TANJUNGPINANG, SuaraKepri.com – Kepala Staff Angkatan Laut (KSAL), Laksamana Dr. Marsetio mengaku dirinya pernah berhutang budi terhadap Rumah Sakit Angkatan Laut (RSAL) Midiyanto Suratani.
Dirinya juga telah merasa seperti warga Kepri khususnya Tanjungpinang, karena sejak awal bertugas di kesatuan Angkatan Laut ia pernah ditugaskan di Kepri.
“Hanya Kartu Tanda Penduduk (KTP) saya saja yang belum dikeluarkan dari Kepri ini oleh Gubernur kita,” ujar Marsetio dalam pidato sambutannya dalam acara peresmian gedung Trauma Center RSAL, pada hari Sabtu (27/9).
Saat masih berpangkat Letda, Marsetio menceritakan bahwa dirinya pernah ditugaskan di Kapal KRI Patahillah.
“Saat itu kami berangkat dari Surabaya, menuju pulau Sambu. Ketika telah tiba, kami saat itu ingin bersandar, tiba-tiba terjadi musibah. Tali kapal KRI Patahillah putus, sehingga menimbulkan korban,” ceritanya.
Dari musibah itu ada empat korban, Serka Suarno yang mengalami kaki putus, korban kedua Marsetio sendiri mengalami kaki patah, Pamen (Mayor) dan Tamtama.
“Saya dan Serka Suarno dilarikan dan dirawat di RSAL Tanjungpinang. Serka Suarno sendiri akhirnya meninggal karena kehabisan darah dan dimakamkan di makam pahlawan Tanjungpinang,” paparnya.
Marsetio sendiri setelah sembuh, dibawa kembali ke Surabaya. “Saya betul-betul banyak berhutang budi terhadap RSAL ini berdasarkan sejarah awal karir saya. Sudah sepantasnya rumah sakit ini mendapatkan perhatian agar dapat memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat,” ungkapnya.
[sk]



Comment