TANJUNGPINANG, SuaraKepri.com – Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Kepri kembali menggelar ekspose hasil pendataan kemiskinan, ekspor impor, inflasi, nilai tukar petani, pariwisata dan perhotelan Desember 2014, di kantor BPS Provinsi Kepri, Batu 6, pada awal Januari lalu.
Kepala BPS Kepri, Dumagar Hatahuruk yang memimpin ekspose tersebut mengatakan angka kemiskinan pada September 2014 ini di Kepri menurun dibandingkan data pada Maret 2014 lalu.
“Jumlah penduduk miskin (penduduk yang berada di bawah Garis Kemiskinan) di Kepri pada September 2014 sebanyak 124.171 orang (6,40 persen). Jika dibandingkan dengan jumlah penduduk miskin pada Maret 2014 yang sebanyak 127.799 orang (6,70 persen),” ujar Dumagar dihadapan beberapa utusan intansi terkait dari Pemprov Kepri.
Secara absolut mengalami penurunan sebanyak 3.628 orang atau persentasenya turun sebesar 0,30 poin. Selama periode Maret 2014 – September 2014, penduduk miskin di daerah perkotaan menurun 6.108 orang, sebaliknya di daerah perdesaan mengalami peningkatan sebanyak 2.480 orang.
Secara relatif persentase penduduk miskin daerah perkotaan mengalami penurunan 0,48 poin selama periode Maret 2014 – September 2014, yaitu dari 6,09 persen menjadi 5,61 persen. Sementara di perdesaan persentase penduduk miskin naik sebesar 0,68 poin, yaitu dari 9,86 persen menjadi 10,54 persen.
“Peranan komoditi makanan terhadap Garis Kemiskinan jauh lebih besar dibandingkan peranan komoditi bukan makanan (perumahan, sandang, pendidikan, dan kesehatan). Pada September 2014, sumbangan Garis Kemiskinan Makanan terhadap Garis Kemiskinan sebesar 66,57 persen, sedangkan sumbangan Garis Kemiskinan Non Makanan terhadap Garis Kemiskinan pada September 2014 adalah sebesar 33,43 persen,” jelasnya.
Kata Dumagar, bahwa komoditi makanan yang berpengaruh besar terhadap nilai Garis Kemiskinan di daerah perkotaan ,adalah beras, rokok kretek filter, telur ayam ras, dan daging ayam ras, sedangkan di daerah perdesaan adalah komoditas beras, rokok kretek filter, gula pasir dan ikan tongkol/tuna/cakalang.
Untuk komoditi bukan makanan, kontribusi terbesar terhadap Garis Kemiskinan adalah biaya perumahan, listrik, dan bensin baik di daerah perkotaan maupun di daerah perdesaan. Pada periode Maret 2014 – September 2014, baik Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1) dan Indeks Keparahan Kemiskinan (P2) menunjukkan penurunan. Ini mengindikasikan bahwa rata-rata pengeluaran penduduk miskin dekat dengan garis kemiskinan dan ketimpangan pengeluaran penduduk miskin makin rendah.
“Pendataan kemiskinan ini kita ambil lakukan dalam empat bulan sekali. Makanya data yang ada saat ini terhitung berdasarkan periode Maret 2014 hingga September 2014,” paparnya.
Untuk jumlah wisatawan mancanegara (wisman) yang berkunjung ke Kepri pada bulan November 2014 mencapai 161.994 orang, mengalami penurunan sebesar 2,96 persen dibanding jumlah wisman pada bulan sebelumnya yang mencapai sebanyak 166.931 orang. Dibandingkan dengan November 2013 kunjungan wisman November 2014 mengalami penurunan, yaitu sebesar 2,63 persen.
“Wisman yang berkunjung ke Provinsi Kepulauan Riau pada bulan November 2014, sebesar 76,24 persen masuk melalui pintu masuk yang ada di Kota Batam dengan jumlah wisatawan 123.505 orang. Wisman yang berkunjung ke Provinsi Kepulauan Riau pada bulan November 2014 didominasi oleh wisman berkebangsaan Singapura dengan persentase sebesar 55,85 persen dari jumlah wisman pada November 2014,” katanya lagi.
Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel berbintang di Kepri pada bulan November 2014 mencapai rata-rata 50,27 persen, atau turun 0,97 poin dibanding TPK Oktober 2014 sebesar 51,23 persen.
“Rata-rata lama menginap tamu asing dan Indonesia pada hotel berbintang di Provinsi Kepulauan Riau pada bulan November 2014 adalah 1,93 hari, atau berkurang 0,60 poin dibanding dengan rata-rata lama menginap tamu pada Oktober 2014,” ungkapnya.
[sk]

Comment