Video eksklusif saat Sekda Kepri, Misni harus mabok laut untuk melihat langsung lokasi Sedimentasi Pasir di Numbing.
BINTAN, SuaraKepri.com – Ada pemandangan haru yang jarang terjadi di ruang rapat pemerintahan. Jeritan hati para nelayan tradisional Bintan Pesisir yang biasanya hanya bergema di tepian laut, tiba-tiba menggema di dalam gedung Serbaguna Desa Numbing. Dan yang mendengarkan dengan saksama bukanlah siapa-siapa, melainkan Sekretaris Daerah Provinsi Kepulauan Riau, Misni, S.K.M., M.Si.
Usai mendengar langsung curahan hati para pencari ikan itu, Misni tidak cukup diam di balik meja. Beliau melakukan sesuatu yang mencengangkan: turun langsung ke laut menuju lokasi rencana kegiatan sedimentasi pasir di Desa Numbing, Kecamatan Bintan Pesisir, pada hari Selasa (19/5).
Mabuk Laut Demi Janji Seorang Pemimpin
Laut lepas Bintan bukanlah tempat yang ramah bagi siapa pun, apalagi bagi seorang pejabat tinggi yang lebih akrab dengan tumpukan dokumen. Namun, Ibu Sekda nekat menembus ombak besar. Akibat gempuran gelombang yang tak kenal ampun, beliau pun mengalami mabuk laut. Tapi tekadnya tak surut. Beliau memilih tetap bertahan, demi menepati janji kepada masyarakat pesisir.
“Lautan lepas adalah medan berat bagi pejabat daerah. Tapi Ibu Sekda ikhlas bertaruh fisik, demi mendengar langsung denyut nadi kehidupan kami,” ujar Mustafa Bisri Al’amin, tokoh pejuang Nelayan Tradisional Bintan Pesisir.
Ombak Itu Pelukan Rumah Kami
Bagi Mustafa dan ratusan nelayan lainnya, ombak dan gelombang bukanlah musuh. “Itulah pelukan rumah kami setiap hari. Tempat kami mempertaruhkan nyawa demi sesuap nasi untuk anak istri,” tuturnya dengan mata berkaca-kaca.
Kini, setelah Ibu Misni merasakan sendiri kerasnya kehidupan di atas perahu, harapan pun mulai bersemi. Para nelayan merasa tidak sendirian.
Harapan di Balik Langkah Fisik
Mustafa menyampaikan rasa terima kasih yang dalam atas ketulusan hati Ibu Misni. “Kebaikan dan kerendahan hati Ibu yang bersedia merasakan lelahnya menjadi nelayan tradisional, tidak akan pernah kami lupakan.”
Dengan langkah fisik yang telah dilakukan, warga berharap ini menjadi pembuka jalan keadilan. Utamanya untuk menjaga ruang hidup, titik rompong (zona tangkapan ikan tradisional), dan masa depan anak cucu nelayan.
“Semoga langkah Ibu hari ini menjadi berkah bagi kelestarian laut Bintan-Lingga. Agar kami tak harus menghadapi kerusakan lingkungan yang mengancam hidup kami,” harap Mustafa.
Siap Sambut Ibu Sekda Tiga Hari Lagi
Meski kelelahan dan harus memulihkan kondisi, Ibu Misni telah memberikan teladan langka. Para nelayan pun berjanji akan menyambut kepulangan beliau tiga hari ke depan dengan penuh gotong royong dan rasa kekeluargaan yang tulus.
Pernyataan penuh haru itu disampaikan oleh Mustafa Bisri Al’amin, mewakili KNMP (Koperasi Nelayan Merah Putih) dan Aliansi Nelayan Bintan-Lingga.
“Selamat beristirahat dan memulihkan kesehatan, Ibu Sekda… Kami satu komando, siap bekerja sama demi masa depan laut kami,” pungkasnya.
Dengan peristiwa ini, masyarakat pesisir Bintan kembali percaya bahwa masih ada pemimpin yang mau mendengar, merasakan, dan berjuang bersama — meski harus mabuk laut sekalipun.







Comment