Tanjungpinang, Suara Kepri.com — Kebijakan baru Wali Kota Tanjungpinang, Lis Darmansyah, yang mewajibkan aparatur sipil negara (ASN) mengenakan tanjak setiap Jumat, dinilai tidak hanya berdampak pada pelestarian budaya, tetapi juga membuka peluang ekonomi bagi pelaku usaha kecil menengah (UMKM) di kota ini.
Kebijakan tersebut diumumkan Lis saat memimpin apel pagi usai libur Idulfitri di halaman Kantor Wali Kota Tanjungpinang, Selasa (8/4/2025). Ia menegaskan bahwa penggunaan tanjak merupakan bentuk penghormatan terhadap warisan budaya Melayu yang harus dijaga dan diwariskan kepada generasi muda.
“Tanjungpinang adalah kota budaya. Lewat pemakaian tanjak, kami ingin menunjukkan jati diri sekaligus membangkitkan kebanggaan terhadap budaya sendiri,” ujar Lis Darmansyah dalam sambutannya.
Dari sudut pandang ekonomi, kewajiban ini dinilai dapat menjadi peluang baru bagi perajin tanjak lokal. Dengan ASN yang mengenakan tanjak setiap Jumat, permintaan terhadap produk tersebut kemungkinan akan meningkat. Meskipun belum tampak secara signifikan, potensi pertumbuhan usaha kerajinan tradisional ini terbuka lebar.
Jika dijalankan secara konsisten dan melibatkan berbagai sektor, kebijakan ini dapat memicu geliat ekonomi lokal, sekaligus memperluas pasar bagi pelaku UMKM. Para perajin pun berpeluang mengembangkan desain tanjak yang variatif dan lebih menarik, tidak hanya untuk kebutuhan instansi pemerintah, tetapi juga masyarakat umum.
Kebijakan ini pun mendapat sambutan positif dari berbagai kalangan, termasuk ASN dan warga. Beberapa warga bahkan berharap pemakaian tanjak juga diterapkan di lingkungan sekolah, organisasi, dan lembaga lain agar nilai budaya Melayu makin mengakar dalam kehidupan sehari-hari.
Lis berharap penggunaan tanjak tidak berhenti pada aspek seremonial, melainkan menjadi bagian dari kesadaran kolektif untuk mencintai dan melestarikan budaya lokal.
Melalui kebijakan ini, Pemerintah Kota Tanjungpinang menunjukkan komitmennya dalam memperkuat identitas budaya sekaligus mendukung pertumbuhan sektor ekonomi kreatif berbasis kearifan lokal.

Comment