TANJUNGPINANG, SuaraKepri.com – Lurah Tanjung Unggat, Kecamatan Bukit Bestari, Rosnawati dituding masyarakatnya acap kali melakukan pungutan liar oleh warganya. Selain dituding melakukan pungli, Lurah asli dari Anambas ini juga jarang ditempat dan warga sering kesulitan untuk mengurus surat menyurat.
Hal ini dipaparkan Leni salah warga di kelurahan Tanjung Unggat tersebut yang cukup kesal dengan lurah tersebut. “Lurah sekarang ini sangat parah mas, berbeda dengan Lurah sebelumnya, Pak Teguh yang dulu. Untuk ngurus keterangan UKM saja, kami diminta uang sebesar Rp 20 ribu, seharusnya kan gratis,” ngadunya saat SuaraKepri.com mengecek lokasi penimbunan pada hari Kamis (7/8).
Sebagai pedagang kecil-kecilan, Leni sangat membutuhkan suntikan modal, untuk mendapatkan bantuan modal UKM, dirinya harus memiliki surat keterangan UKM terlebih dahulu. “Saat ngurus tersebut pun lama, kata stafnya belum ditanda tangan lurah, harus dicek dan tanda tangan lurahnya dulu. Setiap kami mau menghadap, dia selalu tidak ada ditempat,” kesalnya.
Konfirmasi terkait pengaduan tersebut, Lurah Tanjung Unggat, Rosnawati membantah adanya praktek pungli di kantor yang dipimpinnya. “Tidak ada itu, tetapi saya tidak tahu mungkin ada staf saya yang nakal melakukan pungli tersebut, nanti saya cek satu persatu,” bantahnya.
Rosnawati juga meminta kepada warga agar setiap pengurusan surat menyurat agar tidak menggunakan jasa Ketua RT atau orang lain. “Kalau bisa, setiap ingin mengurus surat menyurat, mereka langsung datang ke kantor lurah. Jangan menggunakan perantara, biasanya mereka dikenakan biaya oleh perantara tersebut,” tegasnya.
Dikabarkan ia jarang ditempat, Rosnawati membenarkan dan tidak menepis kabar tersebut. “Kemarin saya kan sempat mengikuti Diklat selama tiga bulan, jadi memang tidak ada ditempat. Sementara itu kami sempat tidak memiliki Seklur yang bisa menggantikan, kemarin baru dilantik,” ujarnya.
Selain itu, dirinya memang sering terjun wilayah kerjanya untuk melihat langsung kondisi di lapangan. “Saya ingin langsung melihat kondisi warga dan wilayah yang saya pimpin, apa saja yang mereka butuhkan dan kurang dapat menjadi prioritas kami,” jelasnya.
Untuk kepengurusan surat menyurat, Rosnawati juga sering berhati-hati agar tidak melakukan kesalahan. “Saya memang sering memerintahkan staf saya agar hati-hati dalam pembuatan surat menyurat. Kita takutnya nanti ada kesalahan yang dibuat warga, seperti pembuatan dokumen untuk menikah,” paparnya.
Dalam pembuatan surat pengantar untuk menikah ini, alasan Rosnawati bisa saja digunakan untuk penipuan. “Untuk ngurus surat nikah ini kita harus juga hati-hati, bisa saja ia sudah nikah, tidak tahunya sudah nikah. Dari faktor umur bisa kita lihat, maka kami sering teliti dalam pengurusan surat, bukannya dipersulit,” tegasnya lagi.
Dituding pungli dan sering mempersulit warga, Rosnawati hanya dapat berlapang dada dan tidak begitu menghiraukannya. “Saya biasa saja, karena setiap kita membuat terobosan dan yang terbaik untuk warga, pasti selalu ada resikonya,” ungkapnya.
[sk]







Comment