Tanjungpinang, suarakepri.com – Program Studi Diploma III Keperawatan Poltekkes Kemenkes Tanjungpinang bekerja sama dengan Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Kepulauan Riau menggelar Pelatihan Pendamping Minum Obat (PMO) bagi pasien Tuberkulosis Paru Resistensi Obat (TB RO), di Aula UPTD Puskesmas Batu X, Kota Tanjungpinang, pada 17–18 Juli 2026.
Pelatihan yang merupakan bagian dari kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) ini diikuti 20 Pendamping Minum Obat (PMO) dari wilayah kerja puskesmas dan jejaring Program Tuberkulosis. Kegiatan bertujuan meningkatkan kapasitas PMO dalam mendampingi pasien TB RO agar tetap patuh menjalani pengobatan hingga tuntas.
Ketua Tim Pengabdian kepada Masyarakat, Ns. Meisa Daniati, M.Kep., mengatakan bahwa pendamping memiliki peran strategis dalam mendukung keberhasilan terapi pasien TB RO yang membutuhkan pengobatan lebih lama dan kompleks dibandingkan TB sensitif obat.
“PMO tidak hanya bertugas mengawasi konsumsi obat, tetapi juga menjadi motivator dan pendamping bagi pasien selama menjalani proses pengobatan. Karena itu, peningkatan kompetensi pendamping menjadi bagian penting dalam mendukung keberhasilan terapi,” ujarnya.
Tim Pengabdian kepada Masyarakat terdiri atas Ns. Meisa Daniati, M.Kep. sebagai ketua, Romalina, S.Kep., Ners., M.Kep. dan Ns. Yas Suryani, S.Kep. sebagai anggota, serta didukung enam mahasiswa Prodi DIII Keperawatan Poltekkes Kemenkes Tanjungpinang.
Pada hari pertama, peserta memperoleh materi mengenai konsep dasar Tuberkulosis Paru Resistensi Obat, peran Pendamping Minum Obat, serta tata laksana pengobatan pasien TB RO. Materi disampaikan secara interaktif sehingga peserta dapat memahami berbagai tantangan yang dihadapi pasien selama menjalani terapi.
Hari kedua difokuskan pada peningkatan kemampuan komunikasi efektif yang disampaikan oleh Romalina, S.Kep., Ners., M.Kep. Selain pemaparan materi, peserta mengikuti praktik dan simulasi komunikasi untuk meningkatkan keterampilan membangun hubungan dengan pasien, memberikan motivasi, serta menghadapi berbagai kendala yang muncul selama proses pendampingan.
Selama pelatihan berlangsung, peserta terlihat antusias mengikuti seluruh rangkaian kegiatan. Diskusi kelompok, simulasi, dan sesi berbagi pengalaman menjadi ruang bagi para PMO untuk saling bertukar pengetahuan mengenai berbagai permasalahan yang ditemui di lapangan.
Sebagai penutup, Ketua Tim Pengabdian menyerahkan buku edukasi Tuberkulosis Paru Resistensi Obat dan Komunikasi Efektif kepada PMEL Program TB SSR PKBI Kepulauan Riau, Septi Nurul Parida, S.Psi. Buku tersebut diharapkan menjadi media edukasi yang dapat dimanfaatkan dalam kegiatan pendampingan pasien di masyarakat.
Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan penyampaian kesan dan pesan oleh tiga perwakilan peserta, yakni Nani, Farida, dan Maisa. Mereka mengapresiasi pelatihan tersebut karena memberikan tambahan wawasan dan keterampilan yang dapat langsung diterapkan saat mendampingi pasien TB RO.
Melalui kegiatan ini, Poltekkes Kemenkes Tanjungpinang berharap kompetensi Pendamping Minum Obat semakin meningkat sehingga mampu mendukung kepatuhan pasien menjalani pengobatan, meningkatkan angka keberhasilan terapi, serta memperkuat upaya eliminasi Tuberkulosis di Provinsi Kepulauan Riau.
Kolaborasi antara institusi pendidikan, fasilitas pelayanan kesehatan, dan PKBI Kepulauan Riau diharapkan terus berlanjut sebagai bagian dari penguatan pelayanan kesehatan masyarakat dalam mendukung target Indonesia bebas Tuberkulosis.







Comment