Oleh: Tafan Juristian Putra|Kaperwil Bintan Suara Kepri
Di banyak lingkungan kerja, pembahasan mengenai profesionalisme sering kali hanya berfokus pada target, disiplin, dan etika komunikasi formal. Namun, ada persoalan lain yang kerap luput dibahas secara terbuka, yakni bagaimana batas tubuh dan kenyamanan personal dihormati dalam relasi kerja, terutama ketika terdapat ketimpangan jabatan antara atasan dan bawahan.
Belakangan, istilah “kecerdasan seksual” mulai sering digunakan dalam berbagai diskusi psikologi, relasi interpersonal, hingga pengembangan diri. Secara umum, konsep ini berkaitan dengan kemampuan seseorang memahami batas, consent (persetujuan), komunikasi sehat, serta penghormatan terhadap kenyamanan orang lain dalam interaksi sosial maupun relasi intim.
Namun, persoalan muncul ketika istilah tersebut justru digunakan untuk membenarkan perilaku yang melewati batas profesional.
Dalam sejumlah kasus di lingkungan kerja, terdapat situasi di mana seorang atasan mempertanyakan alasan bawahan menolak sentuhan fisik. Penolakan itu kemudian diperdebatkan dengan logika bahwa jika pasangan seseorang boleh melakukan sentuhan, maka orang lain seharusnya tidak dianggap berbeda. Bahkan, ada yang mengaitkannya dengan tuduhan bahwa bawahan “tidak memahami kecerdasan seksual.”
Pandangan seperti ini perlu diluruskan.
Consent Tidak Bersifat Umum
Dalam perspektif psikologi komunikasi modern, consent atau persetujuan tidak bersifat universal. Persetujuan yang diberikan kepada satu orang tidak otomatis berlaku kepada orang lain.
Seseorang dapat merasa nyaman disentuh oleh pasangan, keluarga, atau sahabat dekat, tetapi tidak nyaman disentuh oleh rekan kerja maupun atasan. Hal tersebut bukan bentuk inkonsistensi, melainkan bagian dari hak personal atas tubuh dan ruang aman masing-masing individu.
Pakar relasi interpersonal menegaskan bahwa kenyamanan fisik seseorang tidak dapat diperdebatkan hanya karena adanya hubungan sosial tertentu dengan pihak lain.
Dengan kata lain, kalimat sederhana seperti:
“Saya tidak nyaman disentuh”
sudah cukup dan valid tanpa perlu diuji, diperdebatkan, ataupun dianalisis secara psikologis oleh orang lain.
Ketimpangan Jabatan Membuat Situasi Menjadi Sensitif
Dalam relasi kerja, terutama antara pimpinan dan staf, terdapat ketimpangan kuasa yang tidak bisa diabaikan. Atasan memiliki pengaruh terhadap penilaian kerja, posisi, maupun lingkungan profesional bawahannya.
Karena itu, pembicaraan mengenai tubuh, sentuhan, atau kedekatan personal menjadi sangat sensitif apabila dilakukan oleh pihak yang memiliki otoritas lebih tinggi.
Yang sering kali terjadi, bawahan berada dalam posisi sulit untuk menolak secara tegas karena khawatir dianggap tidak sopan, tidak loyal, atau memengaruhi hubungan kerja.
Situasi inilah yang membuat standar profesionalisme bagi seorang pimpinan harus jauh lebih tinggi dibanding relasi sosial biasa.
Kecerdasan Seksual Justru Mengajarkan Penghormatan terhadap Batas
Ironisnya, konsep kecerdasan seksual yang sehat sebenarnya tidak berkaitan dengan kemampuan membenarkan sentuhan atau mendebat penolakan seseorang.
Sebaliknya, kecerdasan seksual justru mencakup:
- kemampuan memahami consent,
- menghormati batas tubuh,
- membaca ketidaknyamanan orang lain,
- serta menghindari perilaku manipulatif dalam relasi interpersonal.
Artinya, seseorang yang benar-benar memahami kecerdasan seksual semestinya mampu menerima penolakan tanpa menjadikannya bahan perdebatan.
Profesionalisme Tidak Hanya Soal Pekerjaan
Di era modern, profesionalisme tidak lagi hanya diukur dari capaian kerja dan kemampuan memimpin tim. Cara seseorang menghormati ruang aman, batas pribadi, dan kenyamanan orang lain juga menjadi bagian penting dari budaya kerja yang sehat.
Lingkungan kerja yang aman bukan hanya bebas dari kekerasan fisik, tetapi juga bebas dari tekanan psikologis yang membuat seseorang merasa tidak nyaman untuk mempertahankan batas dirinya sendiri.
Karena pada akhirnya, menghormati seseorang bukan dimulai dari seberapa dekat kita ingin diterima, melainkan dari seberapa mampu kita memahami batas yang ingin mereka jaga.

Comment