Promo FBS
FBS Reliable Broker
OpiniSuara Kepri

Manusia Indonesia: Bayang-Bayang yang Masih Relevan

2288
×

Manusia Indonesia: Bayang-Bayang yang Masih Relevan

Sebarkan artikel ini

Oleh: Muhammad Hosri

Sudah lebih dari empat dekade sejak Mochtar Lubis menyampaikan pidatonya yang legendaris berjudul “Manusia Indonesia” di Taman Ismail Marzuki tahun 1977. Dalam pidato yang kemudian dibukukan itu, ia menelanjangi watak dasar manusia Indonesia dengan enam karakter utama: munafik, enggan bertanggung jawab, feodal, percaya takhayul, artistik, dan lemah watak.

Ironisnya, setelah puluhan tahun berlalu, daftar hitam itu bukan semakin pudar, melainkan justru menemukan bentuk-bentuk baru yang lebih canggih dalam tubuh masyarakat kita hari ini. Manusia Indonesia kini berdandan modern, berteknologi tinggi, dan berbicara soal transformasi digital, namun watak dasar yang dikritik Mochtar Lubis tetap hidup — bahkan beranak-pinak dalam berbagai lapisan kekuasaan dan kehidupan sosial.

Munafik dan Feodalisme Digital

Mochtar menuduh manusia Indonesia sebagai munafik, karena kerap menyembunyikan wajah aslinya demi kepentingan pribadi. Kini, kemunafikan hadir lewat pencitraan massal di media sosial. Pejabat bicara soal antikorupsi sambil menyembunyikan kekayaan, tokoh agama berceramah soal akhlak sambil menumpuk skandal, dan publik figur mempromosikan moralitas sambil memanipulasi realita hidupnya untuk citra.

Feodalisme yang dulu bersandar pada garis keturunan atau kuasa politik, kini menjelma dalam bentuk loyalitas terhadap tokoh dan merek dagang. Rasionalitas dan integritas dikorbankan demi kedekatan, jabatan, atau gengsi. Di birokrasi dan politik, feodalisme subur dalam bentuk patronase dan kultus individu. Kita lebih sibuk mencari “siapa orang dalamnya” ketimbang membangun sistem yang adil.

Takut Bertanggung Jawab, Ahli Kambing Hitam

Ciri manusia Indonesia lain menurut Mochtar Lubis adalah enggan bertanggung jawab. Dalam dunia modern yang menuntut akuntabilitas, watak ini menjadi bom waktu. Ketika ada bencana, yang disalahkan cuaca. Ketika ada korupsi, yang disalahkan sistem. Ketika ada kekerasan, yang disalahkan budaya.

Bahkan dalam lingkup kecil — dari sekolah hingga organisasi — kita temui pola pikir ini: lebih baik diam dan aman, daripada bicara dan disalahkan. Inilah mengapa banyak institusi publik berjalan tanpa arah, karena orang-orang di dalamnya lebih fokus menyelamatkan diri ketimbang memperbaiki keadaan.

Manusia yang Percaya Takhayul, Tapi Bangga pada Mitos Digital

Mochtar menyindir masyarakat kita yang percaya takhayul, dan hingga kini bentuknya belum benar-benar musnah. Kita masih percaya bahwa “pemimpin itu pilihan langit”, bahwa “rezeki sudah ada yang atur” (sebagai alasan pasrah), atau bahwa kritik adalah bentuk kebencian.

Di era digital, takhayul itu berubah rupa: percaya teori konspirasi lebih dari data, menelan hoaks tanpa verifikasi, menyebar narasi absurd tanpa akal sehat. Di masyarakat modern, ini bukan hanya kebodohan, melainkan bentuk kemalasan berpikir yang disengaja.

Lemah Watak di Tengah Gemuruh Demokrasi

Paling menyedihkan dari semua, menurut Mochtar, adalah kelemahan watak. Manusia Indonesia mudah menyerah, enggan melawan ketidakadilan, dan lebih senang menjadi penonton daripada pelaku perubahan. Bahkan hari ini, di tengah demokrasi yang membuka ruang partisipasi, watak itu tetap dominan.

Masyarakat kita sering marah di media sosial, namun diam di kotak suara. Kita protes di ruang maya, namun absen di ruang nyata. Kita marah pada korupsi, namun memilih pelakunya karena “ia dermawan.”

Apakah Kita Masih Manusia Indonesia yang Sama?

Pertanyaan besar harus diajukan: apakah yang digambarkan Mochtar Lubis adalah potret sejarah, atau justru naskah abadi bangsa ini? Jika benar kita belum berubah, maka jangan heran bila bangsa ini terus berjalan di tempat — atau lebih buruk, melangkah mundur dengan langkah yang terlihat maju.
Sudah waktunya bangsa ini memutus lingkaran setan watak buruk tersebut. Pendidikan kita harus menanamkan keberanian bertanggung jawab, budaya politik kita harus dibersihkan dari feodalisme modern, dan publik harus belajar menghormati kebenaran — bukan sekadar citra.

Penutup
Mochtar Lubis telah lama tiada, tetapi cermin besar yang ia pasang masih memantulkan wajah kita hari ini. Kita bisa memilih untuk memecahkan cermin itu dan pura-pura semuanya baik-baik saja, atau kita bisa memilih untuk menatap bayangan itu dan mulai berubah — dengan jujur, berani, dan bertanggung jawab.

Karena jika tidak, maka selama-lamanya kita hanya akan menjadi “manusia Indonesia” versi lama dalam balutan baru. Dan sejarah, seperti kata bijak, akan terus berulang — sebagai tragedi dan lelucon yang menyakitkan.

Comment