Rakyat menilai pemimpin bukan dari mobil yang ditumpanginya, tetapi dari keberanian mengambil keputusan yang berpihak kepada mereka.”
Profil Bupati Aneng: Dari Anak Nelayan Hingga Pimpinan Daerah
Di balik kebijakan yang sederhana namun berani ini, tersimpan sebuah perjalanan hidup yang tak kalah menarik. Bupati Aneng bukanlah sosok yang akrab dengan kursi empuk sejak kecil.
Lahir di Bengkalis, Riau, pada 20 Oktober 1969, Aneng tumbuh dalam keluarga nelayan yang keras. Sejak kecil, ia sudah terbiasa melaut dan berdagang, membentuk karakter pekerja keras yang melekat kuat pada dirinya saat ini. Pada 20 Februari 2025, ia bersama wakilnya, Raja Bayu Febri Gunadian, resmi dilantik oleh Presiden Prabowo Subianto di Istana Negara untuk memimpin Kabupaten Kepulauan Anambas periode 2025-2030. Aneng adalah bukti nyata bahwa seorang anak kampung bisa mencapai posisi tertinggi di pemerintahan, asalkan memiliki tekad dan komitmen yang kuat.
“Saya teringat waktu kecil dengan kehidupan yang susah. Saya masih tidak menyangka bisa jadi pejabat,” kenang Aneng dengan penuh haru, suatu hari.
Pesan moral dari Bupati Aneng pun sangat jelas: biarlah seorang pemimpin menggunakan motor asalkan masyarakatnya sejahtera dan daerahnya terus maju. Karena di situlah letak kehormatan seorang pemimpin sesungguhnya. Beliau ingin dikenang bukan dari mobil yang dipakainya, melainkan dari manfaat yang telah ia ciptakan untuk seluruh rakyatnya.







Comment