
Lingga, SuaraKepri.com – Ganasnya corona virus disease (Covid-19) tidak hanya merenggut nyawa secara perlahan, melainkan covid-19 mampu melumpuhkan ekonomi.
Bahkan ekonomi, pengrajin, UMKM, sedang dan besar ikut terimbas, sehingga membuat individu untuk berjuang lebih keras untuk bangkit dari keterpurukan, (13/12/21).
Untuk itu, banyak dari kaum muda generasi Zee, harus memanfaatkan platform digitalnya untuk memulai berbisnis, tidak lain bertujuan untuk menghindari kerentanan terjangkit covid-19.
Namun, lain halnya dengan sejumlah masyarakat suku laut atau Komunitas Adat Terpencil (KAT) yang berada di Pulau Lipan, Desa Penuba Kecamatan Selayar, Kabupaten Lingga, Provinsi Kepulauan Riau (Kepri).
Dengan berbagai keterbatasan, masyarakat di sana berusaha mengambil peluang dengan bekerja seadanya.
Seperti Atan misalnya. Pria berusia 61 tahun ini merupakan seorang pengrajin sampan (perahu) tradisional melayu di Lingga.
Atan menjual sampannya dengan cara digandeng menggunakan sampan lainnya, lalu menjajakan sampan hasil buatannya ke kampung-kampung.
Tentu saja, hal itu ia lakukan dengan menyeberangi laut yang berombak.
Di usianya yang sudah tak muda lagi, Atan mendayung sampannya menempuh ratusan mil jauhnya untuk menawarkan hasil sampan buatannya ke orang-orang yang dijumpainya.
“Mau tidak maulah, kalau tidak sampan saya tidak bisa terjual. Saya tidak paham jual-menjual melaui telepon colet-colet (telepon pintar-red),” kata Atan polos saat berada di Pantai Desa Kote, Kecamatan Singkep Pesisir kepada SuaraKepri.com baru-baru ini.
Atan bercerita, ia hanya mampu memproduksi satu buah sampan dalam 1 bulan dengan harga jual sebesar Rp 2 juta hingga Rp 3 juta.
“Cukuplah untuk menyambung hidup. Kalau arus laut lagi bagus, saya juga memancing ikan untuk memenuhi kebutuhan makan sehari-hari,” ungkapnya.
Atan hanya bisa berjuang, karena profesi itu sudah menjadi kebiasaannya sehari-hari untuk menyambung hidup dan profesi turun temurun dari nenek moyang, namun bagi dia hal tidak perlu untuk dijadikan rasa ibah, karna menurutnya, ia masih mampu menghidupkan keluarga dari hasil penjualan sampan petak miliknya.
Penulis : Febrian S.r







Comment