Promo FBS
FBS Reliable Broker
Bintan

Ketua HMNI Bintan Soroti Ketimpangan Perhatian, Hari Nelayan Jadi Panggung Suara Daerah

30
×

Ketua HMNI Bintan Soroti Ketimpangan Perhatian, Hari Nelayan Jadi Panggung Suara Daerah

Sebarkan artikel ini

Bintan, suarakepri.com – Peringatan Hari Nelayan Nasional ke-66 di Kepulauan Riau tahun ini tidak hanya menjadi ruang perayaan, tetapi juga panggung bagi daerah untuk menyuarakan realitas yang dihadapi nelayan, khususnya di wilayah pesisir seperti Bintan.

Ketua Himpunan Masyarakat Nelayan Indonesia (HMNI) Bintan, Hasriawady, secara tegas menyoroti masih adanya ketimpangan perhatian terhadap nelayan di daerah.

Menurutnya, berbagai program dan kebijakan yang digulirkan pemerintah belum sepenuhnya menjangkau kebutuhan riil nelayan di tingkat bawah.

“Nelayan di daerah seperti Bintan ini masih menghadapi persoalan mendasar, mulai dari biaya operasional melaut yang tinggi, akses alat tangkap, sampai kepastian harga hasil tangkapan,” ujarnya.

Ia menilai, peringatan Hari Nelayan harus dimanfaatkan sebagai momentum untuk mengangkat suara daerah agar tidak tenggelam dalam kebijakan yang bersifat umum dan kurang kontekstual.

“Sering kali kebijakan dibuat secara makro, tapi kondisi di lapangan sangat berbeda. Di sinilah pentingnya suara dari daerah didengar,” tegasnya.

Sementara itu, rangkaian kegiatan yang digelar HMNI Kepri, mulai dari seminar hingga festival rakyat, dinilai sebagai langkah awal untuk menjembatani komunikasi antara nelayan dan pemangku kebijakan.

Sekretaris Panitia Pelaksana, Dedi Syahputra, mengatakan seminar yang digelar mengangkat tema sinergi kebijakan sebagai upaya mempertemukan berbagai kepentingan.

“Forum ini menjadi ruang terbuka untuk menyampaikan persoalan secara langsung, termasuk dari daerah seperti Bintan,” jelasnya.

Namun demikian, Hasriawady menekankan bahwa forum diskusi harus diikuti dengan langkah nyata yang terukur.

Ia berharap ada tindak lanjut konkret, seperti program bantuan yang tepat sasaran, perlindungan nelayan kecil, serta kebijakan harga yang lebih berpihak.

“Jangan sampai ini hanya menjadi ruang diskusi tanpa hasil. Nelayan butuh solusi, bukan sekadar wacana,” katanya.

Selain seminar, kegiatan festival rakyat yang akan digelar pada 25 April 2026 juga diharapkan mampu memperkuat solidaritas antar nelayan sekaligus menggerakkan ekonomi lokal.

Meski demikian, bagi Hasriawady, esensi utama dari peringatan ini tetap pada perubahan nyata.

“Hari Nelayan harus menjadi momentum perubahan. Kalau tidak ada dampak langsung ke nelayan, maka maknanya akan hilang,” tutupnya. (Wak Lebon)

Comment

gamespools

aceplay99

dewaslot88

slot anti rungkat