Anambas, SuaraKepri.com – Pelabuhan Dusun III Atap Desa Mampok, Kecamatan Jemaja, Kabupaten Kepulauan Anambas, kini mengalami kerusakan parah pada bagian tiang coran dan tapak bawah. Kondisi ini membuat masyarakat, khususnya nelayan setempat, merasa resah karena pelabuhan tersebut selama ini menjadi sarana vital bagi aktivitas melaut maupun bongkar muat hasil tangkapan.
Pelabuhan yang dibangun perkiraan pada tahun 2007 dengan ukuran 12 x 4 meter menggunakan anggaran sekitar Rp.70 juta itu, sudah lebih dari 17 tahun berdiri. Usia yang tak lagi muda membuat konstruksi pelabuhan mulai rapuh, dan kini tampak jelas kerusakan pada beberapa titik penting.
Menurut penuturan Kepala Desa Mampok, Darmawizar, para nelayan terpaksa memindahkan pompong (perahu motor) mereka ke lokasi lain demi keamanan, karena dermaga tidak lagi layak digunakan.
“Kami resah dengan kondisi pelabuhan ini. Setiap hari nelayan sangat bergantung pada pelabuhan untuk berangkat melaut dan menurunkan hasil tangkapan. Sekarang karena rusak parah, pompong sudah kami pindahkan. Kami sangat berharap ada perhatian dan bantuan dari pemerintah daerah,” ungkap Darmawizar, Rabu (11/9/2025).
Berdasarkan data desa, terdapat sekitar 40 nelayan aktif di dusun III dengan lebih dari 20 unit pompong Nelayan Sekitar yang biasanya bersandar di pelabuhan tersebut. Sejak dermaga rusak, aktivitas mereka harus dialihkan ke lokasi lain yang jaraknya lebih jauh dan kurang memadai. Kondisi ini tentu menambah beban nelayan, baik dari sisi waktu maupun biaya operasional.
Masyarakat setempat menilai pelabuhan tersebut merupakan denyut nadi perekonomian Desa Mampok. Selain menjadi tempat bersandar nelayan, dermaga juga berperan penting dalam mendukung aktivitas perdagangan kecil antar-desa. Kerusakan yang dibiarkan berlarut-larut dikhawatirkan akan berdampak langsung pada ekonomi warga.
Dalam waktu dekat, pemerintah desa bersama masyarakat berencana menggelar rapat khusus untuk membahas langkah yang dapat ditempuh, baik melalui swadaya maupun dengan mendorong bantuan dari pemerintah kabupaten dan provinsi.
Kerusakan pelabuhan ini dirasakan langsung oleh nelayan. Baharin (55), salah seorang nelayan setempat, mengaku resah setiap kali menurunkan hasil tangkapannya.
“Kami berharap segera ada tindak lanjut. Jika tidak, nelayan akan semakin kesulitan dan aktivitas ekonomi kami nelayan akan terganggu, sekarang kami sudah pindahkan pompong gak berani disitu lagi bersandar. ungkapnya kepada awak media
Hingga kini, nelayan Desa Mampok berharap pemerintah terkait bisa turun langsung kelapangan melihat langsung kondisi pelabuhan, dan berharap dapat segera perbaikan pelabuhan. Mereka berharap agar fasilitas penting tersebut dapat segera dipulihkan demi menunjang kehidupan masyarakat pesisir yang mayoritas menggantungkan hidup dari laut. (YUDI)

Comment