LINGGA, SUARAKEPRI.COM – Pantai pasir panjang (PP), begitu sebutan masyarakat Daik Lingga, menggambarkan kecintaan mereka pada pesona yang tersuguh di negeri bunda tanah melayu.
Keasrian pasir putih yang dipercantik oleh lautan biru nan hijau ditambah batuan-batuan putihnya yang alami, menjelaskan identitas pantai pasir panjang ini memang kaya akan pesona pantainya.
Apalagi pantai pasir panjang ini juga memiliki objek wisata sejara kesultanan melayu berupa benteng dan meriam-meriam yang masih terjaga dengan baik.
Tapi alangkah menyedihkannya pantai yang memiliki ke indahan dan paronama alam yang masih asri itu tidak pernah tersentuh oleh pemerintah Kabupaten Lingga.
Bahkan pantai pasir panjang ini letaknya tidak jauh dari pusat ibukota Kabupaten Lingga, hanya butuh 30 menit untuk sampai ke Pantai Pasir Panjang itu.
Tapi sayang, hal itu jauh dari harapan, Pantai Pasir Panjang ini harus mati suri, karena tidak perna tersentuh oleh pemerintah kabupaten Lingga.
Padahal menurut salah satu pemuda tempatan Ridho, Pantai Pasir Panjang ini selalu dijadikan alternatif masyarakat khususnya Daik, untuk menghabiskan akhir pekan mereka bersama keluarga tercinta.
Bahkan, lanjut Ridho, pantai pasir panjang ini juga selalu di jadikan tempat berkreasi mandi sapar, yang di percaya orang melayu untuk menjauhkan mereka dari balak bahaya (tolak bale).
“Sayang pesona alam lingga ini terbiarkan bahkan terkesan kumuh. Padahal pantai pasir panjang ini banyak diminati masyarakat daik untuk berlibur,” ujar Ridho salah satu anggota RTC, Rabu (28/03).
Dan yang lebih menyedihkannya lagi, pantai pasir panjang ini minim akan fasilitas umum, seperti tidak adanya kursi untuk bersantai, gazebo yang sudah rapuh dan bocor, wc umum tapi tidak di alirin air.
Mushola yang terkunci dan bocor bahkan villa penginapan pun juga tidak terawat, padahal fasilitas-fasilitas ini ada pendukun sarana-prasarana pendukung yang wajib di perhatikan, tapi nyatanya ini berbanding terbalik.
pantau suarakepri.com di lapangan, seringkali setiap akhir pekan tiba, pasir panjang ini menjadi salah satu alternatif para kepala dinas-kepala dinas di seputaran pemerintah kabupaten lingga.
Menghabiskan akhir pekannya mereka bersama keluarga tercinta.
Seharusnya hal ini bisa menjadi acuan dan tolak ukur bagi pemerintah Kabupaten lingga, untuk memajukan objek wisata Pantai Pasir.
Dan menambah fasilitas-fasilitas umum, yang bisa mendukung kenyamanan wisatawan-wisatawan lokal maupun wisatawan luar daerah bahkan wisatawan manca Negara.
“Fasilitas-fasilitas umum disini udah pada rusak dan tidak terawat, bahkan pintu masuk pantai pasir panjang ini masih tanah berbatu merah, gazebo yang sudah pada bocor, bahkan villa di ujung pantai ini sudah di tumbuhi rerumputan dan sebagian lantai di makan anai, yang lebih parah wc disini semuanya tidak di alirin air bersih,” keluh Ridho.
Hal yang sama di sampaikan salah seoorang perwakilan komunitas Malagenta, Dimas, ia juga menghimbau kepada generasi muda dan bapak-bapak yang berlibur bersama kelurga ke pasir panjang ini untuk tidak membuang smapah sembaranggan.
“Selain kita meminta kepada pemerintah untuk menyikapi segala kekuranggan yang ada di pantai pasir panjang ini, saya sebagai pemuda tempatan juga berharap, agar para pengunjung tidak membuang sampah sembarangan, kalau tempat sampah tidak ada,kan bisa di bawak pulang, seharusnya ini menjadi proritas kita bersama agar pantai pasir panjang tercinta kita ini bisa bersih dan nyaman,” tambah Dimas.
Jangankan fasilitas, identitas pantai tersebut pun tidak perna terpasang di pintu masuk pantai. Seluruh masyarakat daik lingga berharap agar hal ini cepat di tanggapi dan di carikan solusinya.
“Bayangkan jika objek wisata pantai pasir panjang ini bisa di kelola dengan baik, berapa banyak tenaga kerja yang bisa di serap dan beberapa banyak pemasukan yang bisa di dapat. Dari parkir, pintu masuk, sewa menyewa dan lain-lain,” tambah Ridho.
Perbandingan, mungkin jika pantai pasir panjang ini bisa dikelola, mungkin sama halnya seperti pantai Trikora, yang ada di Desa Malang Rapat, Provinsi Kepulauan Riau.
Penulis: Rian







Comment