Promo FBS
FBS Reliable Broker
OpiniSuara Kepri

Ketika Pers Menjadi Infrastruktur Ekonomi Daerah

432
×

Ketika Pers Menjadi Infrastruktur Ekonomi Daerah

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi

Penulis: Aulia Cyntia Halimah

Masyarakat Umum

Pembangunan ekonomi daerah masih sering direduksi menjadi urusan anggaran dan deretan angka statistik. Infrastruktur dikebut, jalan diperlebar, kawasan industri disiapkan, seolah-olah pertumbuhan ekonomi akan hadir otomatis melalui pembangunan fisik. Pandangan ini tidak sepenuhnya salah, tetapi sangat tidak memadai. Ada faktor krusial yang nyaris luput dari perhatian: kualitas informasi yang beredar di ruang publik.

Dalam ekonomi modern, pemberitaan bukan sekadar catatan peristiwa, melainkan kekuatan yang mampu menguatkan atau melemahkan ekonomi suatu daerah. Informasi membentuk persepsi, persepsi melahirkan kepercayaan, dan kepercayaan menentukan arah keputusan ekonomi. Ketika kepercayaan runtuh, investasi tertahan, konsumsi melambat, dan roda ekonomi bergerak tersendat.

Ekonomi daerah sangat bergantung pada tingkat kepercayaan publik. Investor, pelaku usaha, dan masyarakat tidak hanya mengandalkan laporan resmi pemerintah, tetapi juga mencermati narasi yang dibangun oleh media. Stabilitas daerah dinilai dari konsistensi kebijakan, kondusivitas sosial, serta keterbukaan pemerintah dalam menerima kritik. Dalam konteks inilah pers memainkan peran penting sebagai ruang transparansi dan pengawasan di ranah publik.

Kualitas pemberitaan menjadi penentu arah persepsi publik terhadap suatu daerah. Tulisan yang akurat, berimbang, dan kontekstual mampu membangun citra daerah sebagai wilayah yang kredibel dan layak dipercaya. Sebaliknya, pemberitaan yang sensasional, bias, atau minim verifikasi berpotensi menciptakan stigma negatif. Dampaknya tidak berhenti pada persoalan citra, tetapi merembet langsung ke sektor ekonomi riil: minat investasi menurun, pelaku usaha ragu berkembang, dan kepercayaan publik terkikis.

Fakta menunjukkan bahwa ekonomi daerah mampu tetap melaju di tengah tantangan global ketika kepercayaan publik terjaga. Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat perekonomian Provinsi Kepulauan Riau tumbuh sebesar 7,48 persen pada triwulan III 2025, tertinggi di Sumatera dan menempati peringkat ketiga nasional. Capaian ini menegaskan bahwa ekonomi lokal memiliki daya tahan sekaligus potensi besar untuk terus berkembang. Namun, capaian tersebut membutuhkan narasi media yang proporsional agar optimisme publik dan kepercayaan investor tidak tergerus oleh pemberitaan yang keliru, berlebihan, atau tidak berimbang.

Kepercayaan publik tidak hadir secara tiba-tiba, melainkan dibentuk melalui arus informasi yang sehat dan bertanggung jawab. Ketika media mampu menyoroti capaian sekaligus tantangan pembangunan secara proporsional, optimisme publik dan keyakinan investor akan ikut menguat. Pers tidak bertugas menutup persoalan, tetapi menyajikannya secara jujur dan kontekstual agar masyarakat memperoleh gambaran utuh mengenai kondisi ekonomi daerah yang sesungguhnya.

Dampak tulisan jurnalistik juga terasa langsung di tingkat ekonomi lokal. Ketika media mengangkat kisah UMKM, pertanian rakyat, nelayan, atau pelaku ekonomi kreatif, yang terjadi bukan sekadar penyajian cerita human interest. Pemberitaan semacam ini membuka akses pasar, memperluas jejaring usaha, dan meningkatkan visibilitas pelaku ekonomi kecil yang selama ini berada di pinggiran arus utama ekonomi. Dalam banyak kasus, satu pemberitaan yang tepat sasaran mampu menghubungkan pelaku usaha lokal dengan peluang pasar yang lebih luas.

Peran ini menjadi semakin penting mengingat UMKM merupakan tulang punggung perekonomian nasional. Sektor ini menyumbang lebih dari 60 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional dan menyerap sekitar 97 persen tenaga kerja. Namun, kontribusi besar tersebut tidak akan berkembang secara optimal tanpa dukungan informasi yang memadai. Di sinilah media lokal memiliki posisi strategis sebagai jembatan edukasi publik sekaligus ruang promosi yang mendorong UMKM tumbuh, berkembang, dan berkontribusi lebih besar terhadap perekonomian daerah.

Di era digital, pengaruh tulisan semakin besar sekaligus berisiko. Satu artikel dapat menyebar luas dalam hitungan menit dan membentuk opini publik secara instan. Ketika ruang redaksi tergoda sensasi atau advertorial terselubung, kepercayaan publik pun terkikis. Dampaknya tidak hanya merusak kredibilitas media, tetapi juga melemahkan ekosistem ekonomi daerah yang bergantung pada informasi yang sehat, bertanggung jawab, dan dapat dipercaya. Pers yang abai terhadap etika jurnalistik pada akhirnya justru melemahkan ekonomi yang ingin dibangunnya sendiri.

Oleh karena itu, pers yang sehat semestinya dipahami sebagai bagian dari infrastruktur pembangunan. Jika jalan, pelabuhan, dan kawasan industri merupakan infrastruktur fisik, maka pers adalah infrastruktur informasi. Tanpa informasi yang kredibel, berimbang, dan dapat dipercaya, potensi ekonomi daerah sulit berkembang secara optimal. Pembangunan ekonomi membutuhkan narasi yang jujur, kritik yang bertanggung jawab dan membangun, serta keberanian media untuk menjunjung tinggi integritas dan kepentingan publik.

Pada akhirnya, pengaruh sebuah tulisan terhadap peningkatan ekonomi daerah memang tidak selalu terlihat dalam jangka pendek, tetapi dampaknya nyata dan berlapis. Tulisan membentuk persepsi, persepsi melahirkan kepercayaan, dan kepercayaan menjadi fondasi aktivitas ekonomi. Ketika pers menjaga integritasnya, ekonomi daerah memperoleh pijakan yang kokoh. Di situlah hubungan antara pers yang sehat dan ekonomi yang kuat menemukan maknanya.

Comment