TANJUNGPINANG, SuaraKepri.com – Sumber informasi terus beralih akibat kemajuan teknologi yang begitu pesat. Kekuatan koran atau media cetak tergerus dan kalah saing dengan media online serta media sosial.
Karena itu, jika ingin membuat satu perusahaan pers atau media online, tidak cukup hanya bermodalkan kemampuan menulis. Yang terpenting lagi harus menguasai teknologi serta bisa menjadi konten kreator.
Wartawan harus bisa menjadikan dirinya memiliki tiga kemampuan itu yakni menulis berita, membuat konten dan menguasai teknologi. Karena itu, sebaiknya pemilik perusahaan media online itu basic-nya seorang wartawan.
Pendapat ini disampaikan Subagja Hamara saat menjadi narasumber di acara “Pelatihan Peningkatan Kapasitas Media” yang digelar Dewan Pers di Hotel Aston Batu 12 Tanjungpinang, Jumat (28/7/2023) dengan topik : “Model Bisnis Media di Era Digital”.
Subagja merupakan CEO media online www.harapanrakyat.com yang berkedudukan di Kota Banjar, Provinsi Jawa Barat. Media ini dianggap salah satu perusahaan pers di daerah yang cukup maju karena mendapat banyak penghasilan di luar kerja sama dengan Pemda.
Namun, perlu diketahui wartawan, bahwa sehebat apapun teknologi itu, maka konten atau berita tetap 60 persen pengaruhnya terhadap kemajuan media itu sendiri.
Sebagus apapun berita, jika tidak disebar secara luas, pembacanya juga sedikit. Karena itu, tiga hal tersebut harus sejalan dan uang pun akan masuk terus.
Tahun 2017 orangtuanya memberinya tugas untuk fokus membangun media online karena pamor koran sudah mulai turun dan bergeser ke berita digital yang bisa dibaca di tangan.
Namun ada satu persamaan koran dengan media online. Agen atau loper koran mendistribusikan koran seluas-luasnya sehingga makin dikenal masyarakat dan banyak pembelinya.
Di media online, konten atau berita serta video yang dibuat harus didistribusikan juga seluas-luasnya sehingga makin banyak pembacanya. Dengan demikian, maka iklan dan tawaran kerja sama pun berdatangan. Dengan sendirinya, pemasukan bertambah.
“Sukses tidaknya sebuah bisnis media online ditentukan dari distribusi konten. Kalau pada bisnis media cetak, distribusi konten sama dengan sirkulasi koran. Distribusi konten media online bergantung pada platform digital teknologi,” ucapnya.
Adapun platform teknologi untuk menyebarkan koten media online yakni :
- Mesin pencari (Google/Yahoo/Bing/Yandek)
- Aplikasi Chat (WhatsApp)
- Referral
- Media sosial
- Agregator
Berita yang sudah diterbitkan jangan dikirim ke narasumber yang bersangkutan saja. “Itu namanya surat cinta. Tapi banyak cara mendistribusikannya,” jelasnya.
Subagja juga mengatakan, sebelum membangun satu media online, maka harus ditentukan DNA media itu sendiri. Artinya, saat memilih model bisnis yang akan digarap, penting untuk mengidentifikasi DNA perusahaan media online yang bersangkutan.
“Kalau membuka usaha tentulah harus sesuai dengan kemampuan itu. Makanya, cocoknya pemilik perusahaan media itu adalah wartawan. Karena isinya nanti konten berita atau konten lain,” tambahnya.
Ada beberapa sumber pendapatan media online selain kerja sama dengan Pemda seperti direct sales (iklan display, verita/video advetorial, konten berlangganan (subscriber, endorse media sosial).
Monetisasi Tech Company (Google adsense, programmatic ads, monetisasi video media sosial). Jejaring (event organizer, riset/survei, agency, jasa pengelolaan media sosial).
Jasa pengelolaan media sosial bisa menghasilkan uang jika bisa membuat konten yang kreatif dan bagus. Medianya sendiri kini juga mengelola media sosial dua kepala daerah di Jawa Barat serta ada beberapa dinas.
Berita lokal yang akan diterbitkan bisa peristiwa, politik dan tematik. Berita lokal berpotensi traffic besar serta sebaiknya didukung konten video.
Distribusi konten (direct website atau pembaca lokal, push notif, Google discover, kanal/kategori daerah via direct dan Google SEO, Gogle news/top stories Google News, halaman Facebook, story halaman Facebook, Story Instagram, grup pembaca WA berdasar daerah, Twitter, Youtube (link video dan kanal komunitas), link berita via video Tiktok).
Distribusi konten video bisa melalui Instagram, Youtube, Tiktok, Snack Video, Facebook). Target bisnis (direct sales (pemda/swasta). Monetitasi tech company, meningkatkan otoritas/brand media).
Berita tranding : viral medsos, artis dan isu politik nasional bisa didistribusikan (direct website atau pembaca loyal, push notif, Google news/top stories Google new, halaman Facebook, Twitter, Youtube (link video dan kanal komunitas), link berita via video Tiktok). Sebagian besar berita tranding/viral didukung konten video.
Artikel kata kunci volume pencarian tinggi di Google (SEO). Distribusi konten Google SEO. Direct website (pembaca loyal), push notif. Distribusi video, monetisasi tech company, meningkatkan otoritas brand media.
Dikatakannya, untuk membuat media itu bisa besar maka tetap harus punya modal dan Sumber Daya Manusia (SDM). Karena itulah, dia menyarankan sebaiknya media di Kepri merger saja. (Martunas)






Comment