Tanjungpinang, suarakepri.mom — Pengalaman panjang di industri musik nasional mengantarkan Teguh Diswanto, eks gitaris band Tiket, menjadi salah satu juri dalam lomba karaoke anak-anak yang digelar Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Tanjungpinang, Sabtu (10/10/2026) malam, di Mall Ramayana Tanjungpinang.
Kehadiran musisi asal Tanjungpinang tersebut menjadi daya tarik tersendiri dalam rangkaian peringatan Hari Tani Nasional. Bukan hanya dikenal melalui kiprahnya bersama band Tiket, Teguh juga memiliki rekam jejak sebagai pencipta lagu, komposer, arranger, dan produser musik yang telah berkarya di industri musik Indonesia.
Namanya tercatat dalam perjalanan awal band Tiket yang merilis album perdana bertajuk Tiket pada 2001 dan album Sebuah Anugerah pada 2003. Setelah meninggalkan band tersebut pada 2003, Teguh tetap menekuni dunia musik dan mengembangkan kiprahnya sebagai pencipta serta penggarap lagu. Sejumlah karyanya pernah dibawakan penyanyi nasional, di antaranya Ari Lasso, Judika, dan Bunga Citra Lestari.
Pengalaman tersebut menjadi latar belakang menarik atas keterlibatan Teguh dalam ajang pencarian bakat tingkat anak-anak di kampung halamannya. Kali ini, panggung yang dihadapinya bukan konser musik berskala nasional, melainkan arena bagi anak-anak untuk memperlihatkan kemampuan vokal, keberanian, dan kepercayaan diri.
Sebanyak 20 peserta berusia 6 hingga 13 tahun mengikuti perlombaan tersebut. Mereka tampil dengan karakter suara dan kemampuan masing-masing, menghadirkan persaingan yang meriah sekaligus membuka ruang bagi tumbuhnya minat dan bakat di bidang seni tarik suara.
Penilaian dilakukan oleh Teguh bersama dewan juri lainnya. Selain penilaian juri, pilihan penonton juga menjadi bagian dari rangkaian kompetisi hingga penetapan pemenang.
Sekretaris Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Tanjungpinang, Syahri Dharma Putra mewakili panitia, mengatakan lomba karaoke anak dirancang bukan semata-mata untuk mencari pemenang, melainkan memberikan kesempatan kepada anak-anak agar berani tampil di hadapan publik dan memperoleh pengalaman berkompetisi sejak dini.
Menurutnya, keterlibatan juri yang memiliki pengalaman di industri musik menjadi bagian penting dalam pelaksanaan kegiatan tersebut. Masukan dari dewan juri juga menjadi bahan evaluasi untuk meningkatkan kualitas penyelenggaraan pada kesempatan berikutnya.
“Ke depan, kita berencana memecah kompetisi ini menjadi dua kategori, yaitu kategori usia 5 hingga 9 tahun, serta kelompok usia 10 hingga 14 tahun,” ujarnya.
Pembagian kategori itu diharapkan membuat persaingan lebih seimbang, mengingat kemampuan dan perkembangan anak pada setiap rentang usia dapat berbeda. Dengan begitu, setiap peserta memiliki kesempatan yang lebih proporsional untuk menunjukkan potensi terbaiknya.
Dirinya juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh peserta yang telah berani tampil, termasuk mereka yang belum berhasil meraih juara. Ia berharap pengalaman mengikuti perlombaan dapat menjadi motivasi bagi anak-anak untuk terus berlatih dan mengembangkan bakat.
Bagi HKTI Tanjungpinang, kegiatan ini menjadi bagian dari upaya menghadirkan peringatan Hari Tani Nasional yang tidak hanya berfokus pada sektor pertanian dan ketahanan pangan, tetapi juga memberi ruang bagi kegiatan sosial, hiburan, serta pengembangan kreativitas masyarakat.
Kehadiran Teguh Diswanto turut memberi warna tersendiri dalam kegiatan tersebut. Kiprahnya di dunia musik nasional yang berawal dari Tanjungpinang menjadi pengingat bahwa potensi daerah dapat berkembang hingga menjangkau panggung yang lebih luas, sekaligus membuka inspirasi bagi generasi muda untuk berani menekuni bidang yang mereka minati.






Comment