Bintan, suarakepri.com — Pelatihan Restorasi dan Strategi Desain Program dengan tema Hutan Kembali Hijau selama empat hari yang digelar di Bintan resmi ditutup pada Kamis (15/5/2025) dengan penetapan dua kelompok peserta terbaik, yakni Sakura dan Waru, sebagai penerima dana pembinaan dari The Residence Bintan.
Kelompok Sakura menerima dana sebesar Rp6 juta, sementara Kelompok Waru memperoleh Rp4 juta. Dana ini diberikan sebagai modal awal untuk menjalankan proyek penghijauan berbasis komunitas, serta menjadi bagian dari strategi _proof of concept_ guna menilai efektivitas pendekatan lokal dalam upaya rehabilitasi lingkungan.
“Kelompok Sakura memenuhi kebutuhan penting dalam pembibitan pohon. Pendekatan mereka yang erat dengan masyarakat menunjukkan potensi nyata untuk perubahan di lapangan,” ujar Alexys Tjhia, Director of Sustainability, Cenizaro Group, yang juga menjadi juri dalam program ini.
Alexys menambahkan, proses seleksi cukup menantang karena sebagian besar peserta menunjukkan semangat dan komitmen tinggi terhadap pelestarian lingkungan.

Selama pelatihan, peserta diperkenalkan pada dua metode utama penghijauan, yaitu metode Miyawaki dan Agroforestry, yang dinilai relevan untuk pemulihan wilayah eks tambang dan hutan gundul di Bintan. Peserta juga mempelajari 38 jenis tanaman, termasuk delapan tanaman endemik Bintan sebagai bagian dari pendekatan restorasi berbasis spesies lokal.
General Manager The Residence Bintan, Rajeev Paul, menyampaikan bahwa program ini tidak hanya sebatas pelatihan teknis, tetapi juga bertujuan membangun kapasitas dan menumbuhkan inisiatif jangka panjang di tingkat komunitas.
“Kami ingin peserta menjadi agen perubahan di lingkungannya. Ini bukan akhir, melainkan awal dari proyek yang bisa direplikasi dan diperluas bersama pemerintah maupun organisasi non-pemerintah,” ujarnya.
Lebih lanjut, Rajeev menjelaskan bahwa dukungan dari The Residence Bintan tidak hanya berupa bantuan finansial, tetapi juga mencakup pendampingan dan rekomendasi program berkelanjutan ke depan.

Program ini juga membuka ruang kolaborasi lintas sektor antara masyarakat sipil, akademisi, komunitas lokal, dan pihak swasta. Salah satu peserta, Suheri dari Pusat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Desa (P3MD) Raja Haji Tanjungpinang, yang juga merupakan anggota kelompok Waru, menyebut pelatihan ini sebagai model yang efektif dan aplikatif.
“Materinya sederhana tapi komprehensif. Kami mendapat teori dan langsung praktik di lapangan. Ini memberi pemahaman menyeluruh dan bisa diterapkan langsung di komunitas kami,” kata Suheri.
Ia juga menyoroti pentingnya kolaborasi berkelanjutan dan berharap keterlibatan pemerintah dapat ditingkatkan pada tahap implementasi selanjutnya.
Proses pemantauan kegiatan implementasi di lapangan akan dilakukan oleh Pratisara Bumi Foundation melalui skema pelaporan rutin selama tiga bulan. Setiap kelompok diwajibkan mengirimkan dokumentasi serta laporan perkembangan sebagai bentuk pertanggungjawaban atas penggunaan dana awal.
Melalui program ini, Bintan mengambil langkah strategis dalam menggabungkan pendekatan ilmiah, kearifan lokal, serta kolaborasi multipihak untuk menjawab tantangan degradasi lingkungan. Jika terbukti efektif, pendekatan ini berpotensi menjadi model nasional dalam program penghijauan berbasis komunitas.


Comment