BINTAN, SuaraKepri.com — Perwakilan warga dari Desa Teluk Bakau, Kecamatan Gunung Kijang, melakukan aksi penyetopan terhadap truk jenis dragon atau fuso pengangkut pasir yang melintas di kawasan Pasar Kawal, Senin siang (30/3). Mereka menilai kendaraan berat itu menjadi sumber utama kerusakan jalan, jembatan, dan ancaman kecelakaan lalu lintas di wilayah mereka.
Aksi yang berlangsung secara damai ini dipicu oleh keresahan warga yang selama bertahun-tahun menyaksikan infrastruktur desa rusak parah akibat beban berlebih yang dibawa truk-truk besar. Koordinator aksi dari Desa Teluk Bakau, David, menegaskan bahwa warga tidak melarang aktivitas pengangkutan pasir, tetapi menuntut penggunaan truk berkapasitas lebih kecil.
“Lori dragon atau fuso ini punya kapasitas angkut sangat besar, sekitar 10 hingga 12 kubik pasir. Jalan di lingkungan kami tidak mampu menahan beban seberat itu. Sementara lori kecil hanya 3 hingga 4 kubik per unit. Kalau ingin beroperasi, ganti dengan kapasitas kecil,” ujar David kepada wartawan di lokasi aksi.
Ia menambahkan, potensi kerusakan bukan sekadar ancaman. Jembatan di dekat Pasar Kawal pernah rusak dan tidak pernah ditanggung jawab oleh pihak pengangkut, sehingga pemerintah yang harus turun tangan memperbaikinya. Kini, kerusakan serupa kembali terjadi di Jembatan Sungai Glubi, Desa Malang Rapat.
“Ini bukan jalan tambang, ini jalan umum untuk masyarakat. Tolong ganti dengan angkutan yang memiliki kapasitas lebih kecil untuk meminimalisir kerusakan,” tegasnya.
Di tengah aksi yang berlangsung, petugas Bhabinkamtibmas Polsek Gunung Kijang, Polres Bintan, Aiptu Silalahi, mengimbau seluruh pihak untuk menjaga situasi tetap kondusif.
“Saya harap tidak ada aksi anarkis dalam penyetopan ini. Jangan sampai terjadi gesekan atau bentrokan yang tidak diinginkan,” pesan Silalahi.
Ketua RW 01 Desa Teluk Bakau, Arifin Aldiansyah, menyoroti persoalan lain yang tak kalah membahayakan, yaitu tumpahan pasir di badan jalan yang kerap tidak dibersihkan.
“Di jalan kawasan saya, ada tumpahan pasir persis di tikungan. Ini sangat rawan kecelakaan. Mereka sempat berjanji membersihkan, tapi sampai sekarang tidak juga dilakukan,” keluhnya.
Warga berharap pemerintah daerah segera merespons tuntutan ini dengan pengaturan ulang kendaraan angkut material di jalur-jalur pemukiman dan infrastruktur publik.



Comment