Promo FBS
FBS Reliable Broker
Opini

Dari Pendidikan ke Kepatuhan: Catatan tentang Matinya Pedagogi

244
×

Dari Pendidikan ke Kepatuhan: Catatan tentang Matinya Pedagogi

Sebarkan artikel ini
Seniman Kriya Bintan, Wak Lebon

Kondisi intelektual kita hari ini lebih banyak dibentuk oleh demagogi ketimbang pedagogi. Kita tumbuh dalam sistem yang mengajarkan cara mengikuti, bukan cara mempertanyakan. Sejak awal, kita tidak dilatih untuk “bertengkar” secara intelektual—bertengkar dalam arti adu gagasan, menguji argumen, dan merawat perbedaan. Yang kita pelajari justru kepatuhan: patuh pada otoritas, pada senioritas, pada simbol, dan pada nama besar kelompok.

Pedagogi sejatinya melatih manusia berpikir: mengapa sesuatu benar, dari mana kebenaran itu berasal, dan siapa yang diuntungkan olehnya. Namun yang terjadi justru sebaliknya. Demagogi bekerja dengan emosi, bukan nalar. Ia menanamkan loyalitas buta, membungkam kritik dengan rasa takut, dan mengganti dialog dengan slogan. Dalam kondisi seperti ini, intelektualitas tidak tumbuh sebagai kesadaran, melainkan sebagai identitas kelompok.

Akibatnya, perbedaan pendapat tidak dipandang sebagai proses belajar, melainkan sebagai ancaman. Kritik dianggap pembangkangan. Pertanyaan dianggap kurang ajar. Inilah ciri masyarakat feodal yang bersembunyi di balik modernitas: hierarki dijaga, senior tak boleh salah, dan yang muda cukup mendengar. Sistem ini tidak membutuhkan manusia berpikir, melainkan manusia patuh.

Demagogi menjadi subur karena ia memberi rasa aman palsu. Ia menawarkan jawaban instan, musuh bersama, dan ilusi kebenaran tunggal. Pedagogi, sebaliknya, menuntut ketidaknyamanan: berpikir ulang, ragu, dan siap salah. Maka tidak heran jika pedagogi sering dianggap berbahaya—karena ia melahirkan manusia yang sulit dikendalikan.

Jika kondisi ini terus dibiarkan, intelektual hanya akan menjadi hiasan status, bukan alat pembebasan. Kita akan ramai berbicara, tapi miskin berpikir. Jalan keluarnya bukan sekadar mengganti kurikulum, melainkan membongkar budaya feodal dalam cara kita belajar, berdiskusi, dan berorganisasi. Kita perlu kembali melatih keberanian bertanya, berdebat, dan berbeda—karena hanya dari sanalah pedagogi yang sejati bisa hidup.

Comment