Anambas, SuaraKepri.com – Malam itu, Jum’at, (29/8), lapangan voli Desa Tiangau, Kecamatan Siantan Selatan, menjadi saksi sejarah.
Sorakan penonton pecah, tepuk tangan bergemuruh, dan air mata bahagia tak terbendung ketika IKAMATA, tim kebanggaan warga Desa Tarempa Barat, memastikan diri menjadi juara KTMI Cup 2025.
Skor akhir 3-1 melawan ARF, salah satu tim tangguh dalam turnamen, menjadi bukti bahwa perjuangan tak pernah mengkhianati hasil.
Set demi set berlangsung menegangkan, saling balas serangan membuat penonton menahan napas.
Namun, IKAMATA selalu menemukan cara untuk bangkit dan menguasai jalannya permainan.
Padahal, sejak awal turnamen, IKAMATA hanya dianggap “kuda hitam”.
Lawan memandang sebelah mata, bahkan ada yang meragukan mereka bisa bertahan lama.
Namun komposisi pemain yang diramu dari sejumlah atlet voli Kepri justru menjelma menjadi harmoni indah, menghasilkan permainan cantik yang menuai pujian.
Di tengah absennya tosser utama, Icha, justru muncul bintang baru. Naisa, atlet muda asal Kabupaten Lingga, tampil penuh semangat.
Kepandaian dan kecerdikannya membaca arah bola membuat permainan IKAMATA lebih hidup.
Blok-bloknya yang kokoh mematahkan serangan lawan, umpannya cerdas, dan semangatnya menular ke rekan setim.
Kemenangan ini terasa makin emosional bagi Naisa. Turnamen KTMI Cup 2025 adalah kali pertama ia bermain di Kabupaten Anambas.
Demi membela IKAMATA, ia rela menempuh perjalanan laut selama 16 jam dari Lingga.
“Saya hanya ingin memberikan yang terbaik, untuk tim, untuk mereka yang percaya, dan untuk masyarakat yang selalu mendukung,” ucap Naisa dengan suara bergetar, matanya berkaca-kaca.
Dan perjuangan panjang itu terbayar lunas. IKAMATA berhak membawa pulang piala juara dan uang pembinaan sebesar Rp 12 juta.
Tak lupa, mereka menyampaikan rasa terima kasih kepada sponsor yang setia mendukung penuh: Proxinet Anambas dan Batam Pos.
Malam kemenangan itu menjadi bukti bahwa kerja keras, keberanian, dan doa mampu menembus batas keraguan.
Dari tim yang diremehkan, IKAMATA menjelma menjadi juara. Dari perjalanan panjang seorang anak Lingga, lahirlah inspirasi bahwa mimpi bisa digapai, meski harus ditempuh dengan peluh, lelah, dan air mata. (Yudi)

Comment