Tanjungpinang, suarakepri.com — Kabut asap kembali menyelimuti Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau, Selasa (29/9/2026). Kondisi ini terjadi meski hujan sempat mengguyur Tanjungpinang dan Bintan dalam dua hari terakhir belum serta-merta membuat kualitas udara kembali normal.
Kualitas udara yang memburuk berdampak langsung terhadap aktivitas masyarakat. Pemerintah mengambil langkah antisipasi dengan kembali menerapkan kebijakan belajar dari rumah (BDR), sementara jarak pandang yang menurun turut meningkatkan kewaspadaan terhadap aktivitas transportasi udara.
Data pemantauan menunjukkan indeks kualitas udara Tanjungpinang mencapai 165 AQI US atau masuk kategori tidak sehat. Konsentrasi PM2.5 saat itu tercatat sekitar 70,39 mikrogram per meter kubik.
Kondisi tersebut bukan semata-mata akibat cuaca lokal. BMKG Stasiun Meteorologi Hang Nadim Batam menyebut satelit masih mendeteksi sebaran asap dipengaruhi pergerakan angin dari arah tenggara hingga selatan yang membawa asap dari wilayah Sumatera dan Kalimantan yang masuk ke Kepulauan Riau.
“Berdasarkan alat pengamatan cuaca yang terpasang di beberapa wilayah Kepulauan Riau, sebaran kabut asap terpantau mulai terjadi sejak pagi hari pukul 09.00 WIB,” kata Prakirawan BMKG Tanjungpinang Muhammad Fadris Dwiandoko.
Dampak terhadap dunia pendidikan pun kembali terasa. Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau memberlakukan BDR bagi siswa SMA, SMK, dan SLB mulai 29 September 2026 hingga kondisi kualitas udara membaik dan dinyatakan aman.
“Belajar dari rumah dimulai 29 September 2026, sampai kondisi kualitas udara membaik dan dinyatakan aman,” kata Sekretaris Daerah Provinsi Kepri Misni.
Kebijakan tersebut diberlakukan sebagai langkah perlindungan terhadap kesehatan dan keselamatan warga sekolah. Pemprov Kepri menyebut kondisi udara berdasarkan laporan indeks kualitas udara Dinas Lingkungan Hidup kabupaten/kota telah masuk kategori tidak sehat dan berpotensi meningkatkan risiko gangguan kesehatan, termasuk infeksi saluran pernapasan akut (ISPA).
Kabut asap juga menjadi persoalan bagi sektor transportasi. Sehari sebelumnya, jarak pandang di Tanjungpinang dilaporkan berada pada kisaran 1 hingga 2,5 kilometer. Kondisi visibility tersebut berpotensi mengganggu operasional penerbangan apabila jarak pandang semakin menurun.
Kondisi ini menjadi perhatian karena Bandara Internasional Raja Haji Fisabilillah merupakan salah satu pintu mobilitas udara utama di Pulau Bintan. Pengelola bandara sebelumnya telah menyatakan koordinasi dengan BMKG dan AirNav dilakukan untuk memantau perubahan cuaca, arah angin, serta jarak pandang sebagai bagian dari mitigasi gangguan penerbangan akibat asap.
Di sisi kesehatan, Dinas Kesehatan Provinsi Kepri meminta masyarakat mengurangi aktivitas di luar rumah apabila tidak ada keperluan mendesak, terutama kelompok rentan seperti anak-anak dan lanjut usia.
“Waspadai kondisi kualitas udara saat ini, terutama di wilayah Tanjungpinang, Bintan, Lingga, dan Batam,” kata Plt Kepala Dinkes Kepri Mohammad Bisri.
Bisri juga mengingatkan masyarakat menggunakan masker ketika harus beraktivitas di luar rumah. Menurutnya, paparan kabut asap dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan, termasuk ISPA.
BMKG memperkirakan kondisi udara kabur masih berpotensi terjadi di Tanjungpinang dan sejumlah wilayah Kepri. Untuk Tanjungpinang pada 29–30 September, cuaca diprakirakan masih diselingi hujan ringan, namun keberadaan hujan tidak serta-merta mengakhiri persoalan kabut asap selama sumber asap dan pola angin masih mendukung masuknya polutan ke wilayah Kepri.


Comment