Tanjungpinang, suarakepri.com — Pelaksanaan Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Kepri VI tercoreng oleh insiden memalukan yang menelanjangi buruknya sistem pengamanan dan manajemen panitia. Pertandingan cabang olahraga tenis meja yang dijadwalkan berlangsung di Aula SMA Negeri 2 Tanjungpinang, Rabu (4/11/2026), mendadak lumpuh total setelah meja yang menjadi arena utama pertandingan raib secara misterius. Padahal, fasilitas tersebut masih tertata rapi di lokasi sehari sebelumnya.
Hilangnya inventaris vital di tengah agenda resmi tingkat regional ini memicu kecaman keras dari para kontingen kabupaten/kota, menyusul lambannya respons serta sikap tertutup dari pihak penyelenggara.
Ketua Panitia Pelaksana (Panpel), Mulia Wiwin, memilih bungkam saat dikonfirmasi terkait raibnya fasilitas utama tersebut. Ia berdalih persoalan ini masih dalam tahap komunikasi internal bersama Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kepri dan mengaku belum mengetahui pasti penyebab hilangnya meja pertandingan.
“Nanti saja, kalau sudah clear akan kami sampaikan,” ujar Mulia singkat. (Dilansir dari ulasan.co)
Akibat kelalaian fatal pengamanan venue tersebut, panitia terpaksa menggelar rapat darurat bersama para pelatih untuk menunda pertandingan, sekaligus melaporkan insiden kehilangan itu kepada Bhabinkamtibmas Tanjung Ayun Sakti.
Ketiadaan standar pengamanan yang memadai ini menuai kemarahan dari pelatih kontingen daerah yang telah berkorban besar demi mengikuti ajang bergengsi ini. Pelatih Tenis Meja Kabupaten Bintan, Said Syarifudin, secara terbuka menyatakan kekecewaannya yang mendalam atas kelalaian panitia yang merugikan persiapan atletnya.
“Kecewa dengan kejadian ini. Karena kami dari kabupaten ingin menyukseskan kegiatan ini, tetapi justru mendapati kendala mendasar seperti ini,” kata Said.
Kritik tajam turut dilayangkan oleh Pelatih Tenis Meja Kabupaten Kepulauan Anambas (KKA), Yanto. Menurutnya, insiden konyol ini memberikan hantaman telak bagi mental dan psikologis para atlet muda yang telah berlatih keras sejak jauh hari demi membawa nama daerah.
“Jadi kita kasihan sama anak-anak kita. Mereka sudah tidak semangat lagi. Mereka menaruh harapan besar dan berlatih penuh semangat sejak berangkat dari Anambas, namun justru menemui kenyataan pahit pada hari pertandingan,” ucap Yanto dengan nada geram.
Sementara itu, Pelatih Kabupaten Karimun, Fachrudin, menilai kekacauan ini seharusnya menjadi evaluasi keras bagi penanggung jawab acara. Meskipun kecewa berat atas buruknya manajemen penyelenggaraan, ia mendesak agar panitia segera mencari solusi konkret agar pertandingan dapat dilanjutkan tanpa merugikan atlet lebih jauh.
“Walau bagaimanapun, kita tetap ingin pertandingan ini tetap dilanjutkan,” tutur Fachrudin.
Hingga berita ini diturunkan, Panitia Besar Porprov Kepri bersama KONI Kepri masih membahas kelanjutan nasib cabang olahraga tenis meja di tengah tekanan publik dan kekecewaan para kontingen daerah.





Comment