NATUNA, SuaraKepri – Bagi wanita pekerja malam, lebih banyak menyimpan beragam cerita sedih, pilu dan mengharukan, dari pada cerita bahagia.
Hal tersebut diungkapkan salah seorang wanita pekerja malam, sebut saja Citra (nama samaran, red), saat dijumpai di lokasi Tempat Hiburan Malam (THM), sekitar kota Ranai, Sabtu (28/01).
“Banyak orang mengira, kita bekerja disini hanya sebagai pelayan hawa nafsu para lelaki hidup belang, tapi mereka salah. Kita hanya sebatas menemani minum,” kata Citra dengan nada rendah.
Saat media ini bertanya kepada Citra, mengenai perjalanan hingga memilih menjadi wanita malam.
“Lebih kurang tiga bulan saya bekerja di Natuna, sebelumnya saya tidak tahu harus bekerja seperti ini. Karena saya hanya dikasih tahu bekerja sebagai penjaga toko,” jelas wanita munggil asli Sambas, Kalimantan Barat tersebut.
Menurutnya, Ia terpaksa memilih bekerja sebagai wanita pekerja malam, karena harus menghidupi empat anggota keluarganya. Ini bukan hal yang mudah bagi wanita yang merupakan anak pertama. Kadang sedih, tapi harus dilakoninya.
“Ayah saya bekerja serabutan. Tiap malam, kadang saya menangis. Lagi-lagi, saya harus berpikir bahwa saya dan keluarga harus bisa bertahan hidup,” ucap wanita yang berusia 18 tahun ini.
Dalam satu malam, penghasilan yang didapatkan tidak menentu, tergantung dari beberapa tamu yang datang.
“Apalagi, pengeluaran untuk make up dan mempercantik diri juga banyak,” tuturnya.
Dari pengakuan Citra, Ia sangat ingin pulang dan merindukan keluarga. Tapi kerinduan tersebut hanya bisa dipendam saat tidur.
“Saat tidur saya selalu menangis, merasa bersalah dan berdosa kepada orangtua. Saya juga sangat rindu sama keluarga, tapi saya belum bisa pulang karena belum habis masa kontrak dengan pemilik THM ditempat saya bekerja,” jelasnya lagi.
Setiap malam, saya harus menemani laki-laki untuk minum dan karoke dengan berbagai macam bentuk, mulai dari orang muda hingga tua. Rasanya jenuh dan membosankan.
“Aku sadar risiko itu mengerikan, tapi kembali lagi soal ekonomi keluarga,” pungkasnya.
“Dikampung saya tidak pernah merokok dan minum minuman keras, hanya disini saya mulai belajar dengan hal-hal seperti ini. Rasanya saya malu, tapi mau seperti apa lagi sudah tuntutan pekerjaan,” tambahnya.
Dengan masa muda, ia sudah malang melintang di dunia seperti ini. Kalau nanti, Citra berharap, ada pangeran yang menolong saya dari dunia gelap ini, menikah dan menjalin rumah tangga dengan baik.
“Saya juga punya cinta. Tapi, saya sadar hanya sebagai seorang wanita penghibur, tak layak bicara soal cinta. Namun, bagaimanapun juga, saya punya hati dan cinta yang merindukan kasih sayang seorang pria yang tulus,” harapan Citra.
Lanjut pengakuan Citra, dengan berkerja sebagai wanita malam banyak cemo’oh yang didengarkan. Sampai detik ini, hidupnya bekerja di THM hanya sebagai wanita yang menemani minum. Bukan sebagai wanita yang menemani tidur.
Citra berharap jangan sampai pekerjaan ini dilakoni oleh wanita-wanita yang masih polos dan suci, karena resikonya sangat besar.
“Selain mencoreng nama baik keluarga, juga merusak diri kita sebagai wanita,” ungkapnya berpesan.
Penulis : Imam Agus





Comment