Lingga, SuaraKepri.com – Dalam rangka meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan serta menjaga ikon daerah, sejumlah pemuda yang tergabung dalam Persatuan Pemuda Daik dan menggelar aksi bersih-bersih di kawasan Taman Pelabuhan Tanjung Buton, ibu kota Kabupaten Lingga, pada Rabu kemarin pukul 17.00 WIB.
Kegiatan ini merupakan bentuk keprihatinan terhadap kondisi taman yang selama satu tahun terakhir dinilai tidak mendapatkan perhatian serius dari Pemerintah Daerah, khususnya Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Lingga. Kawasan yang seharusnya menjadi etalase kota, kini terkesan terbengkalai dan kurang terawat, Selasa (05/08/25).
Menurut Miftahul Fikri, salah satu inisiator kegiatan, Taman Pelabuhan Tanjung Buton bukan sekadar tempat rekreasi, melainkan merupakan simbol identitas masyarakat Melayu Daik. “Bagi kami, taman ini bukan hanya tempat berkumpul keluarga, tapi wajah kami—wajah anak-anak Daik, wajah Kabupaten Lingga. Ketika wisatawan datang, tempat inilah yang pertama mereka lihat,” ungkapnya.
Dalam kesempatan tersebut, para pemuda menyerukan agar Pemerintah Kabupaten Lingga, khususnya DLH, dapat menjalin kerja sama aktif dengan masyarakat. Salah satu usulan konkret yang disampaikan adalah penyediaan tempat sampah di area taman dan lahan parkir, guna mendorong perilaku hidup bersih dan tertib.
“Kami tidak menuntut banyak, hanya ingin lingkungan yang kami cintai ini dirawat bersama. Jangan sampai ikon daerah ini kehilangan pesonanya hanya karena tidak ada fasilitas dasar seperti tempat sampah,” tambah Fikri.
Selain permasalahan kebersihan, warga juga menyoroti aspek keamanan dan ketertiban di kawasan taman. Ketua RT Tanjung Buton, Amat, mengungkapkan kekhawatirannya terhadap aktivitas negatif yang kerap terjadi pada malam hari. Ia berharap Satpol PP dapat meningkatkan patroli secara rutin untuk mencegah terjadinya tindakan asusila dan kriminalitas.
“Kami pernah menemukan barang bukti berupa kondom bekas di toilet masjid yang berada di kawasan Pelabuhan Tanjung Buton. Ini mencoreng nama baik masyarakat dan menjadikan taman sebagai tempat maksiat. Ini harus segera ditindak,” tegas Amat.
Dirinya meminta agar pengawasan dan penjagaan terhadap area publik tersebut diperketat, agar taman kembali menjadi ruang aman dan nyaman bagi seluruh lapisan masyarakat, termasuk anak-anak dan keluarga yang hendak berekreasi.
Aksi bersih-bersih ini diharapkan mampu menjadi sinyal bagi pemangku kebijakan bahwa masyarakat peduli dan siap terlibat aktif dalam menjaga aset daerah. Namun keterlibatan dan dukungan pemerintah tetap menjadi kunci keberlangsungan upaya tersebut.
“Ini bukan sekadar bersih-bersih. Ini bentuk cinta kami terhadap Lingga. Kami ingin pemerintah mendengar suara kami, karena menjaga lingkungan adalah tanggung jawab bersama,” tutup Fikri.
Penulis : Febrian S.r





Comment