TANJUNGPINANG, SuaraKepri.com – Akademisi Universitas Maritim Raja Ali Haji (UMRAH) Wahyu Eko mengkritik tata ruang permukiman di Kota Tanjungpinang yang dinilai tidak tertata. Ia menilai, perubahan daerah tangkapan air menjadi kawasan permukiman berpotensi meningkatkan risiko banjir di masa depan.
Dalam Focus Group Discussion (FGD) bertajuk “Strategi Bangkitkan Perekonomian Tanjungpinang” di Hotel Pelangi baru-baru ini, Wahyu menyebutkan bahwa perkembangan kota saat ini banyak mengarah ke wilayah Tanjungpinang Timur, yang justru mengurangi area resapan air.
“Saya tinggal di Tanjungpinang lebih dari 13 tahun. Perkembangan kota kini banyak ke arah timur, tetapi itu mengubah daerah tangkapan air menjadi perumahan,” ujarnya, pada hari Selasa (23/12/2025).
Ia menambahkan, penyebabnya bisa berasal dari rencana tata ruang yang tidak jelas atau pemberian izin bangunan yang tidak ramah lingkungan.
“Jika dibiarkan, dalam 10 sampai 20 tahun ke depan banjir di Tanjungpinang akan semakin parah. Kita tidak boleh menganggap ini sepele. Banyak bencana banjir di Sumatra Barat, Sumatra Utara, dan Aceh salah satunya dipicu oleh berkurangnya daerah tangkapan air,” tegas Wahyu.
Oleh karena itu, ia mendesak Pemerintah Kota Tanjungpinang untuk mengevaluasi penataan kawasan permukiman, antara lain dengan tidak lagi mengizinkan pembangunan di zona resapan air.
“Kita ingin Tanjungpinang tetap eksis dan aman sampai ke anak cucu. Masalah ini harus dipikirkan dari sekarang agar tidak menimbulkan bencana di kemudian hari,” pungkasnya.
Penulis: Angga
Editor : Agus Lantang

Comment