Tanjungpinang, suarakepri.com — Pertandingan cabang olahraga (cabor) dragon boat atau perahu naga pada Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) VI Kepulauan Riau 2026 di Jembatan II Dompak diwarnai insiden bertumbangannya sejumlah atlet. Padatnya jadwal pertandingan diduga menjadi penyebab utama para atlet mengalami kelelahan ekstrem hingga jatuh pingsan di arena.
Berdasarkan pantauan di lapangan, beban fisik berat dialami oleh mayoritas kontingen kabupaten/kota yang harus bertanding hingga empat kali dalam sehari. Mereka bertanding pada nomor 10 dan 20 pendayung untuk jarak 200 meter serta 500 meter.
Salah satu insiden menimpa atlet dari kontingen Kabupaten Bintan yang kolaps usai berlaga. Tim Bintan diketahui bertanding dengan formasi tidak lengkap, yakni hanya diperkuat 19 pendayung dari kapasitas seharusnya 20 orang. Kondisi tersebut terjadi lantaran adanya aksi mogok bertanding dari rekannya akibat dugaan kecurangan panitia.
Kondisi berbeda dialami kontingen tuan rumah, Kota Tanjungpinang. Skuad Tanjungpinang hanya melakoni tiga pertandingan lantaran telah tersingkir lebih awal pada hari sebelumnya.
Menanggapi situasi tersebut, Ketua Pelaksana Cabor Dayung, Haryadi, menjelaskan bahwa pemadatan jadwal hingga sore hari terjadi akibat kendala alam pada pagi hari. Menurutnya, pertandingan sempat tertunda karena masalah debit dan kedalaman air (draft air) yang tidak memungkinkan untuk dilalui perahu.
“Pada pagi hari pertandingan tertunda karena debit air dan kedalaman yang tidak memadai dari jarak 500 meter ke 300/200 meter,” kata Haryadi saat dikonfirmasi, Rabu (04/10).
Haryadi menambahkan, menjelang sore hari pihak panitia sebenarnya sempat berencana menunda sisa laga ke esokan harinya demi keselamatan para atlet. Namun, sejumlah kontingen luar daerah mendesak agar pertandingan tetap diselesaikan pada hari yang sama.
“Panitia sempat mengusulkan penundaan keesokan hari demi keselamatan. Namun, ada desakan keras dari kontingen luar, seperti Anambas, yang meminta laga tetap dituntaskan hari ini. Keputusan akhirnya disepakati bersama antar-official di bawah pengawasan KONI Provinsi,” ujarnya.
Terkait aksi mogok dan protes keras dari kontingen Kabupaten Bintan, Haryadi menegaskan bahwa seluruh regulasi teknis sebenarnya telah disepakati oleh seluruh tim sejak awal. Meski demikian, ia menyatakan panitia tetap terbuka terhadap keberatan yang diajukan peserta.
“Seluruh aturan teknis sudah disepakati bersama sejak awal. Kendati demikian, jika ada pihak yang merasa dirugikan, panitia tetap membuka ruang untuk menempuh jalur resmi dengan mengisi formulir protes yang telah disediakan,” tutur Haryadi.








Comment