Alasannya Karena Berpotensi Korupsi, Bukan Terindikasi
TANJUNGPINANG, SuaraKepri.com – Selain dijadikan kambing hitam atas proyek Monumen Bahasa Melayu yang kini bermasalah, EB juga mengatakan sekelompok oknum Wartawan yang mengaku sempat ingin diperas utusan dari Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat.
EB diberitahu saat oknum tersebut turun ke Tanjungpinang dan bertemu dengan Kadisbud Kepri, Arifin Nasir. Bahkan mereka meminta secara tegas pembangunan proyek tersebut dihentikan.
“Mereka mengaku dari perwakilan PWI Pusat, salah satunya saya dengar mengatakan jabatannya sekjend dan meminta proyek monumen dihentikan. Lantaran sudah banyak penyimpangan,” ujar EB kepada beberapa wartawan dikediamannya pada hari Rabu (22/10).
Yang mengaku sekjend saat itu bernama Erri. Dia sendiri juga menaungi 25 media nasional dan daerah.
“Selain, Erry, saya mendapat pengakuan dari nama-nama rombongan itu ada bernama Ilham dan Helmy. Mereka bertemu Pak Arifin (Kadis Kebudayaan) melalui Bunda Ratna. Sementara Bunda Ratna juga tidak begitu mengenali mereka,” terangnya.
Selain itu tambah EB, ada juga yang bernama Edy yang meminta uang sejumlah Rp 85 juta untuk merendam media yang mereka naungi. “Saya diajak ketemu di Bintan Center. Saya juga sempat sholat dekat mesjid sana dan diajak makan bersama. Edy lah yang meminta dana sebesar Rp 85 juta tersebut,” papar EB.
EB pun langsung keberatan, lalu Edy tidak menyerah begitu saja, Edy lalu meminta bantuan dana untuk mengantar rombongan tersebut ke Batam.
“Saya pun akhirnya membantu lewat teman saya, tetapi lupa pula ia meminta kwintansi uang bantuan dari saya itu sebesar Rp 2 juta. Sejak awal saya sudah curiga, tidak mungkin orang pusat nginapnya di Wisma Pesona dan minta saya pula bayarkan penginapannya. Mereka pun menekan dan menyalahkan saya karena seorang PNS tidak boleh bermain proyek,” jelas EB lagi.
EB sendiri mengakui bahwa dirinya tidak secara langsung ikut bermain dalam proyek tersebut. “Padahal saya hanya membantu teman, karena saya memiliki rekanan yang dapat menyediakan bahan untuk proyek tersebut. Tetapi teman saya itu telah makan dan menjerumuskan saya dalam masalah ini. Ibarat sudah jatuh, tertimpa tangga,” tegasnya.
Eri, saat di konfirmasi wartawan melalui sambungan telpon membenarkan kalau dirinya turun ke Tanjungpinang bersama timnya.
“Siapa bilang saya mengaku dari Sekjend PWI Puisat, saya sudah sampaikan bahwa saya dari Sekjen Asosiasi Pers Nasional. Nama saya pun ada tercantum di media Radar Nusantara dan beberapa media daerah Kepri lainnya, termasuk Media Indonesia. Kalian lihat saja sendiri ada nama saya Erri Syafrizal,” geramnya saat diminta konfirmasi.
Erri juga membantah bahwa tim yang ia menjadi leader dalam rombongan bertemu Kadisbud Arifin Nasir, ada meminta sesuatu termasuk uang.
“Kalian jangan sembarangan, siapa yang bilang begitu. Saat itu pun kami turun bukan sendiri atas nama media. Tetapi dalam rombongan kami ada juga seorang penyidik. Meski Kejati Kepri dan Polda Kepri bungkam terkait kasus ini, akan saya bawa sampai kemana pun, termasuk KPK. Karena proyek tersebut (MBM) itu berpotensi Korupsi,” paparnya yang enggan menyebutkan nama-nama rombongannya.
Erri pun mengaku, saat itu ia turun bersama rombongan di Tanjungpinang selama dua minggu.
“Sudah dua minggu kami turun kesana. Kalian jangan mengintervensi saya, kalau kalian mau cara preman pun, saya siap ladeni. Tunggu kedatangan saya ke Tanjungpinang,” ungkapnya.
Sementara itu Kadisbud Kepri, Arifin Nasir terkait perihal ini belum berhasil dihubungi dan nomor ponselnya pun dalam keadaan tidak aktif.
[sk]

Comment