Unggulan Yang Kekurangan Biaya Untuk Ikut Final Putri Indonesia

TANJUNGPINANG, SuaraKepri.com – Satu kebanggaan, itulah yang dirasakan oleh Tiara Chairani Permata Dely, yang mewakili Provinsi Kepri diajang Putri Indonesia di bulan Februari nanti.
Dengan usia yang masih umur 20, Tiara sapaan akrabnya telah banyak mengantongi segudang prestasi di dunia modeling dan broadcasting.
Mahasiswi Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Tanjungpinang, jurusan Bahasa Inggris ini berhasil terpilih dari para finalis Putri Indonesia yang akan mewakili Provinsi Kepri, yang dilaksanakan di Batam, pada 29 November yang lalu.
Gadis, kelahiran pekanbaru, 25 Agustus 1994, ini merupakan putri dari pasangan bapak Nurely dan ibu Dewi Disni.
Saat didatangi awak media ke diaman tantenya di Jalan Perintis, tampak ke ramah tamahan dari Tiara ketika menyambut kedatangan kami, pada hari Sabtu sore (10/1).
“Saya dulu sekolahnya, SD Negeri 001 Tanjungpinang Barat, SMP Hang Tuah Tanjungpinang, dan SMA Negeri 5 Tanjungpinang, tamat tahun 2011. Meski orang tua saya berlatar belakang orang tak mampu, itu tidak akan mematahkan semangat saya dalam ajang Final Putri Indonesia nanti,” ujar Tiara dengan senyum khasnya.
Tiara sendiri bukanlah dari keluarga kalangan atas, ayahnya hanya bekerja wiraswasta dan ibunya terkadang berjualan kerpuk serta kue kering bila ada orderan.
“Ya, bila ada orderan, ibu saya baru buat kerupuk dan kue kering di Singapora buat menopang keluarga,” jelasnya.
Untuk mengikuti ajang Putri Indonesia tahun 2015 ini, Tiara tidak sedikit membutuhkan biaya dalam ajang bergengsi tersebut.
“Sementara dari panitia hanya menyediakan tiket pulang pergi pada ajang Putri Indonesia akan digelar. Padahal biaya yang dibutuhkan cukup banyak, baik itu untuk busana, alat kecantikan wanita dan biaya lainnya lagi selama berada di Jakarta,” paparnya.
Memang diakui Tiara, dari Pemprov Kepri melalui Dinas Pariwisatanya telah membantu tiket dan 50 souvenir asal Kepri.
“Bantuan souvenir itu sudah dalam satu paket seperti jam akrelit, kain batik Kepri, dan lainnya. Sudah dipaket oleh orang Dinas Pariwisata Kepri. Bantuan tiket akan digunakan sebagai transportasi mengikuti pelatihan pada tanggal 18 Januari nanti,” tegasnya.
Bantuan lain yang baru didapat Tiara berupa baju batik gonggong, yang juga sudah menjadi sponsor dari daerah.
Padahal prestasi yang dirinya raih tidak sedikit, antara lain Duta Wisata Kepri tahun 2010, juara 1 busana kreasi melayu, Festival Kuliner mengisi acara, Batam Internasional Fashion wig, Miss Valentine dan masih banyak segudang lagi prestasi lainnya.
“Rata-rata juara 1, hanya dua kali juara 2. Hampir keseluruhan diikuti menjadi juara 1,” katanya.

Unggulan favorite pertama berdasarkan Yayasan Putri Indonesia dari 38 provinsi yang ada, ini masih banyak membutuhkan biaya perawatan, busana, dan pelatihan menari diajang tari kreasi daerah.
“Baru sekarang ratingnya nomor satu unggulan, setelah jawa timur dan sumatera selatan. Jadi kesempatan ini jangan sampai disia-siakan, pemerintah daerah harus mendukung penuh,” timpal tantenya.
Ada hal yang terpenting lagi, untuk tahapan kategori busana adat daerah, Tiara sampai sekarang belum memilikinya.
“Padahal untuk busana adat daerah ini ada juara kategori favorite dan Putri Kepulauan. Sementara untuk tarian, Tiara akan membawa tarian Zapin kreasi silat yang latihannya di Sanggar Lembayung yang harus dibayar,” ujar tante Tiara.
Padahal waktu sangat mendesak sekali, selain tanggal 18 Januari mengikuti pelatihan. Pada tanggal 11 Februari, Tiara harus di karantina sebelum ajang Final Putri Indonesia tahun 2015.
“Yang terpenting, saya sangat mengharapkan doa dan dukungannya dari seluruh masyarakat Provinsi Kepri,” tutup Tiara yang memiliki tinggi 173 cm dan berat 48 Kg.
[sk]

Comment