Natuna – Sarifah (30 Tahun), istri Kapten (Inf) Jaka Gunapriatna, anggota TNI-AD yang ditempatkan di Natuna, mengalami kekalutan jiwa yang mendalam.
Impiannya untuk ibunya yang menderita pengapuran tak kunjung terwujud meski Ia telah melakukan penghematan dan penghipunan dana dengan segala cara, sampai-sampai lalai menbayar listrik dan gaji pembantu.
Dalam kondisi ini Ia harus mendengar penjelasan dokter, bahwa pada dinding rahimnya yang sedang mengandung janin tiga bulan tumbuh sejenis tumor bernama Myoma. Meskipun tergolong ringan, tetap saja beresiko membahayakan keselamatan janin, apalagi harus dilakukan operasi.
Dokter meminta Sarifah agar membicarakan hal ini dengan suaminya, termasuk menjelaskan resiko terburuk yang mungkin terjadi.
Namun Sarifah sangat berat melakukanya, justru karena Jaka sedang menjalani penugasan di wilayah tertentu selama sekian bulan dan baru akan pulang sebulan lagi.
Sarifah tak bisa membahas masalah sepenting ini via telepon, sebab seperti yang sering dinasehatkan ibunya, Sarifah tak mau mengabarkan berita buruk pada suaminya yang sedang bertugas.
Itulah yang membuat Sarifah begitu kalut. Di satu sisi Ia sangat ingin curhat pada suaminya, di sisi lain Ia tak mau merusak suasana hati suaminya di medan penugasan.
Situasi ini membuat Sarifah begitu tertekan, sampai Ia merasa dirinya tak mampu menjalankan peran istri tentara yang baik.
Ibu Sarifah sangat cemas melihat perkembangan jiwa anaknya, dan minta Sarifah mengenang lagi masa lalunya, mengenang perkenalannya dengan Jaka, mengenang suka duka pernikahannya selama ini, agar Sarifah menyadari bahwa sesungguhnya Ia wanita yang perkasa.
Maka waktu pun seperti berputar balik ke masa lalu. Kemasa saat Sarifah baru lulus SMA dan berkenalan dengan Letnan Satu Jaka, anggota infanteri dari Batam yang ditugaskan mengikuti Latihan Gabungan di Natuna.
Meski latgab hanya sebulan, namun beberapa kali pertemuan diantara mereka diam-diam telah menumbuhkan perasaan khusus dalam diri masing-masing.
Suratan takdir mempertemukan mereka lagi setelah Jaka dipindah tempatkan ke Kompi.C di Ranai, Natuna.
Tanpa pacaran bertele tele, Jaka segera melamar Sarifah dan mereka pun menikah. Tidak lama setelah itu Sarifah mengandung, tapi segera setelah itu pula Jaka menerima penugasan ke berbagai tempat di Indonesia maupun Luar Negeri.
Hingga Sarifah merasa dirinya seperti single mother yang sendirian memeriksakan dirinya ke dokter, malahirkan anak pertama (yang diberinya nama Andika) tanpa suami disisinya, dan kemudian membesarkannya.
Ternyata ibu Sarifah benar. Kenangan demi kenangan yang indah maupun pahit, sedikit demi sedikit bisa membuat Sarifah kembali tersenyum. Lebih-lebih setelah dokter mengatakan ada kemungkinan janin dan myoma dalam kandungannya bisa “hidup bersama” sampai kelak yang satu dilahirkan dan satu lagi dioperasi.
Sarifah pun tak lagi merasa kalut, bersama Andika dan calon anak kedua yang masih ada dalam kandungannya, Ia siap menerima kepulangan Jaka dari penugasan di daerah Sulawesi.
Namun penantiannya ternyata tak berujung pertemuan. Yang datang padanya adalah ibu-ibu anggota Persit yang mengabarkan bahwa Jaka gugur di medan penugasan.
Penulis : Imam Agus
[sk]






Comment