Tanjungpinang, SuaraKepri.com – Organisasi masyarakat Komunitas Marwah Anak Negeri Tuah Berbenah (MANTAB) Tanjungpinang menggelar rapat dengar pendapat bersama puluhan pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Kedai Kopi Bahagia, Minggu pagi(15/2). Musyawarah yang berlangsung pukul 10.00 WIB ini membahas persiapan dan rencana kemitraan strategis dalam penyelenggaraan Bazar Ramadan mendatang, sekaligus menjaring aspirasi para pedagang.
Perwakilan panitia MANTAB dalam sambutannya menegaskan komitmen organisasi untuk bersinergi dengan Pemerintah Kota Tanjungpinang dalam mewujudkan visi dan misi pembangunan, khususnya di sektor pemberdayaan ekonomi kerakyatan. “Kami sangat mendukung dan berusaha membantu wali kota untuk memajukan UMKM, koperasi, dan pelaku ekonomi mikro. Bazar Ramadan ini adalah salah satu wujud nyata ikhtiar kami,” ujarnya Azmirullah alias Jimmy.
Dalam pertemuan yang berlangsung hangat tersebut, MANTAB memaparkan sejumlah poin penting terkait kemitraan jangka panjang. Pihaknya mengajak para pelaku UMKM untuk bermitra tidak hanya pada event Bazar Ramadan tahun ini, tetapi juga secara berkelanjutan di tahun-tahun mendatang. “Kerja sama ini dirancang untuk terus berlanjut, tidak terbatas tahun ini saja. Bahkan ke depan, kemitraan bisa diperluas pada event lain, tergantung situasi dan peluang ekonomi yang ada,” tambahnya.
Soal biaya sewa stan, MANTAB memastikan bahwa penetapan biaya tidak semata-mata berdasarkan perhitungan keuntungan bisnis, melainkan mempertimbangkan modal yang dikeluarkan, honor panitia, serta kemampuan UMKM sebagai peserta. Teknis pembayaran pun akan diupayakan fleksibel untuk meringankan beban pedagang. Sebagai bentuk apresiasi, peserta tahun ini juga mendapat jaminan hak istimewa sebagai peserta bazar di tahun-tahun mendatang, kecuali mengundurkan diri atau dalam kondisi darurat.
Aspirasi Pedagang: dari Tata Letak Stan hingga Atap Bocor
Sesi dialog menjadi bagian terpenting dalam musyawarah ini. Sejumlah pedagang menyampaikan masukan dan usulan konstruktif demi suksesnya acara.
Ibu Luluk, pelaku usaha kuliner, mengusulkan adanya evaluasi tata letak stan. Ia meminta agar stan kuliner yang saat ini diposisikan membelakangi taman dan jalan raya dapat dipindahkan ke posisi yang lebih strategis. Sebagai gantinya, ia mengusulkan pengurangan enam stan fesyen yang dinilai kurang efektif. Tak hanya itu, ia juga menanyakan kepastian jam operasional Bazar Sei Carang. “Kami perlu tahu pasti jam buka dan tutupnya agar bisa mempersiapkan dagangan dengan baik,” ujarnya.
Sementara itu, Ibu Yuli yang mewakili pedagang fesyen menyoroti akses masuk ke area stan fesyen yang dinilai terlalu sempit. “Kami minta akses jalannya dilebarkan agar pengunjung nyaman dan lalu lintas di dalam bazar tidak padat,” usulnya.
Usulan kreatif datang dari Ibu Indah yang menggagas adanya program kupon berhadiah untuk menarik minat pengunjung. Ia juga mendorong MANTAB untuk bersurat kepada Wali Kota Tanjungpinang agar mengimbau organisasi perangkat daerah (OPD) berbelanja di Bazar Sei Carang sebagai bentuk dukungan nyata. “Kita juga perlu mencari sponsor dari berbagai pihak untuk mendukung kegiatan bazar agar lebih meriah,” tandasnya.
Aspirasi teknis lainnya disampaikan Pak Uda, pedagang fesyen, yang meminta evaluasi terhadap kualitas terpal tenda. “Untuk stan fesyen, terpal tenda perlu dievaluasi agar tidak bocor saat hujan lebat. Kalau bocor, bisa merusak pakaian dagangan kami. Ini penting karena barang dagangan kami sangat sensitif terhadap air,” jelasnya.
Musyawarah ditutup dengan optimisme dan harapan dari seluruh pihak. MANTAB berjanji akan menindaklanjuti seluruh masukan dan menuangkannya dalam perencanaan teknis Bazar Ramadan. “Semoga kemitraan MANTAB dan UMKM ini mendapat rida dari Allah SWT sebagai salah satu ikhtiar untuk memajukan perekonomian masyarakat,” pungkas perwakilan MANTAB mengakhiri pertemuan.
Dengan semangat kebersamaan ini, Bazar Ramadan 2026 diharapkan tidak hanya menjadi ajang ekonomi, tetapi juga wadah silaturahmi dan kolaborasi yang membawa berkah bagi semua pihak.


Comment