
Lingga – Adanya musibah Rakit Pocai yang tenggelam di lautan Sebangka, di Kecamatan Senayang, Kabupaten Lingga, pada hari Selasa (28/2), menimbulkan derita yang mendalam bagi seorang guru bernama Belsa Darmihalti. Guru yang hanya bergaji kecil tersebut dengan relanya harus mempertaruhkan nyawanya hanya untuk mengabdikan diri mendidik para pelajar di daerah terpencil, terpelosok dan kategori Hinterland (tertinggal).
Sebelum kejadian itu, Belsa yang merupakan guru di Madrasah Tsanuwiyah (MTS) Darul Qalam melangkah dengan semangat untuk menuju sekolah tempat ia mendidik pelajar menengah. Meski cuaca pada saat itu dalam keadaan buruk, ia tetap penuh senyum dan semangat melangkahkan kakinya tanpa beban.
Sepanjang jalan, ia bertemu satu persatu siswanya sambil melayangkan senyum sebagai penyemangat bagi pelajar. Beberapa candaan pun ia lakukan agar para pelajar tidak putus asa terhadap cuaca buruk saat itu yang telah berlangsung di Pantai Sebangka.
Dengan tatap penuh harapan, ia menatap sebuah rakit pocai berukuran 3 x 2 meter tersebut agar dapat membawa mereka ke seberang dimana MTS Darul Qalam terletak.
Tetapi belum begitu jauh jangkauan perahu jenis rakit itu membawa mereka, angin kencang bagaikan badai langsung menerpa perahu hingga menenggelamkan mereka di laut Sebangka tersebut.
Beruntung perahu tersebut tidak begitu jauh dari bibir pantai Sebangka dan para pelajar tersebut memiliki keahlian berenang. Sehingga mereka dapat menjangkau daratan itu penuh harapan agar dapat selamat dengan menggunakan kedua tangan dan kakinya. Tanpa memperdulikan lagi barang bawaan atau pun tujuan mereka sebelumnya, yang ada hanya sebuah harapan agar dapat selamat dari musibah yang tidak mereka harapkan.
Sementara Belsa sendiri mengaku dirinya tidak begitu pandai berenang, tetapi semangatnya untuk mendidik dan membuat orang menjadi pintar itulah penyemangatnya agar memiliki harapan untuk selamat.
Derita kami hari ini…..
Adakah yg peduli….????
Pada pendidikan anak2 kami….???
Begitulah curhatan yang disampaikan oleh Belsa di akun Facebooknya, bahkan dari statusnya ini, banyak para netizen memberikan keprihatinan dan apresiasi buat Belsa.
Meski ia selamat, Belsa bersama muridnya harus menahan rasa dingin dari angin kencing yang menembus pori-pori tubuhnya akibat kuyub dibasahi air laut dan hujan. Tidak hanya dirinya, belasan murid MTS Darul Qalam lainnya juga merasakan dinginnya yang tak terhingga hingga ke tulang mereka.
Dengan adanya musibah ini, mereka berharapan agar masyarakat dapat memberikan perhatian khusus terhadap mereka maupun daerah-daerah yang senasib dengan mereka.
Dalam benak mereka apakah pemerintah juga terpanggil dan tergerak untuk segera membenahi transportasi mapun sarana prasarana penunjang pendidikan daerah yang masin minim perhatian, sehingga kejadian ini tidak terjadi lagi atau menimbulkan korban.
[sk]







Comment