Tanjungpinang, suarakepri.com – Fenomena bunuh diri kembali menjadi perhatian serius di Kota Tanjungpinang. Sejak Januari hingga 12 Agustus 2025, tercatat sedikitnya delapan warga mengakhiri hidup. Kasus ini menimbulkan keprihatinan banyak pihak, termasuk kalangan psikolog dan organisasi sosial.
Psikolog Klinis RSUD Bintan, Stefvani Chania, menilai bahwa kasus bunuh diri bukanlah persoalan individu semata, melainkan fenomena sosial yang dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari tekanan psikologis, konflik interpersonal, hingga kesepian. Ia menekankan pentingnya peran keluarga dan lingkungan dalam mengenali tanda-tanda depresi serta memberikan ruang aman bagi anggota keluarga untuk bercerita.
Sementara itu, Ketua Pengurus Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Daerah Kepri, Ika Susanti, SST, MKM, menegaskan bahwa hidup manusia selalu dibingkai dinamika dan perjuangan panjang menuju tujuan hidup. Menurutnya, bunuh diri kerap muncul ketika seseorang merasa berhadapan dengan persoalan yang tidak sanggup diatasi.
“Bunuh diri sejatinya merujuk pada perbuatan memusnahkan diri karena berhadapan dengan suatu perkara yang dianggap tidak bisa ditangani. Pihak manusia itu sendiri menganggap dirinya tidak berguna lagi untuk melanjutkan hidup yang penuh sesak dengan persoalan hidup yang datang silih berganti,” ujarnya, Selasa (19/8/2025).
Ika menekankan, meningkatkan iman dan takwa, serta dukungan penuh dari keluarga merupakan benteng utama dalam mencegah terjadinya tindakan tersebut.
“Tidak ada seorang pun manusia yang terbebas dari penderitaan, meski bentuk dan kadarnya berbeda-beda bagi setiap orang. Maka, keluarga harus menjadi garda terdepan dalam memberikan support agar seseorang tetap memiliki harapan hidup,” tambahnya.
PKBI Kepri juga mendorong masyarakat untuk lebih peduli terhadap kesehatan mental, menciptakan lingkungan yang saling peduli, serta aktif terlibat dalam kegiatan sosial yang menumbuhkan rasa kebersamaan.
Sebagaimana diketahui, sejumlah kasus bunuh diri yang terjadi di Tanjungpinang sepanjang tahun ini melibatkan berbagai kalangan, mulai dari remaja hingga orang dewasa. Para ahli mengingatkan bahwa fenomena ini harus disikapi secara serius dengan melibatkan lintas sektor, mulai dari keluarga, masyarakat, hingga pemerintah daerah.



Comment