Tanjungpinang, SuaraKepri.com – Antrian panjang yang terjadi di sejumlah SPBU di Tanjungpinang dan Bintan sejak Kamis, 5 September 2024, menarik perhatian publik dan menjadi sorotan setelah Rudy Chua, anggota DPRD Provinsi Kepulauan Riau, memposting pernyataan di media sosialnya mengenai penyebab dan solusi dari masalah tersebut.
Menurut Rudy, antrian massal ini disebabkan oleh kerusakan Solenoid Valve pada dispenser Pertalite di hampir semua SPBU di wilayah Pulau Bintan, termasuk Tanjungpinang. Kerusakan tersebut diklaim terjadi secara bersamaan dan hanya menimpa dispenser Pertalite, sementara dispenser untuk BBM jenis lain seperti Pertamax, Dexlite, dan Solar tidak mengalami gangguan. Rudy juga menekankan bahwa tidak ada pengurangan kuota BBM Pertalite di wilayah ini, dan meminta warga untuk tidak panik.
Merespons isu ini, Bagus Handoko, Sales Manager Pertamina Ritel Kepri di Tanjungpinang memberikan klarifikasi penting dalam wawancara eksklusif, Rabu pagi (11/09) di Radio Republik Indonesia Tanjungpinang. Pihak Pertamina menyangkal adanya unsur kesengajaan atau konspirasi dalam kerusakan tersebut. Mereka menjelaskan bahwa kerusakan solenoid valve adalah kendala teknis yang sedang diinvestigasi lebih lanjut oleh tim khusus. Selain itu, hasil pemeriksaan laboratorium terhadap kualitas BBM jenis Pertalite menunjukkan bahwa BBM yang didistribusikan masih sesuai dengan spesifikasi standar, menghilangkan dugaan bahwa kualitas bahan bakar menjadi penyebab kerusakan.
Dalam wawancara yang sama, Bagus juga memberikan informasi terbaru mengenai implementasi QR Code sebagai bagian dari upaya penyaluran BBM bersubsidi yang lebih tepat sasaran. Kepulauan Riau, termasuk Tanjungpinang dan Bintan, telah menjadi salah satu dari 14 provinsi di Indonesia yang menjadi lokasi implementasi tahap pertama penerapan QR Code. Sistem ini diterapkan untuk kendaraan roda empat dan bertujuan untuk memastikan setiap transaksi BBM bersubsidi tercatat dengan baik, sesuai dengan regulasi BPH Migas. Sementara itu, kendaraan roda dua masih diberikan kelonggaran dan belum diwajibkan menggunakan QR Code.
“Untuk roda dua masih menggunakan global QR yang dari operator, artinya QR yang sama untuk semua jenis kendaraan roda dua, karena tetap harus ada pencatatan BBM bersubsidi yang keluar untuk pertanggungjawaban kami sebagai operator kepada pemilik regulasi dalam hal ini adalah BPH Migas,” ujarnya.
Lebih lanjut, Bagus juga menjelaskan bahwa aplikasi MyPertamina kini telah dilengkapi dengan berbagai fitur, termasuk pembayaran non-tunai dan program “Subsidi Tepat” yang bertujuan untuk memantau dan memastikan subsidi BBM diterima oleh pihak yang benar-benar membutuhkan. Langkah ini merupakan bagian dari upaya pemerintah untuk menjaga keberlanjutan subsidi BBM yang merupakan beban bagi APBN.
Bagus berharap agar masyarakat tidak panik dan tetap tenang karena masalah teknis ini sedang ditangani dengan serius dan saat ini sudah mulai berangsur normal. Diharapkan, dengan adanya investigasi mendalam dan pengawasan ketat terhadap kualitas BBM, masalah ini dapat diselesaikan dalam waktu dekat sehingga antrian panjang di SPBU tidak lagi terjadi.

Comment