Promo FBS
FBS Reliable Broker
Opini

Pandangan Mahasiswa Informatika tentang Masa Depan Pers di Era Digital

406
×

Pandangan Mahasiswa Informatika tentang Masa Depan Pers di Era Digital

Sebarkan artikel ini
Gambar ilustrasi

Penulis: Zony Fatmamulia

Mahasiswa UMRAH Jurusan Informatika

Perkembangan teknologi digital telah mengubah hampir seluruh sendi kehidupan manusia, termasuk dunia pers. Informasi kini bergerak sangat cepat, melampaui batas ruang dan waktu. Berita tidak lagi menunggu terbit di pagi hari, melainkan hadir setiap detik melalui gawai di tangan masyarakat. Di tengah arus percepatan ini, pers menghadapi tantangan besar: bagaimana tetap sehat secara etika dan profesional, sekaligus mampu bertahan secara ekonomi di tengah kompetisi digital yang semakin ketat.

Sebagai mahasiswa Informatika, saya memandang bahwa masa depan pers tidak ditentukan oleh seberapa cepat teknologi berkembang, melainkan oleh siapa dan untuk kepentingan apa teknologi tersebut dikendalikan. Pers yang sehat tidak boleh menyerahkan arah redaksinya kepada algoritma semata, tetapi harus tetap berpijak pada nilai kebenaran, akurasi, dan kepentingan publik sebagai fondasi utama jurnalistik.

Di era digital, algoritma media sosial dan mesin pencari tidak lagi sekadar menjadi alat distribusi informasi, tetapi telah berperan sebagai “penjaga gerbang” baru yang menentukan informasi apa yang layak sampai ke publik. Algoritma ini dirancang untuk memaksimalkan keterlibatan pengguna, bukan untuk menimbang kebenaran atau kepentingan publik. Akibatnya, konten sensasional, judul provokatif, dan praktik clickbait kerap memperoleh ruang lebih besar dibandingkan laporan yang mendalam, berimbang, dan berorientasi pada fakta. Situasi ini menjadi ancaman serius bagi kualitas dan martabat jurnalistik.

Dari sudut pandang Informatika, algoritma bekerja dengan membaca data dan pola perilaku pengguna. Ketika masyarakat lebih sering mengklik konten sensasional, sistem akan terus mereproduksi dan memperkuat jenis konten yang sama. Dalam situasi ini, media berada di persimpangan: mempertahankan prinsip jurnalistik atau menyesuaikan diri sepenuhnya dengan selera algoritma. Tanpa komitmen etika yang kuat, pers berisiko terjebak dalam logika mesin dan secara perlahan mengorbankan kualitas serta tanggung jawab publiknya.

Di luar persoalan etika, pers juga menghadapi tekanan ekonomi yang bersifat struktural. Perubahan model bisnis media berlangsung cepat, sementara sumber pendapatan tradisional terus menurun. Di ruang digital, sebagian besar pendapatan iklan justru dikuasai oleh platform teknologi besar, bukan oleh ruang redaksi yang memproduksi berita. Akibatnya, media—terutama media lokal—dipaksa bertahan dalam kompetisi digital dengan sumber daya yang semakin terbatas.

Tekanan ekonomi kerap dijadikan alasan untuk menormalisasi praktik jurnalistik yang serba cepat dan minim verifikasi. Demi mengejar trafik dan pemasukan iklan, sebagian media tergoda memproduksi berita instan tanpa pendalaman yang memadai. Praktik semacam ini mungkin menguntungkan dalam jangka pendek, tetapi secara perlahan menggerus kepercayaan publik. Padahal, kepercayaan adalah modal utama pers. Ketika kepercayaan hilang, pers tidak hanya kehilangan pembaca dan pengiklan, tetapi juga kehilangan legitimasi sosialnya sebagai institusi publik.

Dalam konteks daerah, pers lokal memegang peran strategis yang tidak dapat digantikan oleh media nasional atau platform digital. Pers lokal tidak hanya menyampaikan informasi, tetapi juga mengawal kebijakan publik, merekam denyut persoalan masyarakat, serta memperkenalkan potensi daerah—mulai dari UMKM hingga ekonomi kreatif. Namun, peran ini hanya dapat dijalankan secara bermakna jika pers berdiri di atas fondasi profesionalisme dan integritas. Pembangunan ekonomi daerah membutuhkan informasi yang sehat, akurat, dan berpihak pada kepentingan publik, bukan sekadar konten yang ramai di ruang digital.

Sebagai generasi yang tumbuh bersama teknologi, mahasiswa Informatika tidak dapat bersikap netral terhadap kondisi ekosistem informasi saat ini. Pengetahuan teknologi membawa tanggung jawab moral untuk memastikan bahwa sistem digital tidak justru merusak kualitas pers. Teknologi seharusnya dimanfaatkan untuk memperkuat kerja jurnalistik—mulai dari pengembangan jurnalisme data, pemanfaatan kecerdasan buatan untuk verifikasi fakta, hingga sistem manajemen konten yang transparan dan akuntabel.

Di sisi lain, literasi digital masyarakat menjadi elemen kunci dalam menjaga kesehatan ekosistem pers. Publik yang kritis dan melek informasi tidak mudah terjebak pada hoaks atau manipulasi algoritmik. Ketika masyarakat mampu membedakan informasi yang berkualitas dan bertanggung jawab, pers yang sehat akan memperoleh ruang dan dukungan publik. Dari sinilah terbentuk siklus positif: kualitas jurnalistik menumbuhkan kepercayaan, dan kepercayaan publik menjadi fondasi keberlanjutan ekonomi media.pers berkualitas meningkatkan kepercayaan publik, kepercayaan publik memperkuat ekonomi media.

Masa depan pers di era digital tidak ditentukan oleh teknologi itu sendiri, melainkan oleh keberanian manusia dalam menjaga nilai di tengah perubahan. Tantangan digital seharusnya dibaca sebagai peluang untuk memperkuat, bukan mengorbankan, etika dan kepentingan publik. Teknologi hanyalah alat; manusialah yang menentukan apakah ia menjadi sarana pencerahan atau justru alat degradasi informasi.

Sebagai mahasiswa Informatika, saya meyakini bahwa pers yang sehat adalah fondasi bagi ekonomi yang kuat. Ketika pers mampu menjaga integritas di tengah arus digitalisasi, maka pers tidak hanya bertahan, tetapi juga berkontribusi nyata dalam pembangunan sosial dan ekonomi. Di era digital ini, kolaborasi antara insan pers, akademisi, dan masyarakat menjadi kunci untuk memastikan bahwa teknologi membawa kemajuan, bukan kemunduran, bagi dunia jurnalistik.

Comment